Mungkin kau lupa, walaupun perbincangan dulu bukan hanya kita berdua, namun ku harap diam-diam kau mendengarkan, kalau aku suka bunga .
Kamis, 08 Mei 2014
bergeraklah, dan jangan biarkan matamu kembali menatap hal indah yang dapat membuatmu terlena di belakang - RVA
"Love is like a beautiful flower which I may not touch, but whose fragrance makes the garden a place of delight just the same.” - Helen Keller
Izinkan budi pekerti seperti bunga di taman ini, membuat orang yang memandangnya tersenyum namun enggan untuk menyentuh .
izinkan ..
Selasa, 06 Mei 2014
Lalu kapankah kita bisa bersama kembali ?
(Aku, Atum dan Mala)
Lalu kapankah kita bisa bersama kembali ?
Pertanyaan ini menghampiri diri
ketika menatap foto kita bertiga saat kelas lima TMI Darunnajah Ulujami
Jakarta. Tahun 2013 bersama kelas MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan), kala itu
pertemanan kita mulai semakin dekat .
Rodliatum Mardiyah Al-Hadi, gadis
Palembang dengan senyum manis dan otak cerdas, tak luput pula sifat
kekanak-kanakannya yang khas, selalu membuat mata ini terpukau oleh kecepatan
nalarnya dan mulut ini mengaduh ketika terkena candaan pukulannya yang ganas.
Hal paling unik dari dirinya adalah tak mudah untuk menyentuhnya karena kita,
siapapun itu, akan siap-siap terkena pukulannya.
Hamalatul Qur’ani, gadis minang nan
intelek dengan sifat optimis dan pemikirannya yang melangit, segala ambisi dan
motivasi diri membuat dirinya terlihat percaya diri. Hati ini selalu kagum
tatkala melihat jajaran prestasinya, sama seperti Atum (panggilan untuk
Rodliatum) menurutku, Mala (panggilan untuk Mala) mempunyai senyum yang manis
mampu menarik perhatian kaum adam yang memperhatikannya.
Sementara aku, Rakhmi Vegi
Arizka, gadis sunda namun mempunyai
darah Sumatera seperti mereka yaitu Medan. Aku hanyalah diri dengan segala
usaha, doa dan keterbatasan maka Alloh berikan penghargaan berupa keberuntungan.
Ya, aku hanya diri yang sebenarnya penuh kekurangan. Oke, aku tak mau membahas
diri ini lebih lanjut karena kembali aku ingin meluapkan kerinduan kepada
mereka berdua, Atum dan Mala :’)
Cerita ini adalah ingatan yang
menurutku spesial dengan kalian, ya ini persepsiku, persepsi kalian ? aku tak
tahu.
Berawal ketika kita pertama kali
dipertemukan, di kelas MAK bersama wali kelas Ustadz Kadhafi Hamdie yang sangat
menginspirasi. Kita yang duduk berpisah-pisah aku di kursi terdepan, Mala dan
Atum di kursi yang tak sama. Bahkan kita jarang sekali bertegur sapa, hanya
sekedarnya. Namun, melalui benda matilah yang membuat pertemanan kita hidup.
Ya, buku pelajaran yang kita saling diskusikan kala ujian, sadar tak sadar kita
terlihat asik bersama membahas materi yang ada. Namun itu baru awal, ya,
ilmulah yang menjadi titik awal pertemanan kita.
Tengah kita menduduki bangku kelas
lima, Mala dan Atum terlihat lebih sering bersama. Ya, aku di tengah-tengah
mereka. Aku memang lebih suka seperti itu, karena belum kudapati sahabat yang
benar-benar melekat. Mungkin karena
sifatku yang tidak terlalu mau terlalu dekat spesifik hanya kepada seseorang.
Aku lebih suka membaur, ke kanan iya, ke kiri iya. Di Pondokku, ada saja
golongan-golongan bahkan genk-genk yang me-labeli-sasi kelompok mereka bak
sahabat sejati. Aku tidak bisa seperti itu, karena menurutku dalam dunia yang
penuh ke-fana-an ini semuanya hanya semu. Bukan aku pesimis, namun aku tahu
persis bagaimana dunia ini penuh kebohongan manis sehingga berujung tangis. Pun
demikian ketika aku nantinya mengklaim ikut terhadap suatu kelompok, genk atau
apalah, aku hanya takut diri ini menjadi rasis, itu saja.
Berada di tengah-tengah itu
menyenangkan, aku dekat dengan teman mantan Intensif ataupun yang dari awal
mereka belajar di pondok ini bahkan yang baru, sebut saja golongan itu (Manex,
Mantig dan Marba) sebenarnya lucu dan ada-ada saja penamaan kelompok seperti
itu. Tapi menurutku, itulah bumbu kenikmatan dalam pertemanan di kehidupan
Pondok Pesantren yang berdiri di tengah hiruk-pikuk keramaian.
Di bawah didikan Ustadz Romli
Djawahir, kita kelas lima MAK ditempa bak pencari ilmu yang memang harus lelah
untuk mendapatkan kata najah menuju kelas nihaiyah. Tak maksud
membuat diri ini mutakabbiroh kepada kalian yang sempat membaca, hanya
ingin berbagi ibroh ketika pertemanan kami memang menghidupkan
persaingan sehat di kelas lima. Karena semangat kami mencari ilmu mengepul
menjadi satu, peringkat kelas kami pun sering beradu bukan untuk menjadi nomer
satu, namun menjadi pribadi yang tawadhu sebagai identitas pencari ilmu.
Aku di peringkat ke satu, Atum diperingkat ke dua, Mala di peringkat ke tiga.
Kejadian yang membuat perasaan ini
haru biru ketika kita sama sama melihat raport di mesjid bawah. Bersama kita
melihat nilai-nilai hasil jerih payah atas mulut kami yang komat-kamit
menghapal, jemari kami yang tak kenal lelah menghitung matematika, diskusi kami
yang membuat materi yang tadinya susah menjadi mudah, tidur kami di mesjid yang membuat Ustadzah Suniati kadang marah
karena ketahuan menginap di mesjid bawah dan tahajud kita yang membuat tangan
ini lincah menjawab setiap soal ujian yang terlihat susah.
Kau tahu kawan ? Itulah moment
terindah yang kurasakan bersama kalian. Milliu belajar ini menjadi semakin
terasah ketika ku lihat Atum lincah menjelaskan kepada anak-anak tentang
pelajaran yang susah, ketika ku lihat Mala tak hentinya membaca, memahami
setiap baris kata untuk ujian nanti. Dan aku, kala itu mulai memahami
bagamaimana lingkungan dan teman sangat mempengaruhi pola kita mengarungi
setiap kehidupan.
Beranjak kelas akhir yaitu kelas
enam, sedikit kerikil membuat perjalanan pertemanan kami bertengkar kecil. Atum
dan Mala tiba-tiba saling diam tak tegur sapa. Ya, aku yang berada di tengah
tetap menerima keduanya. Kadang Atum yang datang bertandang, bersama kita
berdiskusi, kadang Mala juga seperti itu. Bedanya, dahulu mereka datang bersama
kepadaku, kali ini mereka sendiri-sendiri. Aku kerap sekali-kali menasehati
agar mereka berdua kembali berteman seperti dulu. Namun, entahlah kadang aku
hanya bisa mendo’akan karena tidak begitu mengerti letak permasalahan mereka
itu.
Aku dan Mala …
Detik-detik menjelang UAMBN dan
ujian nasional, kami lebih intens membahas soal. Kejadian yang tak bisa
kulupakan ketika kami bertiga diminta untuk menjadi tim-sukses untuk beberapa
mata pelajaran pada saat UAMBN. Terlebih ketika nama kami bertiga dan beberapa
teman lainnya menjadi tim-sukses matematika. Sebenarnya, diri ini menolak
sekali untuk berpartisipasi. Ya, suara hati sebenarnya ingin berorasi…
“Apakah atas nama solidaritas, kita
harus melanggar batas ?”
Dengan peraturan ujian yang
membatasi setiap murid agar mengerjakan soal sendiri, tapi atas nama ‘solidaritas’
kita menghasut teman lain untuk memberi jawaban, Itukah aplikasi rasa ‘solidaritas’?
“Apakah atas nama solidaritas, kita
harus melakukan sesuatu yang tak pantas?”
Dengan membiarkan teman yang kita
sayangi, diam-diam merobek secarik kertas dan mengoper kepada si tim-sukses
agar mendapatkan jawaban? Malam hari mereka tidak bisa konsentrasi belajar
karena memikirkan cara yang sebenarnya tidak pantas dikerjakan oleh seorang
pemikir berprofesi pelajar. Ya, mencari cara, menyusun strategi agar bisa
mendapatkan jawaban sebagai jalan keluar. Dan, aku rasa cara itu lebih tepatnya
jalan yang bahkan sama sekali tidak menunjukkan kita keluar dari susahnya soal
ujian, malah jalan yang membuat kita sebenarnya tersesat.
Sore hari sebelum kita menghadapi
UAMBN Matematika, hari itu tepat dimana para wali murid berkunjung memadati
area asrama. Sudah hal lumrah, tempat yang tadinya asik untuk dijadikan pojok
belajar kini terganti dengan pojok canda tawa antara orang tua dan anak. Lalu,
aku dan Mala memilih mengasingkan diri, belajar di lantai 5 atas gedung
sekolah.
Angin berhembus menerpa wajah kusut
kami. Tak urung pikiran kami masih berkecamuk dengan title ‘tim-sukses’ yang
tersandang ketika akhirnya kami mengangguk dan meng-iya-kan kemauan teman-teman
kami. Aku dan Mala lurus menatap
pemandangan Jakarta sore hari itu. Buku matematika dan beberapa kotretan hanya
sekilas kami kerjakan. Kami menghela nafas, kemudian melantangkan suara betapa
kami kecewa dengan pemikiran kebanyakan pelajar sekarang. Dan, setelah kami
puas melepas semua yang mengekang hati dan pikiran, akhirnya kami memutuskan.
Ketika cahaya matahari mulai mengakhiri tugasnya, kami pulang ke asrama dengan
perasaan lega dan aku dengan sigapnya akan berkata, aku tidak bisa menyanggupi
untuk menyandang gelar ‘tim-sukses’ tersebut. Aku memilih diberikan gelar ‘si
pelit’ oleh mereka, biarlah. Namun, disitulah perasaan senangku terluap karena
bisa membagi pikiran dengan Mala.
Aku dan Atum …
Akhir pertengahan semester dua kelas
enam membuktikan pemenang atas kompetisi antara kita bertiga. Ya, Aku turun
menjadi peringkat kedua, Mala bertahan diperingkat ketiga dan Atum naik menjadi
peringkat pertama. Sebenarnya, berat mengakui ketika diri ini akhirnya bisa
terkalahi. Namun, sudahlah aku akhirnya bisa belajar banyak dari gadis yang
lebih muda dua tahun dari aku ini. Atum memberiku inspirasi, motivasi walaupun
bukan terelisasi dari kata-kata. Dia mengajariku dari cara, cara dia
berhubungan dengan Tuhan. Dan aku kerap mengakui, aku masih kalah dari dia.
Setelah lulus..
Aku, Atum, dan Mala
Kenapa aku menulis ini ? karena aku
rindu kepada kalian disini, tepat di hati ini. Aku kini melanjutkan studi di
Al-Azhar Mesir, Atum di CCIT UI-UIN, Mala di Ilmu Hukum UIN. Kami terpisah dan
aku sudah jarang menghubungi mereka. Aku amati dari jauh, mereka sudah sibuk
dengan aktivitas baru dan kini, aku merasa jauh. Terlebih-lebih dengan Mala.
Entahlah, aku rasanya ingin menyapa, namun diri ini enggan takut tak
terbalaskan.
Kawan, percayalah dimanapun kalian
sekarang, dengan siapapun kalian, aku hanya ingin menguntaikan do’a sebagai
engkapan rindu kepada kalian, semoga hal-hal baik menyertai hidup kalian, dunia
dan akhirat.
Tuhan, titip rindu, untuk Mala dan
Atum…
Madinat-El-Bu’uts
Kairo
07:24 Pagi
Minggu, 04 Mei 2014
Elegi Malam Musim Panas
Terbuka mata dari tidur tak tenang
ketika peluh bertebaran di badan
udara panas terasa liar menghadang
akupun terbangun dengan hati sedu sedan
ya Rabb, hening sepertiga malam membuat hati ini tenggelam,
menikmati sepinya Kairo dalam diam.
dan suara hati ini sudah tak tertahankan..
ketika ku pandang pekat langit malam-Mu..
kudapati hatiku sakit, menangis terisak.
macam maksiatku lebih hitam pekat dari gelap malam-Mu,
dosa sepanjang hidupku masih lebih luas dari langit-Mu yang terhampar luas.
Lalu pandang terhalang bintang..
terlihat hitamnya langit malam terasa indah ketika cahanya melintang..
dan suara hati ini menjadi berharap, seketika terucap lantunan do'a,
wujudkan elegi malam di awal musim panas..
sembari ku menunggu siluet subuh jelas ..
masih ku ingat jajaran ayat-Mu untuk aku si pemaksiat
dan..
membuatku sadar ketika luasnya gelap malam..
terdapat cahaya bintang..
maka luasnya maksiat dan gelap dosa yang telah diperbuat..
ku harap ada ampunan..
karna ku yakin,,
cahaya kasih sayang-Mu tersebar pada lebar langit malam
besar ku berharap, elegi hati ini terdengar oleh Engkau..
Sang Maha Pendengar doa hamba-nya yang penuh rasa berdosa..
Abbasea, Madinat El-bu'uts, Kairo
03:49 Subuh
(beberapa syair di-postkan di twitter penyair)
Rabu, 30 April 2014
Menapaki Langkah Menelaah Saksi Bisu Sejarah Lillahi Ta’ala
11.15 WK
Ku lirik kembali jam tangan di tanganku. Sudah kesekian kalinya aku
menatap jam tangan lalu kembali kepada buku yang ku baca dan juga sambil
mengecap beberapa cemilan yang ada. Tak mempan juga, akhirnya kusudahi membaca
buku dan ngemil, fokus kepada waktu yang terus berjalan dan terus melihatku menunggu
dari jam 8 pagi sambil mondar-mandir buuts banat (asrama putri) dan baqolah
(warung).
Walaupun rasa malas meliputi diriku, tetapi mau-tak-mau aku harus
melatih diri memegang komitmen karena sudah menyanggupi untuk membantu Kak
Baits dan kawan-kawannya dalam proyek guide book yang akan mereka
terbitkan. Aku harus bergerak untuk siap-siap berkelana yang tempatnya akupun
tak tahu dimana. Dengan kostum yang disarankan ka Baits yaitu gamis yang
bercorak timur-tengah aku mendadak merasa gerah karena cahaya matahari yang
cerah mulai berada di tengah hamparan langit di atas kepala manusia. Akupun
mengadah ke langit dan berkata dalam hati “Kira-kira jadi apa tidak ?”
Dering ponsel yang berbunyi untuk yang kedua kalinya
membuatku beralih pandang ke layar ponsel. Teringat pada dering pertama terdengar
suara Kak Baits yang memberi informasi bahwasanya waktu kita pergi akan diundur
dari jam 8 pagi ke jam 11 siang. Dan dering kali ini membuatku sedikit lega dan
menjawab pertanyaan batinku tadi. Ya, kali ini suara kak Baits memberitahukan
bahwasanya dia dan kawan-kawan sudah siap pergi dan sedang menuju perjalanan ke
depan Buuts Banin (Asrama Laki-laki).
Sebenarnya aku tak heran dengan pengunduran waktu pergi tersebut.
Mengingat orang-orang yang mengajakku pergi adalah mereka yang sudah sibuk di
negeri seribu menara yang kini aku tinggali. Wajar jika mereka mengundur waktu
guna menyempatkan diri terlibat dalam proyek buku ini. Setelah Kak Baits
menyuruhku segera ke depan gerbang buuts banin dan kami berlima akhirnya berkumpul. Kak
Baits dengan jabatannya sebagai ketua perkumpulan almamater pesantren kami, Kak
Sofwan yang namanya sudah mulai mencuat di dunia tulis-menulis masisir
(mahasiswan Indonesia di mesir), Kak Wahid yang berkarakter unik dan terjun
dalam dunia para cerpenis, Kak Badrut yang tangannya sangat lihai memakai
kamera CLR dan juga merupakan wakil dari kak Baits, dan terakhir ya aku pelajar
yang baru menginjakan kaki dua bulan lebih di bumi para Nabi ini akhirnya,
Bismillah siap berangkat ke tempat tujuan.
Perjalanan kami awali dengan
berjalan kaki menuju stasiun metro yaitu kereta api bawah tanah
peninggalan negara Perancis yang dahulunya pernah menapak kaki di negara Mesir
ini. Terlihat langkah kaki orang mesir yang lebar dan cepat keluar masuk metro
beriringan dengan langkah kami penduduk Asia yang mencoba menyeimbangi. Aku
yang setengah ragu akan duduk sendiri gerbong untuk wanita dicegah oleh kaka-kaka
mengingat aku hanya perempuan sendiri yang belum tentu tahu tempat
pemberhentian yang dituju. Akhirnya aku duduk di gerbong yang dominan laki-laki
dengan diawasi oleh kaka-kaka yang menjagakku agar bisa jaga diri mengingat
tidak hanya keturunan para Nabi disini tetapi pembangkang Nabi pun ada dan
mereka nekat untuk mencuri.
Kereta yang kami tumpangi berhenti
di Stasiun Girgis dan tatapan mataku langsung disambut oleh pemandangan
bangunan klasik di daerah itu. Kunikmati cuacanya yang lebih menenangkan dan
sunyi dari bisingnya lalu-lintas kota Kairo. Sensasinya membawaku melayang
membayangkan peradaban Mesir jaman dahulu. SubhanAllah terdetik pertanyaan
dalam hatiku, “Apakah tanah yang kupijak ini adalah tanah yang sama yang pernah
dilalui oleh para Nabi ataupun para pencari ilmu yang mulia dahulu?”, aku tak
tahu tetapi yang aku tahu, dalam hati aku berdo’a semoga aku bisa seperti
tawadhu’ dan istiqomahnya mereka yang telah menghadap Alloh terlebih
dahulu.
Langkah kami dipandu oleh ka Wahid
yang berjalan dengan buku di tangannya sambil menjelaskan kepada kami tentang bangunan
yang menyambut kami melangkahi kota Girgis yaitu Gereja Abu Serga dan Gereja
Gantung yang konon katanya adalah awal dari kehidupan kristiani di Mesir
peninggalan dari negara Spanyol. Lantunan do’a umat kristiani berbahasa arab
menyambut kami ketika masuk melihat kokohnya bangunan sejarah yang terawat.
Aku pribadi baru kali ini masuk ke rumah peribadatan selain agamaku
dan rasanya memang ada aura yang berbeda yang membuat aku kurang bisa lama-lama
berada di tempat tersebut. Namun hormat aku meninggalkan tempat peribadatan itu
dan menyadari begitu toleransinya umat muslim di Mesir dalam menjalin
persaudaraan dengan non-muslim karena tidak kudapati tanda-tanda gangguan tak
suka penduduk muslim mesir terhadap gereja tersebut.
Kami pun
melanjutkan perjalanan ke Gereja Gantung yang letaknya bersebelahan dengan
Gereja Abu Serga. Aku sedikit bingung mengapa Gereja tersebut dinamakan “Gereja
Gantung” tetapi tak ku dapati sedikitpun sesuatu yang digantung di sekitar
gereja tersebut. Besar rasa penasaranku seperti besarnya kubah gereja tersebut
yang sedang dalam tahap renovasi.
Setelah
puas menelaah bangunan umat kristiani saatnya kami bertandang ke tempat dengan
suasana yang islami yaitu mesjid yang merupakan awal dari bedirinya
mesjid-mesjid yang lain di negara Mesir. Ya Masjid Amru bin ‘Ash yang siang itu
terasa sepi namun menyejukkan hati. Teriknya matahari mendukungku untuk
memicingkan mata terpesona oleh cahaya perpaduan antara mentari dan pantauan
lantai mesjid yang semakin menunjukkan keindahan klasiknya bangunan ini. Kami
pun memutuskan untuk merasakan sejenak ketenangan batin beribadah menunaikan
shalat Zuhur disini.
-
Tim
guide book narsis dulu sembari istirahat sejenak untuk berwudhu :D (Ka Sofwan,
Ka Wahid, Ka Badrut dan Aku). Foto diambil
oleh : Ka Baits -
Ka Badrut tampak khusyuk mengimami Ka Baits, Ka
Wahid dan Ka Sofwan solat Zuhur di
Mesjid Amru bin ‘Ash. Foto diambil oleh : Rakhmi Vegi Arizka -
Mengejar waktu kami pun segera bergegas menuju tempat selanjutnya
yaitu Nilometer dan Museum Ummu Kultsum. Hal yang membuatku tertawa campur
miris adalah ketika kami memutuskan untuk naik Taksi dan mendapati Ka Baits, Ka
Badrut, Ka Sofwan dan Ka Wahid terpaksa ikut tertawa terhimpit dalam taksi kecil
yang memuat badan mereka. Hal itu membuatku takjub melihat semangat kakak-kakak
menyatu dalam kursi yang satu tertawa dalam kesulitan bersama, alangkah
indahnya kebersamaan bukan?
-
Walaupun
sempit yang penting narsis :D (Ka Baits, Ka Badrut, Ka Sofwan dan Ka Wahid).
Foto diambil oleh: Rakhmi Vegi Arizka –
Sekitar Museum
Umi Kultsum dan Nilometer terlihat sepi ketika kami menapakkan kaki keluar dari
taksi. Hanya ada beberapa warga mesir yang menyapa kami yang dianggap turis.
Tertawa kami sama-sama melangkah menuju gerbang museum dan terpesona dengan
indahnya Nil yang terletak di belakang bangunan Nilometer. Begitu kami masuk
museum kami disambut oleh gambar Ummu Kultsum dan patung pembuat Nilometer.
Tak sabar kami
mengikuti langkah penjaga gedung Nilometer untuk melihat bagaimana bentuk
pengukur dalamnya salah satu sungai terpanjang di dunia. Kami semua ternganga
betapa takjubnya Maha Pencipta menciptakan pemikiran makhluk-Nya yang membuat
penemuan yang membuat kami ingin sekali mengabadikannya dalam kamera. Mulai
dari ornament atapnya yang terukir indah sampai Nilometer yang membuat kami
penasaran ingin masuk dan menelaah ke bawahnya.
-
Indahnya
atap Nilometer. Foto diambil oleh : Rakhmi Vegi Arizka -
-
Ka
Sofwan, Aku, Ka Wahid dan Ka Badrut
memberanikan diri ke bawah Nilometer. Foto diambil oleh : Ka Baits -
Ka
Sofwan, Ka Wahid, Ka Badrut dan aku melantunkan pujian betapa Alloh memuliakan
ciptaan-Nya dengan memberinya akal untuk berpikir, berinovasi menciptakan
hal-hal baru yang bisa mempertahankan eksistensi mereka sebagai khalifah
di bumi-Nya. Yang membuatku tertawa adalah Ka Baits yang hanya mempersilahkan
kami turun ke bawah tetapi tidak dengan dirinya. Ka Baits hanya memotret kami
dari atas dan tertawa renyah ketika kami
melempar hujatan lelucon kepadanya karena tidak berani ke bawah.
Setelah
kami merasa cukup medokumentasikan semuanya kami pun berpisah dengan Nilometer
dan beristirahat sejenak dimanjakan oleh pemandangan sungai Nil yang melintang,
pohon kapas yang rindang dan rumput hijau yang membentang ditambah dengan udara
sejuk yang berhembus menghapus peluh lelah kami. Ka Sofwan dan Ka Badrut
memilih duduk dihamparan rumput sementara Ka Wahid dan Ka Baits sibuk memotret
pemandangan. Aku sendiri memilih duduk dibawah pohon kapas dengan ponsel
tergenggam di tangan karena sedang menjawab telepon dari Mama Amani yang sudah
aku anggap sebagai mamah angkatku di Negeri Nabi Musa ini. Setelah aku
menyudahi telepon aku bergabung bersama ka Wahid dan Ka Baits menikmati
indahnya pemandangan Nil.
Puas
kami melepas lelah akhirnya kami kembali berpacu dengan waktu mengejar beberapa
tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu Benteng Qeitbay yang terletak di
Sayedah Zaenab dan Mesjid sejarah yang aku lupa namanya ^^V. Ka Wahid sebagai
navigator memandu kami dengan berjalan kaki karena dekatnya perjalanan.
Sepanjang perjalanan ada saja celoteh yang keluar dari mulut kami dan sering
kali Kak Baits lagi yang menjadi korban hujatan ledekan kami.
Setiap
gang kami lewati, panasnya terik matahari membuat tenggorokan kami mengadu
meminta air segar sehingga membuat langkah kami terhenti untuk membeli ‘ashob
di pinggir jalan dahulu. Aku dan Ka Wahid memilih duduk menikmati minuman.
Segar ku teguk cepat minuman jeruk yang manisnya terasa mendarat di lidahku.
Tetapi kuperhatikan tidak demikian dengan Ka Wahid yang sepertinya tidak terlalu
suka dengan minuman itu, berlainan dengan Ka Baits Ka Sofwan
dan Ka Badrut yang langsung meneguk minuman itu habis.
Paerjalanan pun dilanjutkan setelah dahaga haus kami puaskan. Langkah kami terayun kembali
semangat menapaki setiap jalanan sambil bertanya beberapa kali lokasi yang akan
kami tuju kepada sesama pejalan. Hampir semua orang yang kami tanya menjawab
pertanyaan kami bahwasanya lokasi itu dekat sehingga kami memutuskan untuk
tetap berjalan. Kami terus optimis berjalan menyatu dengan alam. Gedung-gedung
kami lewati, anak sungai Nil kami telusuri, namun tidak kami dapati lokasi yang
kami ingini. Jarak yang dekat kami anggap kini jauh terasa tak tergarap
langkah. Aku coba membuat semangat langkah kaka-kaka untuk tak mengenal lelah.
Mereka tersenyum namun jelas tersirat rasa
lelah.
Tiba-tiba
ka Sofwan melontarkan ide yang membuat kami terasa keluar dari penjara pemikiran
akan dekatnya jarak. Selama ini kami
berpikir kalau tidak jalan kaki ya naik taksi, namun beberapa taksi yang kami
buat terhenti urung tidak membawa kami karena dekatnya lokasi atau ternyata
tidak tahu lokasi. Kami tidak berfikir bahwasanya masih ada bis
yang bersedia membawa kami ke penghujung jalan. Saran ka Sofwan untuk naik Bis
bisa membuat kami sedikit beristirahat karena akhirnya dapat duduk melepas
lelah. Ramah orang Mesir mengetahui kami orang Indonesia membuatku bisa nyaman
meregangkan kaki yang sedari tadi berjalan. Namun terasa bagiku inilah nikmat sesungguhnya perjalanan.
Kami
pun turun di ujung jalan dan kembali berjalan dengan arahan ka Wahid. Kali ini
kami berharap semoga jarak yang kami tempuh benar-benar dekat. Dan selang
kurang lebih 10 menit mata kami melebar mendapati Benteng yang kokoh di tengah hiruk pikuknya kota. Tidak salah lagi, ini adalah lokasi yang kami tuju. Langkah
kami semakin cepat ingin mendokumentasikan dalam kamera dan ingatan. Namun
langkah ini tercegat ketika kami hanya bisa menahan takjub di depan gerbang
benteng Qitbay. Ya, Benteng sedang dalam tahap renovasi dan kami tidak
diperkenankan masuk. Tersirat sedikit kekecewaan kami lebih-lebih Ka Wahid yang
sedari tadi menuntun kami dan kini merasakan sedikit pusing di kepalanya. Dan
akhirnya, kami meninggalkan benteng dengan langkah kecewa.
-
Ka
Sofwan, Aku, Ka Wahid dan Ka Badrut menatap
anak sungai Nil dengan kekecewaan ketika kami tidak bisa masuk Benteng. Foto
diambil oleh : Ka Baits -
Harapan
kami terakhir jatuh kepada mesjid di daerah Sayedah Zaenab sebagai tempat
terakhir yang akan kami kunjungi. Tersadar ternyata optimis membuat kami
sanggup berjalan jauh dari Girgis sampai Sayyedah Zaenab, luar biasa! Kadang ketika kita sudah
ambisius terhadap sesuatu dan fokus, kita tidak menyadari ternyata kita telah
berusaha jauh. Walaupun hasilnya kadang tidak sesuai dengan harapan tetapi
prosesnya yang memang melelahkan mampu membuat kita dapat merasakan nikmatnya
perjuangan J
Kali ini kami memutuskan naik El-Tramco untuk
menyimpan sisa-sisa semangat kami menuju bangunan terakhir yang akan kami
kunjungi. Waktu yang sudah semakin sore ternyata tidak berpihak kepada kami
karena setelah sampai ternyata area sudah ditutup untuk pengunjung. Sedikit
kecewa kami memutuskan pulang. Namun wajah kami sedikit cerah ketika akhirnya
kami diperbolehkan masuk selama 5 menit setelah Ka Badrut bernegoisasi kepada
petugas penjaga. Kami manfaatkan waktu tersebut sebaik-baiknya untuk mengejar
target guide book. Terhujam tatapan penjaga yang kurang bersahabat karena
saking menikmati pemandangan lebih dari lima menit akhirnya kami memutuskan
makan di Hay Saabi’ sebelum pulang ^^V
Taksi yang membawa kami menuju Hay Sabi’
berjalan mulus walaupun sedikit terkena macet. Aku terlena oleh kursi empuk
taksi begitupun kaka kaka yang duduk dibelakang. Masing-masing sibuk dengan
kelelahan diri. Sampai di Hay Sabi’ kami menunaikan shalat Ashar dan
menuju tempat makan untuk memanjakan perut kami yang mulai tak bisa menahan
lapar. Namun sejenak ada suasana yang tidak enak di rumah makan tersebut
sehingga membuat kami melahap makanan dengan cepat. Dan akhirnya kami pun
berpisah aku dan Ka Sofwan pulang ke Buuts sementara Ka Baits, Ka Wahid
dan Ka Badrut ke Bawabah. Bis menuju Buuts cepat melewati kami.
Ka Sofwan mengejar dan naik ke bus. Sementara aku yang tertinggal merasakan
sensasi seperti di film-film ketika mengejar bus. Berhasil! Ya aku berhasil
berlari cepat mengejar bus. Aku langsung lega melihat bus yang lengang dan
memilih duduk di belakang Ka Sofwan. Tersadar ternyata Ka Wahid mengikuti
langkah kami pulang ke buuts dan langsung menghempaskan tubuhnya ke
kursi.
Kami bertiga pun turun di mahattoh
dan berjalan menuju buuts. Jalanan gelap menyambut kami. Lampu-lampu
sekitar buuts banat padam. Aku bersyukur mengatakan kepada Ka Wahid dan
Ka Sofwan kalau buuts banat jarang mati lampu. Dan ternyata
ucapan syukurku berubah menjadi syukurin karena ternyata buuts banat
lampunya ikut terpadamkan. Namun rasa bahagiaku tidak terpadamkan malam itu
karena mendapatkan pengalaman tak terlupakan seharian bersama kakak-kakak. Ya,
menapaki langkah menelaah saksi bisu sejarah Lillahi Ta’ala ^^
-rva-
Madinat El- bu’uts
00:01 WK
Sayembara ‘Kursi Panas’ trending-topic Berita Saat Ini ?
Panasnya mentari pada hari Sabtu, tanggal 5 April 2014 yang lalu,
tidak menjadi penghalang bagi warga Indonesia yang berdomisili di Mesir untuk
ikut berpartisipasi mencoblos kandidat yang telah mencalonkan diri siap untuk
berkompetisi menduduki kursi panas yang mungkin bisa lebih panas dari teriknya
mentari, karena imbas kompetisinya yang membuat gerah sesama para pesaing
pejabat Senayan. Lalu mengapa harus kursi panas yang menjadi obsesi para partisipan
dari setiap fraksi? Apakah motivasinya karena materi atau karena Lillahi
Ta’ala, kita tidak tahu pasti.
Salah satu bentuk implementasi dari obsesi Caleg dapat kita lihat
dari fenomena pesatnya laju kampanye dalam ranah perpolitikkan. Mulai dari
domisili masyarakat di ujung pedesaan yang jauh dari sentuh tangan pejabat,
kini menjadi pusat perhatian para Caleg sebelum dimulainya pesta rakyat di
Indonesia 9 April 2014 yang lalu. Sepanjang jalan terlihat warna-warni bendera
partai berkibar bersamaan dengan wajah-wajah tak dikenal oleh masyarakat. Ya, wajah
yang tersenyum dengan slogan menjanjikan segala macam kesejahteraan dan kedamaian
hidup di tanah air tercinta.
Namun tidak bisa dipungkiri, ternyata dampak sayembara kursi panas
nyatanya tidak relevan dengan setiap slogan menggiurkan yang para Caleg
janjikan. Rakyat jelata dibuat semakin jelata pemikirannya dengan cara disuap
dengan rupiah yang menggiurkan guna mencoblos nama si pesuap. Mahasiswa dan
mahasiswi perguruan tinggi dibuat semakin tinggi pula doktrinnya oleh para Caleg guna mendukung pencitraannya,
serta mengusung nama mereka sebagai para Caleg yang pantas memakai fasilitas
kelas atas pejabat Senayan dan mewakili rakyat.
Bahkan, tidak hanya lapisan masyarakat dari bawah sampai atas yang
dijadikan korban ambisius mereka untuk duduk di kursi panas. Pepohonan, gedung,
kaca mobil kini juga dilapisi oleh nomer partai dan senyuman dari wajah para
Caleg yang aduhai, membuat masyarakat terbuai oleh kepercayaan diri Caleg dan
janji-janjinya yang pada kenyatannya tidak semuanya pasti terealisasikan. Teknologi
yang canggih juga ternyata mereka gunakan semakin canggih pula guna menciptakan
kebohongan media cetak maupun elektronik untuk menarik perhatian dan simpati
dari masyarakat. Akibatnya, terjadilah persaingan yang tidak sehat, mereka
saling menghujat, seolah dirinyalah yang benar dan hebat.
Menanggapi fenomena perpolitikkan tersebut tersiratlah satu
pernyataan dalam diri, ”Bagaimana mereka ingin mewujudkan visi-misi mereka yang
mulia kalau pada masa kampanye saja sudah mewujudkan pertarungan yang tidak
sehat?” Tidak sehat karena telah menyakiti hati sesama Caleg, tidak sehat
karena menyakiti bumi pertiwi dengan memasang spanduk partai di setiap sisi
pepohonan dengan jarang sekali memikirkan bagaimana membersihkannya kembali. Dan
ternyata itulah bukti bahwasanya masa kampanye ternyata membuat para Caleg dan
para antek-anteknya tak tahu diri. Dan setelah kampanye sebagian dari para legislator,
mereka seakan lupa akan janji-janji dan hanya mementingkan diri sendiri. Maka
tak heran timbul lah kekecewaan yang membuat gerah masyarakat dengan tingkah
laku mereka yang berhasil menduduki kursi panas. Seperti sebagian rakyat miskin
yang gerah karena janji para pejabat untuk membantu menunjang materi mereka
tidak pernah terealisaskani, para ulama
yang gerah akan tingkah laku para pejabat yang tak tahu diri dan lain
sebagainya. Ya, semua berhak menyuarakan kekecewaan, tetapi sayangnya para
penduduk kursi panas hanya sedikit yang mendengar dan bisa jadi pura-pura tuli
berlagak tak peduli.
Dan ternyata hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan
yang terjadi di tanah air kita dalam ranah perpolitikkan dan berhasil
mengalahkan eksistensi berita lain seperti Ujian Nasional dalam ranah
pendidikan ataupun penutupan gang Dolly dalam ranah sosial. Maka kita tidak
bisa mengelak, bahwasanya sayembara ‘kursi panas’ memang pantas menduduki
tangga trending-topic berita saat ini bukan?
Ditulis
oleh : Rakhmi Vegi Arizka
Editor : Sofwan Najmu
Diterbitkan
di majalah IKPDN (Perdana edisi 137 April 2014) Kairo, Mesir.
Langganan:
Postingan (Atom)










