Minggu, 11 Mei 2014

Secepat itukah pertemuan denganmu ?


Sabtu malam ku terduduk disini, masih di tempat ini
Memutar kembali memori, meredam beribu emosi
Di tanganku masih tergenggam bunga mawar ini
Bunga yang kau beri, lalu kau tinggal aku pergi
Lagi…

3 hari yang lalu…
Langkah kakiku terburu, ku dengar deru peluru semakin bertaut. Ku tutup telinga, ku pejamkan mata, dan seketika lemas ku terduduk.  Keranjang berisi Chery kini tergeletak di samping sungai dan aku takut diri ini ketahuan, duduk terkulai di luasnya hutan. Bulu kudukku tegak berdiri, aku merinding, membayangkan diri ini digiring oleh mereka, para tentara dengan otak miring!
Sudah berapa banyak teman sebayaku meninggal tergeletak tak berdaya dan tanpa nyawa, karena mereka para tentara asing yang gencar menodongkan senjata. Kami para wanita desa terpencil yang lugu, tak tahu menahu tentang perang dunia kala itu. Kami hanya bisa berteriak pasrah ketika mereka para tentara berhasil menangkap kami yang tidak bersalah. Namun, hanya aku, hanya aku yang selamat dari kejadian penangkapan itu. Hanya aku yang bisa meloloskan diri, ketika kawanku satu satu ditelanjangi kemudian ditembak mati.

Malam saat kejadian itu, bajuku dibanjiri tangis air mata, tak mampu mulut meraungkan kepedihan, namun hati mampu meraung meronta-ronta kesakitan. Para tentara itu, mereka jelas sekali bukan pahlawan! Mereka bukan para pelindung negara yang mereka pertahankan, karena mereka hanya bisa memuaskan nafsu hewani yang tidak dapat ditahan.
Dan aku kini hidup di antara pepohonan, di gubuk kecil yang sangat jauh dari keramaian, anugerah Tuhan masih menolongku untuk bertahan dalam kehidupan. Aku bisa mendapat makanan dan keamanan yang entah mengapa Tuhan selalu berikan dengan cara yang menurutku sangat menakjubkan. Namun, kali ini aku yang duduk lemas tak berkawan, tak tahu apakah Tuhan masih memberiku kehidupan ? karena berkali-kali peluru masih di tembakkan mengaung di awan. Jelas aku takut bertemu mereka para tentara yang buta hatinya, brutal kelakuannya.
Sayup-sayup derap langkah mulai terdengar walupun tangan ini telah menutup telinga rapat. Degup jantungku mulai tak beraturan, kakiku mulai gemetaran. Kali ini aku pasrah dalam kuasa Tuhan. Entah mengapa perasaanku merasa ada seseorang dari jauh yang diam-diam memperhatikan. Takut, kini aku semakin takut. Aku sudah meringkuk di antara pepohonan. Aku lupa, ternyata keranjang Cheryku mudah dipandang mata. Ah, sudahlah kubayangkan kematian di pelupuk mata.
Duaaar !!!
Suara peluru semakin terdengar, semakin rapat diri ini meringkuk ketakutan. Tak tahan mulut ini ingin berteriak, tiba-tiba tangan seseorang mendekap mulutku cepat. Aku semakin memberontak dalam dekap tangannya. Ya Tuhan, ternyata diri ini ketahuan! Air mata cepat mengalir tak tertahankan. Aku sesenggukan, pandanganku sudah buyar, aku tak berani menengok kepada dia yang mendekap mulut ini dari belakang.
“Ssst, diamlah! Bertahanlah! sekarang ikuti aku tanpa banyak bicara dan jangan melawan kalau kau ingin selamat. “
Telingaku menangkap suara berat pria yang tadi berbisik di belakang. Kini dia melepaskan tangan  dari mulutku, dan menendang keranjang Cheryku yang kini hanyut di sungai cepat. Kini tanganku sudah diraihnya, aku pasrah menyamakan iringan jalannya yang cepat. Kami menyebrangi riak air sungai, melewati pepohonan yang menjulang tinggi, dan kini otakku tidak bisa berpikir lagi, naluri ini akhirnya pasrah mengikuti.
Kini kami sudah jauh melangkah, tak ku dengar lagi deru langkah para tentara, tak ada lagi suara peluru menggema di angkasa. Samar ku lihat rumah kecil menyempil di antara pepohonan. Kini langkah kami melambat, dan aku baru tersadar. Pria ini adalah tentara, karena corak baju yang dikenakan oleh dirinya. Lalu mengapa dia membawaku kesini, seperti menyelamatkanku ? Seketika aku melepaskan genggamannya.
“Kau tentara ? Apa maksudmu membawaku kesini? Apa yang kau inginkan? Ah, aku tau kau bukan ingin menyelamatkanku, melainkan ingin menjebakku! Apa maksud semua ini? Kau menginginkan tubuh ini, lalu kau permainkan dan kau tembak mati? Ya, seperti teman-temanmu yang berlaku seperti itu kepada kawan-kawanku! Kalau seperti itu, lebih baik aku mati tadi terkena peluru daripada tubuh ini harus kau buru!”
Bergetar hebat mulutku berkata seperti itu, air mata kini tumpah kembali membasahi tubuh, aku menunduk dengan tangan menelungkup menutupi wajahku.
“Bukalah wajahmu, Sona.”
Mataku lebar terbelalak, mulutku gugup ketika kubuka tangan yang menutupi wajah ini. Bodoh sekali ketika pertama kali aku tak mengenali suara berat pria ini. Tentu saja dia mengetahui namaku. Tentu saja! karena dia adalah pria yang sangat dekat denganku 5 tahun yang lalu.
“Haruki…” lemasku mengatakan namanya.
 “Benar dugaanku, kau sudah melupakanku. Sampai kau tak mengenali suaraku, sampai kau berpikiran bahwa aku akan menodaimu.” Haruki berkata miris.
Aku tekulai lemas, mataku mengerjap dan memperhatikan setiap urat wajahnya yang tegas. Ku tatap matanya, kudapati rasa rindu yang terlihat jelas. Apakah ini kenyataan atau tidak ? Entahlah, rasanya tidak dapat berpikir waras ketika kulihat parasnya.
“Tinggalah di rumah itu. Aku sudah memperhatikanmu dari dulu walaupun kau berfikir aku meninggalkanmu 5 tahun yang lalu. Dan, sekali lagi, maaf aku hanya bisa menolongmu, aku harus pergi,  dan tak tahu apakah aku bisa kembali, melihat dirimu lagi.” Haruki menatapku, langkah kakinya mulai mendekati dan tangannya mengeluarkan sesuatu dari balik baju tentaranya.
“Ini, bunga mawar merah yang tak aku sempat berikan dulu. Untuk menemani sepimu, karena aku akan pergi lagi meninggalkanmu.” Haruki berkata dan menyodorkan bunga tepat di depan tanganku. Ragu ku raih bunga itu. Dan tanpa sekali menyentuhku, mencium keningku, dia berlalu, berlari meningalkanku. Meninggalkanku yang berdiri terpakku atas pertemuan singkat itu.
Secepat itukah pertemuan denganmu ?

Madinat-El-Bu’uts
09:46 Pagi
RVA


0 komentar:

Posting Komentar