'Aku' Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Sewaktu kaki kecilku melangkah di taman kanak-kanak (TK), aku yang hanya bermodalkan suara lantang ditambah mikrofon yang membuat sekujur tubuh mungilku bergetar, sukses menjadi bahan tertawaan oleh para orang tua dan tamu undangan di acara perpisahan angkatanku. Ya, aku yang kebagian tugas membaca pidato perpisahan kelimpungan ketika aku tiba-tiba lupa teks yang akan dibaca dan selanjutnya aku mulai berpidato tak beraturan. Tapi kata ayahku, “Tak apa apalah, yang penting sudah dicoba”.
Sewaktu Sekolah Dasar (SD) aku suka sekali mengangkat tangan ketika ibu atau bapak guru menanyakan sesuatu kepada kami murid lugu waktu itu. Kadang aku menjawab dengan benar dan sering kali aku menjawab pertanyaan yang kurang tepat. Namun, entah kenapa adrenalinku untuk berbicara selalu saja mendominasi diri ini untuk mengangkat tangan walaupun jawabannya aku tak tahu. Dan sering kali aku menjadi bahan tertawa teman-teman SD waktu itu. Tapi kata mamahku, “Itulah kehebatanmu, yang penting maju”.
Sewaktu aku duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku suka sekali dengan teman-temanku di kelas 8 E. Bukan karena unggulan, tetapi karena mereka mengajakku selalu aktif berbicara dalam setiap pelajaran. Waktu itu sekolahku memang sedang menerapkan metode belajar baru, dengan cara tak hanya mengajar dengan satu arah, yaitu guru hanya mentransfer ilmu kepada murid. Tetapi, kami dipancing untuk mencari tahu dan aktif berbicara tentang permasalahan dalam pelajaran yang ada. Kata sahabatku, “Kau selalu saja ingin tahu”.
Sewaktu aku menimba ilmu di pesantren, aku suka sekali mengajukan pertanyaan. Entah di acara formal atau non formal, digabung putra dan putri ataupun tidak. Bahkan, pernah suatu saat aku maju saat upacara dan melantunkan ayat suci yang ternyata salah. Kata Guru favoritku, “Tak apa, berani maju saja sudah punya nilai lebih. Masalah salah, bisa diperbaiki. Karena keberanian itu dilatih”.
Rangkaian perjalanan hidup yang ku lalui mulai merajut perlahan mimpiku. Aku ingin menjadi seorang wanita di balik layar kaca penyiar radio. Menyapa para pendengar, mendengarkan keluh kesah mereka, permintaan mereka, memberikan solusi yang bisa ku tawarkan, mendapat banyak teman dan pengalaman, dan sebagainya.
Lalu, akupun berani memilih Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) yang telah lama membuat hati ini tergelitik ingin jauh menyelidik. Apa saja yang akan aku pelajari ketika menjadi mahasiswi FISIP ? Bagaimana metode komunikasi yang baik dan mudah diterima ketika kita berinteraksi dengan masyarakat ? Dimana letak kelebihan para mahasiswa FISIP dibanding mahasiswa fakultas lainnya ? Siapa saja pakar yang berkecimpung dan terkenal akan keahliannya dalam dunia ilmu sosial, politik, komunikasi, dan sebagainya ? Mengapa ilmu sosial dikaitkan dengan ilmu politik, apa korelasinya ? Berapa besar kontribusi yang bisa kita implementasikan untuk diri sendiri, masyarakat bahkan agama yang kita percaya setelah menjadi sarjana FISIP ? Apakah dengan memilih FISIP aku dapat belajar lebih jauh tentang ilmu teknologi, komunikasi bahkan jurnalistik juga ? Dan, berbagai pertanyaan lainnya datang menghampiri pikiranku.
Ya, kini aku duduk di bangku jajaran mahasiswa/i dengan tingkat keberanian tinggi berbicara di depan publik. Jurusan komunikasi tertera dalam kartu mahasiswiku. Di kelas kami aktif membahas tajuk yang sedang berkecamuk riuh di negeri yang boleh ku bilang sebagian ‘penduduknya’ maruk terhadap uang rakyat yang ujung-ujungnya hanya dipakai untuk ria bermabuk. Setiap mata kuliah baik itu pendidikan pancasila bahkan agama, dosen kami selalu tak ingin kalah berkomentar tentang materi yang tertera di silabus. Bukan hanya karena ingin memenuhi tiap SKS mata kuliah, tapi karena beliau para dosen yang percaya bahwa semangat anak muda mampu meredam setiap perpecahan yang ada melalui komunikasi yang terjalin diantara sesama manusia.
Tak hanya di kelas yang membuat kami sibuk membuat makalah tentang ilmu budaya dasar ataupun berkutat dengan mata kuliah keahlian seperti radio, sejarah media massa, produksi televisi dan sebagainya. Tapi, kami juga mengelap peluh lelah namun puas terhadap organisasi yang kami galakkan guna menampung ide, kreatifitas yang tertanam dalam jiwa muda kami sebagai mahasiswa. Kadang kami berkumpul di kafe sekedar rapat membicarakan acara training leadership untuk para siswa SD, SMP, dan SMA, rohis setiap hari Jum’at, festival musik dan drama musikal antar fakultas , seminar dengan para pakar sosial, politik, komunikasi bahkan agama dan lain sebagainya.
Dan, kini aku terduduk dengan rasa kantuk mulai tertumpuk di pelupuk mataku...
“Rahmi, dah Ashar kalau dah ngantuk, mau tidur, enakkan abis Shalat biar tenang”
Kairo, Madinat El-Bu’uts
14:08 Clt

0 komentar:
Posting Komentar