(Aku, Atum dan Mala)
Lalu kapankah kita bisa bersama kembali ?
Pertanyaan ini menghampiri diri
ketika menatap foto kita bertiga saat kelas lima TMI Darunnajah Ulujami
Jakarta. Tahun 2013 bersama kelas MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan), kala itu
pertemanan kita mulai semakin dekat .
Rodliatum Mardiyah Al-Hadi, gadis
Palembang dengan senyum manis dan otak cerdas, tak luput pula sifat
kekanak-kanakannya yang khas, selalu membuat mata ini terpukau oleh kecepatan
nalarnya dan mulut ini mengaduh ketika terkena candaan pukulannya yang ganas.
Hal paling unik dari dirinya adalah tak mudah untuk menyentuhnya karena kita,
siapapun itu, akan siap-siap terkena pukulannya.
Hamalatul Qur’ani, gadis minang nan
intelek dengan sifat optimis dan pemikirannya yang melangit, segala ambisi dan
motivasi diri membuat dirinya terlihat percaya diri. Hati ini selalu kagum
tatkala melihat jajaran prestasinya, sama seperti Atum (panggilan untuk
Rodliatum) menurutku, Mala (panggilan untuk Mala) mempunyai senyum yang manis
mampu menarik perhatian kaum adam yang memperhatikannya.
Sementara aku, Rakhmi Vegi
Arizka, gadis sunda namun mempunyai
darah Sumatera seperti mereka yaitu Medan. Aku hanyalah diri dengan segala
usaha, doa dan keterbatasan maka Alloh berikan penghargaan berupa keberuntungan.
Ya, aku hanya diri yang sebenarnya penuh kekurangan. Oke, aku tak mau membahas
diri ini lebih lanjut karena kembali aku ingin meluapkan kerinduan kepada
mereka berdua, Atum dan Mala :’)
Cerita ini adalah ingatan yang
menurutku spesial dengan kalian, ya ini persepsiku, persepsi kalian ? aku tak
tahu.
Berawal ketika kita pertama kali
dipertemukan, di kelas MAK bersama wali kelas Ustadz Kadhafi Hamdie yang sangat
menginspirasi. Kita yang duduk berpisah-pisah aku di kursi terdepan, Mala dan
Atum di kursi yang tak sama. Bahkan kita jarang sekali bertegur sapa, hanya
sekedarnya. Namun, melalui benda matilah yang membuat pertemanan kita hidup.
Ya, buku pelajaran yang kita saling diskusikan kala ujian, sadar tak sadar kita
terlihat asik bersama membahas materi yang ada. Namun itu baru awal, ya,
ilmulah yang menjadi titik awal pertemanan kita.
Tengah kita menduduki bangku kelas
lima, Mala dan Atum terlihat lebih sering bersama. Ya, aku di tengah-tengah
mereka. Aku memang lebih suka seperti itu, karena belum kudapati sahabat yang
benar-benar melekat. Mungkin karena
sifatku yang tidak terlalu mau terlalu dekat spesifik hanya kepada seseorang.
Aku lebih suka membaur, ke kanan iya, ke kiri iya. Di Pondokku, ada saja
golongan-golongan bahkan genk-genk yang me-labeli-sasi kelompok mereka bak
sahabat sejati. Aku tidak bisa seperti itu, karena menurutku dalam dunia yang
penuh ke-fana-an ini semuanya hanya semu. Bukan aku pesimis, namun aku tahu
persis bagaimana dunia ini penuh kebohongan manis sehingga berujung tangis. Pun
demikian ketika aku nantinya mengklaim ikut terhadap suatu kelompok, genk atau
apalah, aku hanya takut diri ini menjadi rasis, itu saja.
Berada di tengah-tengah itu
menyenangkan, aku dekat dengan teman mantan Intensif ataupun yang dari awal
mereka belajar di pondok ini bahkan yang baru, sebut saja golongan itu (Manex,
Mantig dan Marba) sebenarnya lucu dan ada-ada saja penamaan kelompok seperti
itu. Tapi menurutku, itulah bumbu kenikmatan dalam pertemanan di kehidupan
Pondok Pesantren yang berdiri di tengah hiruk-pikuk keramaian.
Di bawah didikan Ustadz Romli
Djawahir, kita kelas lima MAK ditempa bak pencari ilmu yang memang harus lelah
untuk mendapatkan kata najah menuju kelas nihaiyah. Tak maksud
membuat diri ini mutakabbiroh kepada kalian yang sempat membaca, hanya
ingin berbagi ibroh ketika pertemanan kami memang menghidupkan
persaingan sehat di kelas lima. Karena semangat kami mencari ilmu mengepul
menjadi satu, peringkat kelas kami pun sering beradu bukan untuk menjadi nomer
satu, namun menjadi pribadi yang tawadhu sebagai identitas pencari ilmu.
Aku di peringkat ke satu, Atum diperingkat ke dua, Mala di peringkat ke tiga.
Kejadian yang membuat perasaan ini
haru biru ketika kita sama sama melihat raport di mesjid bawah. Bersama kita
melihat nilai-nilai hasil jerih payah atas mulut kami yang komat-kamit
menghapal, jemari kami yang tak kenal lelah menghitung matematika, diskusi kami
yang membuat materi yang tadinya susah menjadi mudah, tidur kami di mesjid yang membuat Ustadzah Suniati kadang marah
karena ketahuan menginap di mesjid bawah dan tahajud kita yang membuat tangan
ini lincah menjawab setiap soal ujian yang terlihat susah.
Kau tahu kawan ? Itulah moment
terindah yang kurasakan bersama kalian. Milliu belajar ini menjadi semakin
terasah ketika ku lihat Atum lincah menjelaskan kepada anak-anak tentang
pelajaran yang susah, ketika ku lihat Mala tak hentinya membaca, memahami
setiap baris kata untuk ujian nanti. Dan aku, kala itu mulai memahami
bagamaimana lingkungan dan teman sangat mempengaruhi pola kita mengarungi
setiap kehidupan.
Beranjak kelas akhir yaitu kelas
enam, sedikit kerikil membuat perjalanan pertemanan kami bertengkar kecil. Atum
dan Mala tiba-tiba saling diam tak tegur sapa. Ya, aku yang berada di tengah
tetap menerima keduanya. Kadang Atum yang datang bertandang, bersama kita
berdiskusi, kadang Mala juga seperti itu. Bedanya, dahulu mereka datang bersama
kepadaku, kali ini mereka sendiri-sendiri. Aku kerap sekali-kali menasehati
agar mereka berdua kembali berteman seperti dulu. Namun, entahlah kadang aku
hanya bisa mendo’akan karena tidak begitu mengerti letak permasalahan mereka
itu.
Aku dan Mala …
Detik-detik menjelang UAMBN dan
ujian nasional, kami lebih intens membahas soal. Kejadian yang tak bisa
kulupakan ketika kami bertiga diminta untuk menjadi tim-sukses untuk beberapa
mata pelajaran pada saat UAMBN. Terlebih ketika nama kami bertiga dan beberapa
teman lainnya menjadi tim-sukses matematika. Sebenarnya, diri ini menolak
sekali untuk berpartisipasi. Ya, suara hati sebenarnya ingin berorasi…
“Apakah atas nama solidaritas, kita
harus melanggar batas ?”
Dengan peraturan ujian yang
membatasi setiap murid agar mengerjakan soal sendiri, tapi atas nama ‘solidaritas’
kita menghasut teman lain untuk memberi jawaban, Itukah aplikasi rasa ‘solidaritas’?
“Apakah atas nama solidaritas, kita
harus melakukan sesuatu yang tak pantas?”
Dengan membiarkan teman yang kita
sayangi, diam-diam merobek secarik kertas dan mengoper kepada si tim-sukses
agar mendapatkan jawaban? Malam hari mereka tidak bisa konsentrasi belajar
karena memikirkan cara yang sebenarnya tidak pantas dikerjakan oleh seorang
pemikir berprofesi pelajar. Ya, mencari cara, menyusun strategi agar bisa
mendapatkan jawaban sebagai jalan keluar. Dan, aku rasa cara itu lebih tepatnya
jalan yang bahkan sama sekali tidak menunjukkan kita keluar dari susahnya soal
ujian, malah jalan yang membuat kita sebenarnya tersesat.
Sore hari sebelum kita menghadapi
UAMBN Matematika, hari itu tepat dimana para wali murid berkunjung memadati
area asrama. Sudah hal lumrah, tempat yang tadinya asik untuk dijadikan pojok
belajar kini terganti dengan pojok canda tawa antara orang tua dan anak. Lalu,
aku dan Mala memilih mengasingkan diri, belajar di lantai 5 atas gedung
sekolah.
Angin berhembus menerpa wajah kusut
kami. Tak urung pikiran kami masih berkecamuk dengan title ‘tim-sukses’ yang
tersandang ketika akhirnya kami mengangguk dan meng-iya-kan kemauan teman-teman
kami. Aku dan Mala lurus menatap
pemandangan Jakarta sore hari itu. Buku matematika dan beberapa kotretan hanya
sekilas kami kerjakan. Kami menghela nafas, kemudian melantangkan suara betapa
kami kecewa dengan pemikiran kebanyakan pelajar sekarang. Dan, setelah kami
puas melepas semua yang mengekang hati dan pikiran, akhirnya kami memutuskan.
Ketika cahaya matahari mulai mengakhiri tugasnya, kami pulang ke asrama dengan
perasaan lega dan aku dengan sigapnya akan berkata, aku tidak bisa menyanggupi
untuk menyandang gelar ‘tim-sukses’ tersebut. Aku memilih diberikan gelar ‘si
pelit’ oleh mereka, biarlah. Namun, disitulah perasaan senangku terluap karena
bisa membagi pikiran dengan Mala.
Aku dan Atum …
Akhir pertengahan semester dua kelas
enam membuktikan pemenang atas kompetisi antara kita bertiga. Ya, Aku turun
menjadi peringkat kedua, Mala bertahan diperingkat ketiga dan Atum naik menjadi
peringkat pertama. Sebenarnya, berat mengakui ketika diri ini akhirnya bisa
terkalahi. Namun, sudahlah aku akhirnya bisa belajar banyak dari gadis yang
lebih muda dua tahun dari aku ini. Atum memberiku inspirasi, motivasi walaupun
bukan terelisasi dari kata-kata. Dia mengajariku dari cara, cara dia
berhubungan dengan Tuhan. Dan aku kerap mengakui, aku masih kalah dari dia.
Setelah lulus..
Aku, Atum, dan Mala
Kenapa aku menulis ini ? karena aku
rindu kepada kalian disini, tepat di hati ini. Aku kini melanjutkan studi di
Al-Azhar Mesir, Atum di CCIT UI-UIN, Mala di Ilmu Hukum UIN. Kami terpisah dan
aku sudah jarang menghubungi mereka. Aku amati dari jauh, mereka sudah sibuk
dengan aktivitas baru dan kini, aku merasa jauh. Terlebih-lebih dengan Mala.
Entahlah, aku rasanya ingin menyapa, namun diri ini enggan takut tak
terbalaskan.
Kawan, percayalah dimanapun kalian
sekarang, dengan siapapun kalian, aku hanya ingin menguntaikan do’a sebagai
engkapan rindu kepada kalian, semoga hal-hal baik menyertai hidup kalian, dunia
dan akhirat.
Tuhan, titip rindu, untuk Mala dan
Atum…
Madinat-El-Bu’uts
Kairo
07:24 Pagi

1 komentar:
baru baca, mi.
sedih, lebih ke terharu.
semoga semua teman yang dulu pernah saling sapa,
bisa berteman terus dalam doa-doa baik.
kalo komentar ini sempet ente baca,
ada rindu juga dari sini buat rahmi, dari atum.
sampai ketemu lagi mi.
kali gak sempet di bumi,
mungkin di kehidupan sesudah mati.
^^
Posting Komentar