Sabtu
malam ku terduduk disini, masih di tempat ini
Memutar
kembali memori, meredam beribu emosi
Di
tanganku masih tergenggam bunga mawar ini
Bunga
yang kau beri, lalu kau tinggal aku pergi
Lagi…
3 hari yang
lalu…
Langkah kakiku terburu, ku dengar
deru peluru semakin bertaut. Ku tutup telinga, ku pejamkan mata, dan seketika
lemas ku terduduk. Keranjang berisi Chery
kini tergeletak di samping sungai dan aku takut diri ini ketahuan, duduk
terkulai di luasnya hutan. Bulu kudukku tegak berdiri, aku merinding,
membayangkan diri ini digiring oleh mereka, para tentara dengan otak miring!
Sudah berapa banyak teman sebayaku
meninggal tergeletak tak berdaya dan tanpa nyawa, karena mereka para tentara
asing yang gencar menodongkan senjata. Kami para wanita desa terpencil yang
lugu, tak tahu menahu tentang perang dunia kala itu. Kami hanya bisa berteriak
pasrah ketika mereka para tentara berhasil menangkap kami yang tidak bersalah.
Namun, hanya aku, hanya aku yang selamat dari kejadian penangkapan itu. Hanya
aku yang bisa meloloskan diri, ketika kawanku satu satu ditelanjangi kemudian
ditembak mati.
Malam saat kejadian itu, bajuku
dibanjiri tangis air mata, tak mampu mulut meraungkan kepedihan, namun hati
mampu meraung meronta-ronta kesakitan. Para tentara itu, mereka jelas sekali
bukan pahlawan! Mereka bukan para pelindung negara yang mereka pertahankan,
karena mereka hanya bisa memuaskan nafsu hewani yang tidak dapat ditahan.
Dan aku kini hidup di antara
pepohonan, di gubuk kecil yang sangat jauh dari keramaian, anugerah Tuhan masih
menolongku untuk bertahan dalam kehidupan. Aku bisa mendapat makanan dan
keamanan yang entah mengapa Tuhan selalu berikan dengan cara yang menurutku
sangat menakjubkan. Namun, kali ini aku yang duduk lemas tak berkawan, tak tahu
apakah Tuhan masih memberiku kehidupan ? karena berkali-kali peluru masih di
tembakkan mengaung di awan. Jelas aku takut bertemu mereka para tentara yang
buta hatinya, brutal kelakuannya.
Sayup-sayup derap langkah mulai
terdengar walupun tangan ini telah menutup telinga rapat. Degup jantungku mulai
tak beraturan, kakiku mulai gemetaran. Kali ini aku pasrah dalam kuasa Tuhan.
Entah mengapa perasaanku merasa ada seseorang dari jauh yang diam-diam
memperhatikan. Takut, kini aku semakin takut. Aku sudah meringkuk di antara
pepohonan. Aku lupa, ternyata keranjang Cheryku mudah dipandang mata. Ah,
sudahlah kubayangkan kematian di pelupuk mata.
Duaaar !!!
Suara peluru semakin terdengar,
semakin rapat diri ini meringkuk ketakutan. Tak tahan mulut ini ingin
berteriak, tiba-tiba tangan seseorang mendekap mulutku cepat. Aku semakin
memberontak dalam dekap tangannya. Ya Tuhan, ternyata diri ini ketahuan! Air
mata cepat mengalir tak tertahankan. Aku sesenggukan, pandanganku sudah buyar,
aku tak berani menengok kepada dia yang mendekap mulut ini dari belakang.
“Ssst, diamlah! Bertahanlah!
sekarang ikuti aku tanpa banyak bicara dan jangan melawan kalau kau ingin
selamat. “
Telingaku menangkap suara berat pria
yang tadi berbisik di belakang. Kini dia melepaskan tangan dari mulutku, dan menendang keranjang Cheryku
yang kini hanyut di sungai cepat. Kini tanganku sudah diraihnya, aku pasrah
menyamakan iringan jalannya yang cepat. Kami menyebrangi riak air sungai,
melewati pepohonan yang menjulang tinggi, dan kini otakku tidak bisa berpikir
lagi, naluri ini akhirnya pasrah mengikuti.
Kini kami sudah jauh melangkah, tak
ku dengar lagi deru langkah para tentara, tak ada lagi suara peluru menggema di
angkasa. Samar ku lihat rumah kecil menyempil di antara pepohonan. Kini langkah
kami melambat, dan aku baru tersadar. Pria ini adalah tentara, karena corak
baju yang dikenakan oleh dirinya. Lalu mengapa dia membawaku kesini, seperti
menyelamatkanku ? Seketika aku melepaskan genggamannya.
“Kau tentara ? Apa maksudmu
membawaku kesini? Apa yang kau inginkan? Ah, aku tau kau bukan ingin
menyelamatkanku, melainkan ingin menjebakku! Apa maksud semua ini? Kau
menginginkan tubuh ini, lalu kau permainkan dan kau tembak mati? Ya, seperti
teman-temanmu yang berlaku seperti itu kepada kawan-kawanku! Kalau seperti itu,
lebih baik aku mati tadi terkena peluru daripada tubuh ini harus kau buru!”
Bergetar hebat mulutku berkata
seperti itu, air mata kini tumpah kembali membasahi tubuh, aku menunduk dengan
tangan menelungkup menutupi wajahku.
“Bukalah wajahmu, Sona.”
Mataku lebar terbelalak, mulutku
gugup ketika kubuka tangan yang menutupi wajah ini. Bodoh sekali ketika pertama
kali aku tak mengenali suara berat pria ini. Tentu saja dia mengetahui namaku.
Tentu saja! karena dia adalah pria yang sangat dekat denganku 5 tahun yang
lalu.
“Haruki…” lemasku mengatakan
namanya.
“Benar dugaanku, kau sudah melupakanku. Sampai
kau tak mengenali suaraku, sampai kau berpikiran bahwa aku akan menodaimu.”
Haruki berkata miris.
Aku tekulai lemas, mataku mengerjap
dan memperhatikan setiap urat wajahnya yang tegas. Ku tatap matanya, kudapati
rasa rindu yang terlihat jelas. Apakah ini kenyataan atau tidak ? Entahlah,
rasanya tidak dapat berpikir waras ketika kulihat parasnya.
“Tinggalah di rumah itu. Aku sudah
memperhatikanmu dari dulu walaupun kau berfikir aku meninggalkanmu 5 tahun yang
lalu. Dan, sekali lagi, maaf aku hanya bisa menolongmu, aku harus
pergi, dan tak tahu apakah aku bisa
kembali, melihat dirimu lagi.” Haruki menatapku, langkah kakinya mulai
mendekati dan tangannya mengeluarkan sesuatu dari balik baju tentaranya.
“Ini, bunga mawar merah yang tak aku
sempat berikan dulu. Untuk menemani sepimu, karena aku akan pergi lagi
meninggalkanmu.” Haruki berkata dan menyodorkan bunga tepat di depan tanganku.
Ragu ku raih bunga itu. Dan tanpa sekali menyentuhku, mencium keningku, dia
berlalu, berlari meningalkanku. Meninggalkanku yang berdiri terpakku atas
pertemuan singkat itu.
Secepat itukah pertemuan denganmu ?
Madinat-El-Bu’uts
09:46 Pagi
RVA

0 komentar:
Posting Komentar