Panasnya mentari pada hari Sabtu, tanggal 5 April 2014 yang lalu,
tidak menjadi penghalang bagi warga Indonesia yang berdomisili di Mesir untuk
ikut berpartisipasi mencoblos kandidat yang telah mencalonkan diri siap untuk
berkompetisi menduduki kursi panas yang mungkin bisa lebih panas dari teriknya
mentari, karena imbas kompetisinya yang membuat gerah sesama para pesaing
pejabat Senayan. Lalu mengapa harus kursi panas yang menjadi obsesi para partisipan
dari setiap fraksi? Apakah motivasinya karena materi atau karena Lillahi
Ta’ala, kita tidak tahu pasti.
Salah satu bentuk implementasi dari obsesi Caleg dapat kita lihat
dari fenomena pesatnya laju kampanye dalam ranah perpolitikkan. Mulai dari
domisili masyarakat di ujung pedesaan yang jauh dari sentuh tangan pejabat,
kini menjadi pusat perhatian para Caleg sebelum dimulainya pesta rakyat di
Indonesia 9 April 2014 yang lalu. Sepanjang jalan terlihat warna-warni bendera
partai berkibar bersamaan dengan wajah-wajah tak dikenal oleh masyarakat. Ya, wajah
yang tersenyum dengan slogan menjanjikan segala macam kesejahteraan dan kedamaian
hidup di tanah air tercinta.
Namun tidak bisa dipungkiri, ternyata dampak sayembara kursi panas
nyatanya tidak relevan dengan setiap slogan menggiurkan yang para Caleg
janjikan. Rakyat jelata dibuat semakin jelata pemikirannya dengan cara disuap
dengan rupiah yang menggiurkan guna mencoblos nama si pesuap. Mahasiswa dan
mahasiswi perguruan tinggi dibuat semakin tinggi pula doktrinnya oleh para Caleg guna mendukung pencitraannya,
serta mengusung nama mereka sebagai para Caleg yang pantas memakai fasilitas
kelas atas pejabat Senayan dan mewakili rakyat.
Bahkan, tidak hanya lapisan masyarakat dari bawah sampai atas yang
dijadikan korban ambisius mereka untuk duduk di kursi panas. Pepohonan, gedung,
kaca mobil kini juga dilapisi oleh nomer partai dan senyuman dari wajah para
Caleg yang aduhai, membuat masyarakat terbuai oleh kepercayaan diri Caleg dan
janji-janjinya yang pada kenyatannya tidak semuanya pasti terealisasikan. Teknologi
yang canggih juga ternyata mereka gunakan semakin canggih pula guna menciptakan
kebohongan media cetak maupun elektronik untuk menarik perhatian dan simpati
dari masyarakat. Akibatnya, terjadilah persaingan yang tidak sehat, mereka
saling menghujat, seolah dirinyalah yang benar dan hebat.
Menanggapi fenomena perpolitikkan tersebut tersiratlah satu
pernyataan dalam diri, ”Bagaimana mereka ingin mewujudkan visi-misi mereka yang
mulia kalau pada masa kampanye saja sudah mewujudkan pertarungan yang tidak
sehat?” Tidak sehat karena telah menyakiti hati sesama Caleg, tidak sehat
karena menyakiti bumi pertiwi dengan memasang spanduk partai di setiap sisi
pepohonan dengan jarang sekali memikirkan bagaimana membersihkannya kembali. Dan
ternyata itulah bukti bahwasanya masa kampanye ternyata membuat para Caleg dan
para antek-anteknya tak tahu diri. Dan setelah kampanye sebagian dari para legislator,
mereka seakan lupa akan janji-janji dan hanya mementingkan diri sendiri. Maka
tak heran timbul lah kekecewaan yang membuat gerah masyarakat dengan tingkah
laku mereka yang berhasil menduduki kursi panas. Seperti sebagian rakyat miskin
yang gerah karena janji para pejabat untuk membantu menunjang materi mereka
tidak pernah terealisaskani, para ulama
yang gerah akan tingkah laku para pejabat yang tak tahu diri dan lain
sebagainya. Ya, semua berhak menyuarakan kekecewaan, tetapi sayangnya para
penduduk kursi panas hanya sedikit yang mendengar dan bisa jadi pura-pura tuli
berlagak tak peduli.
Dan ternyata hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan
yang terjadi di tanah air kita dalam ranah perpolitikkan dan berhasil
mengalahkan eksistensi berita lain seperti Ujian Nasional dalam ranah
pendidikan ataupun penutupan gang Dolly dalam ranah sosial. Maka kita tidak
bisa mengelak, bahwasanya sayembara ‘kursi panas’ memang pantas menduduki
tangga trending-topic berita saat ini bukan?
Ditulis
oleh : Rakhmi Vegi Arizka
Editor : Sofwan Najmu
Diterbitkan
di majalah IKPDN (Perdana edisi 137 April 2014) Kairo, Mesir.
0 komentar:
Posting Komentar