Rabu, 30 April 2014

Sayembara ‘Kursi Panas’ trending-topic Berita Saat Ini ?


Panasnya mentari pada hari Sabtu, tanggal 5 April 2014 yang lalu, tidak menjadi penghalang bagi warga Indonesia yang berdomisili di Mesir untuk ikut berpartisipasi mencoblos kandidat yang telah mencalonkan diri siap untuk berkompetisi menduduki kursi panas yang mungkin bisa lebih panas dari teriknya mentari, karena imbas kompetisinya yang membuat gerah sesama para pesaing pejabat Senayan. Lalu mengapa harus kursi panas yang menjadi obsesi para partisipan dari setiap fraksi? Apakah motivasinya karena materi atau karena Lillahi Ta’ala, kita tidak tahu pasti.
Salah satu bentuk implementasi dari obsesi Caleg dapat kita lihat dari fenomena pesatnya laju kampanye dalam ranah perpolitikkan. Mulai dari domisili masyarakat di ujung pedesaan yang jauh dari sentuh tangan pejabat, kini menjadi pusat perhatian para Caleg sebelum dimulainya pesta rakyat di Indonesia 9 April 2014 yang lalu. Sepanjang jalan terlihat warna-warni bendera partai berkibar bersamaan dengan wajah-wajah tak dikenal oleh masyarakat. Ya, wajah yang tersenyum dengan slogan menjanjikan segala macam kesejahteraan dan kedamaian hidup di tanah air tercinta.
Namun tidak bisa dipungkiri, ternyata dampak sayembara kursi panas nyatanya tidak relevan dengan setiap slogan menggiurkan yang para Caleg janjikan. Rakyat jelata dibuat semakin jelata pemikirannya dengan cara disuap dengan rupiah yang menggiurkan guna mencoblos nama si pesuap. Mahasiswa dan mahasiswi perguruan tinggi dibuat semakin tinggi pula doktrinnya oleh  para Caleg guna mendukung pencitraannya, serta mengusung nama mereka sebagai para Caleg yang pantas memakai fasilitas kelas atas pejabat Senayan dan mewakili rakyat.
Bahkan, tidak hanya lapisan masyarakat dari bawah sampai atas yang dijadikan korban ambisius mereka untuk duduk di kursi panas. Pepohonan, gedung, kaca mobil kini juga dilapisi oleh nomer partai dan senyuman dari wajah para Caleg yang aduhai, membuat masyarakat terbuai oleh kepercayaan diri Caleg dan janji-janjinya yang pada kenyatannya tidak semuanya pasti terealisasikan. Teknologi yang canggih juga ternyata mereka gunakan semakin canggih pula guna menciptakan kebohongan media cetak maupun elektronik untuk menarik perhatian dan simpati dari masyarakat. Akibatnya, terjadilah persaingan yang tidak sehat, mereka saling menghujat, seolah dirinyalah yang benar dan hebat.
Menanggapi fenomena perpolitikkan tersebut tersiratlah satu pernyataan dalam diri, ”Bagaimana mereka ingin mewujudkan visi-misi mereka yang mulia kalau pada masa kampanye saja sudah mewujudkan pertarungan yang tidak sehat?” Tidak sehat karena telah menyakiti hati sesama Caleg, tidak sehat karena menyakiti bumi pertiwi dengan memasang spanduk partai di setiap sisi pepohonan dengan jarang sekali memikirkan bagaimana membersihkannya kembali. Dan ternyata itulah bukti bahwasanya masa kampanye ternyata membuat para Caleg dan para antek-anteknya tak tahu diri. Dan setelah kampanye sebagian dari para legislator, mereka seakan lupa akan janji-janji dan hanya mementingkan diri sendiri. Maka tak heran timbul lah kekecewaan yang membuat gerah masyarakat dengan tingkah laku mereka yang berhasil menduduki kursi panas. Seperti sebagian rakyat miskin yang gerah karena janji para pejabat untuk membantu menunjang materi mereka tidak  pernah terealisaskani, para ulama yang gerah akan tingkah laku para pejabat yang tak tahu diri dan lain sebagainya. Ya, semua berhak menyuarakan kekecewaan, tetapi sayangnya para penduduk kursi panas hanya sedikit yang mendengar dan bisa jadi pura-pura tuli berlagak tak peduli.
Dan ternyata hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang terjadi di tanah air kita dalam ranah perpolitikkan dan berhasil mengalahkan eksistensi berita lain seperti Ujian Nasional dalam ranah pendidikan ataupun penutupan gang Dolly dalam ranah sosial. Maka kita tidak bisa mengelak, bahwasanya sayembara ‘kursi panas’ memang pantas menduduki tangga trending-topic berita saat ini bukan?

Ditulis oleh      : Rakhmi Vegi Arizka
Editor              : Sofwan Najmu

Diterbitkan di majalah IKPDN (Perdana edisi 137 April 2014) Kairo, Mesir.

0 komentar:

Posting Komentar