Disebelah sana, di Negeri “Paman Sam” bukan main, bukan main gegap
gempitanya rakyat yang beseru bahwa LGBT (Lesbian, Gay Biseksual dan Transgender)
telah disahkan di seluruh Amerika Serikat. Bisa jadi, semboyan “Hiduplah kemerdekaan,
persamaan dan persaudaraan!”, “hiduplah Liberté, égalité dan fraternité!”
dalam bahasa Perancis ini, dikumandangan dengan keberanian seperti meriam yang
lepas dari senapannya. Semboyan “Love Wins” bak gemerlap kembang api
diluncurkan ke langit, pertanda riuh kemenangan telah bangkit.
Disebelah sini, di Negeri “Macan Asia yang Tertidur” gerakan
eksklusif kaum puritan (kaum yang merasa paling suci) gempar sekali lagi!
Gempar karena mendengar semboyan kaum yang menyuarakan “Islam Nusantara” yaitu,
islam yang bersifat terbuka dan toleran terhadap ajaran agama lain dan budaya
keindonesiaan. Dan mereka gempar, maha gempar tatkala menyimpulkan bahwa
manuver kelompok yang menyusung semboyan ini tak lebih untuk menyajikan
sekulerisme dalam kemasan baru dan juga menyingkirkan Arab sentris.
Sana mau kesana, sini mau kesini. Begitulah kurang lebih gambaran
pertentangan antar suatu golongan. Ini bukan lagi siapa yang mendukung LGBT
atau menolak ide Islam Nusantara. Tulisan ini bukan untuk memihak. Ya, rubrik
kolom ini berisi tulisan bebas dengan tema bebas namun, sepaket dengan tanggung
jawabnya. Kebebasan berbanding lurus dengan tanggung jawab bukan? Semakin besar
kebebasan yang kita lakukan, semakin besar pula tanggung jawab yang diberikan.
Begitu pula seharusnya manusia. Terlebih, manusia-yang
katanya-beragama. Namun realitanya, sebagian mereka yang beragama terkadang
melantangkan kebebasan namun menafikan tanggung jawab yang dibebankan. Merasa
bebas untuk bersuara, mengemukakan pendapat, selalu merasa dirinya paling
tepat. Tak jarang apa yang dikatakan ternyata bisa menyakitkan bagi yang
mendengarkan. Tak bertanggung jawab meminta maaf, mereka bersi keras bahwa yang
tersakiti, yang seharusnya sadar diri.
Padahal, apa yang diyakini masing individu bisa jadi berbeda dengan
yang lainnya. Maka lahirlah dua kubu yang berbeda, saling tolak-menolak. Sebelah
sana menyuarakan kebenaran, sebelah sini menganggap yang disana punya banyak
kesalahan. Tak cukup disitu. Sebagian dari mereka yang beragama terkadang selalu
mengoreksi, tapi tak mau dikoreksi. Selalu mengawasi, tapi tak mau diawasi.
Selalu mengatur, tapi tak mau diatur. Mungkin hal-hal seperti itulah yang bisa
membuat agama mereka hancur, mungkin.
Perang media massa, elektronik bahkan sosial tidak dapat
dihindarkan. Mau tidak mau terjadi ‘perang saudara’ dalam agama yang sama.
Mungkin inilah sebab kelebihan penduduk atheis dari penduduk-yang katanya-beragama.
Mereka merasa aman di tengah-tengah penduduk tanpa iman, sementara yang
beragama merasa tidak nyaman berada di anatara mereka yang (mengaku) beriman.
Mengkrucut kepada mereka yang beragama, acap kali mereka berdakwah
ataupun berdiskusi dengan memaparkan kesalahan golongan yang mereka anggap
menyimpang dari kebenaran. Bagi sebagian mereka yang mencari kebenaran, forum
disana diikuti, forum disini disimaki. Namun terkadang terjadi pergolakan hati
tatkala kedua forum malah saling menghakimi dikarenakan berbeda sudut pandang.
Keduanya beranggapan mengungkapkan kebenaran namun yang terdengar adalah saling
merendahkan.
Teringat perkataan Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar yang kurang
lebih mengungkapkan bahwa antara ghibah dan nasihat itu beda tipis. Wajib
bagi kita untuk memaparkan kesalahan sebagai nasihat. Namun, apabila kita memberi
nasihat dengan memaparkan kesalahan golongan yang berbeda dengan kita menggunakan
redaksi yang merendahkan (mengolok), bisa jadi itu merupakan ghibah maka
hukumnya menjadi haram.
Inilah dunia dengan anomalinya. Hal yang tidak sesuai dengan
seharusnya terjadi. Seharusnya mereka yang mengimani Tuhan yang sama hidup
saling rukun, damai tentram dan bahagia. Ternyata yang ada malah saling
caci-maki membela kepentingan yang berbeda. Saling ingin mendapatkan prestise
di mata dunia, mereka tidak mau di cela.
Kalau kata penulis Azhar Nurun Ala,“Dunia semakin pintar
menggoda, kita semakin mudah dirayu.” Ya, kurang lebih begitulah tipu
muslihat dunia yang membuat kita ingin menjadi jagoan, pahlawan kebenaran namun
ternyata kita sedang menapaki jalan
kesesatan. Bukan begitu? Wallahu’alam.
0 komentar:
Posting Komentar