Minggu, 27 September 2015

Dilema yang ‘Beragama’


Disebelah sana, di Negeri “Paman Sam” bukan main, bukan main gegap gempitanya rakyat yang beseru bahwa LGBT (Lesbian, Gay Biseksual dan Transgender) telah disahkan di seluruh Amerika Serikat. Bisa jadi, semboyan “Hiduplah kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan!”, “hiduplah Liberté, égalité dan fraternité!” dalam bahasa Perancis ini, dikumandangan dengan keberanian seperti meriam yang lepas dari senapannya. Semboyan “Love Wins” bak gemerlap kembang api diluncurkan ke langit, pertanda riuh kemenangan telah bangkit.

Disebelah sini, di Negeri “Macan Asia yang Tertidur” gerakan eksklusif kaum puritan (kaum yang merasa paling suci) gempar sekali lagi! Gempar karena mendengar semboyan kaum yang menyuarakan “Islam Nusantara” yaitu, islam yang bersifat terbuka dan toleran terhadap ajaran agama lain dan budaya keindonesiaan. Dan mereka gempar, maha gempar tatkala menyimpulkan bahwa manuver kelompok yang menyusung semboyan ini tak lebih untuk menyajikan sekulerisme dalam kemasan baru dan juga menyingkirkan Arab sentris.

Sana mau kesana, sini mau kesini. Begitulah kurang lebih gambaran pertentangan antar suatu golongan. Ini bukan lagi siapa yang mendukung LGBT atau menolak ide Islam Nusantara. Tulisan ini bukan untuk memihak. Ya, rubrik kolom ini berisi tulisan bebas dengan tema bebas namun, sepaket dengan tanggung jawabnya. Kebebasan berbanding lurus dengan tanggung jawab bukan? Semakin besar kebebasan yang kita lakukan, semakin besar pula tanggung jawab yang diberikan.

Begitu pula seharusnya manusia. Terlebih, manusia-yang katanya-beragama. Namun realitanya, sebagian mereka yang beragama terkadang melantangkan kebebasan namun menafikan tanggung jawab yang dibebankan. Merasa bebas untuk bersuara, mengemukakan pendapat, selalu merasa dirinya paling tepat. Tak jarang apa yang dikatakan ternyata bisa menyakitkan bagi yang mendengarkan. Tak bertanggung jawab meminta maaf, mereka bersi keras bahwa yang tersakiti, yang seharusnya sadar diri.

Padahal, apa yang diyakini masing individu bisa jadi berbeda dengan yang lainnya. Maka lahirlah dua kubu yang berbeda, saling tolak-menolak. Sebelah sana menyuarakan kebenaran, sebelah sini menganggap yang disana punya banyak kesalahan. Tak cukup disitu. Sebagian dari mereka yang beragama terkadang selalu mengoreksi, tapi tak mau dikoreksi. Selalu mengawasi, tapi tak mau diawasi. Selalu mengatur, tapi tak mau diatur. Mungkin hal-hal seperti itulah yang bisa membuat agama mereka hancur, mungkin.

Perang media massa, elektronik bahkan sosial tidak dapat dihindarkan. Mau tidak mau terjadi ‘perang saudara’ dalam agama yang sama. Mungkin inilah sebab kelebihan penduduk atheis dari penduduk-yang katanya-beragama. Mereka merasa aman di tengah-tengah penduduk tanpa iman, sementara yang beragama merasa tidak nyaman berada di anatara mereka yang (mengaku) beriman.

Mengkrucut kepada mereka yang beragama, acap kali mereka berdakwah ataupun berdiskusi dengan memaparkan kesalahan golongan yang mereka anggap menyimpang dari kebenaran. Bagi sebagian mereka yang mencari kebenaran, forum disana diikuti, forum disini disimaki. Namun terkadang terjadi pergolakan hati tatkala kedua forum malah saling menghakimi dikarenakan berbeda sudut pandang. Keduanya beranggapan mengungkapkan kebenaran namun yang terdengar adalah saling merendahkan.

Teringat perkataan Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar yang kurang lebih mengungkapkan bahwa antara ghibah dan nasihat itu beda tipis. Wajib bagi kita untuk memaparkan kesalahan sebagai nasihat. Namun, apabila kita memberi nasihat dengan memaparkan kesalahan golongan yang berbeda dengan kita menggunakan redaksi yang merendahkan (mengolok), bisa jadi itu merupakan ghibah maka hukumnya menjadi haram.

Inilah dunia dengan anomalinya. Hal yang tidak sesuai dengan seharusnya terjadi. Seharusnya mereka yang mengimani Tuhan yang sama hidup saling rukun, damai tentram dan bahagia. Ternyata yang ada malah saling caci-maki membela kepentingan yang berbeda. Saling ingin mendapatkan prestise di mata dunia, mereka tidak mau di cela.

Kalau kata penulis Azhar Nurun Ala,“Dunia semakin pintar menggoda, kita semakin mudah dirayu.” Ya, kurang lebih begitulah tipu muslihat dunia yang membuat kita ingin menjadi jagoan, pahlawan kebenaran namun ternyata  kita sedang menapaki jalan kesesatan. Bukan begitu? Wallahu’alam.

0 komentar:

Posting Komentar