Rabu, 30 April 2014

Menapaki Langkah Menelaah Saksi Bisu Sejarah Lillahi Ta’ala

11.15 WK

Ku lirik kembali jam tangan di tanganku. Sudah kesekian kalinya aku menatap jam tangan lalu kembali kepada buku yang ku baca dan juga sambil mengecap beberapa cemilan yang ada. Tak mempan juga, akhirnya kusudahi membaca buku dan ngemil, fokus kepada waktu yang terus berjalan dan terus melihatku menunggu dari jam 8 pagi sambil mondar-mandir buuts banat (asrama putri) dan baqolah (warung).
Walaupun rasa malas meliputi diriku, tetapi mau-tak-mau aku harus melatih diri memegang komitmen karena sudah menyanggupi untuk membantu Kak Baits dan kawan-kawannya dalam proyek guide book yang akan mereka terbitkan. Aku harus bergerak untuk siap-siap berkelana yang tempatnya akupun tak tahu dimana. Dengan kostum yang disarankan ka Baits yaitu gamis yang bercorak timur-tengah aku mendadak merasa gerah karena cahaya matahari yang cerah mulai berada di tengah hamparan langit di atas kepala manusia. Akupun mengadah ke langit dan berkata dalam hati “Kira-kira jadi apa tidak ?”
Dering ponsel yang berbunyi untuk yang kedua kalinya membuatku beralih pandang ke layar ponsel. Teringat pada dering pertama terdengar suara Kak Baits yang memberi informasi bahwasanya waktu kita pergi akan diundur dari jam 8 pagi ke jam 11 siang. Dan dering kali ini membuatku sedikit lega dan menjawab pertanyaan batinku tadi. Ya, kali ini suara kak Baits memberitahukan bahwasanya dia dan kawan-kawan sudah siap pergi dan sedang menuju perjalanan ke depan Buuts Banin (Asrama Laki-laki).
Sebenarnya aku tak heran dengan pengunduran waktu pergi tersebut. Mengingat orang-orang yang mengajakku pergi adalah mereka yang sudah sibuk di negeri seribu menara yang kini aku tinggali. Wajar jika mereka mengundur waktu guna menyempatkan diri terlibat dalam proyek buku ini. Setelah Kak Baits menyuruhku segera ke depan gerbang buuts banin dan kami berlima akhirnya berkumpul. Kak Baits dengan jabatannya sebagai ketua perkumpulan almamater pesantren kami, Kak Sofwan yang namanya sudah mulai mencuat di dunia tulis-menulis masisir (mahasiswan Indonesia di mesir), Kak Wahid yang berkarakter unik dan terjun dalam dunia para cerpenis, Kak Badrut yang tangannya sangat lihai memakai kamera CLR dan juga merupakan wakil dari kak Baits, dan terakhir ya aku pelajar yang baru menginjakan kaki dua bulan lebih di bumi para Nabi ini akhirnya, Bismillah siap berangkat ke tempat tujuan.
            Perjalanan kami awali dengan berjalan kaki menuju stasiun metro yaitu kereta api bawah tanah peninggalan negara Perancis yang dahulunya pernah menapak kaki di negara Mesir ini. Terlihat langkah kaki orang mesir yang lebar dan cepat keluar masuk metro beriringan dengan langkah kami penduduk Asia yang mencoba menyeimbangi. Aku yang setengah ragu akan duduk sendiri gerbong untuk wanita dicegah oleh kaka-kaka mengingat aku hanya perempuan sendiri yang belum tentu tahu tempat pemberhentian yang dituju. Akhirnya aku duduk di gerbong yang dominan laki-laki dengan diawasi oleh kaka-kaka yang menjagakku agar bisa jaga diri mengingat tidak hanya keturunan para Nabi disini tetapi pembangkang Nabi pun ada dan mereka nekat untuk mencuri.
            Kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Girgis dan tatapan mataku langsung disambut oleh pemandangan bangunan klasik di daerah itu. Kunikmati cuacanya yang lebih menenangkan dan sunyi dari bisingnya lalu-lintas kota Kairo. Sensasinya membawaku melayang membayangkan peradaban Mesir jaman dahulu. SubhanAllah terdetik pertanyaan dalam hatiku, “Apakah tanah yang kupijak ini adalah tanah yang sama yang pernah dilalui oleh para Nabi ataupun para pencari ilmu yang mulia dahulu?”, aku tak tahu tetapi yang aku tahu, dalam hati aku berdo’a semoga aku bisa seperti tawadhu’ dan istiqomahnya mereka yang telah menghadap Alloh terlebih dahulu. 
            Langkah kami dipandu oleh ka Wahid yang berjalan dengan buku di tangannya sambil menjelaskan kepada kami tentang bangunan yang menyambut kami melangkahi kota Girgis yaitu Gereja Abu Serga dan Gereja Gantung yang konon katanya adalah awal dari kehidupan kristiani di Mesir peninggalan dari negara Spanyol. Lantunan do’a umat kristiani berbahasa arab menyambut kami ketika masuk melihat kokohnya bangunan sejarah yang terawat.

Aku pribadi baru kali ini masuk ke rumah peribadatan selain agamaku dan rasanya memang ada aura yang berbeda yang membuat aku kurang bisa lama-lama berada di tempat tersebut. Namun hormat aku meninggalkan tempat peribadatan itu dan menyadari begitu toleransinya umat muslim di Mesir dalam menjalin persaudaraan dengan non-muslim karena tidak kudapati tanda-tanda gangguan tak suka penduduk muslim mesir terhadap gereja tersebut.
Kami pun melanjutkan perjalanan ke Gereja Gantung yang letaknya bersebelahan dengan Gereja Abu Serga. Aku sedikit bingung mengapa Gereja tersebut dinamakan “Gereja Gantung” tetapi tak ku dapati sedikitpun sesuatu yang digantung di sekitar gereja tersebut. Besar rasa penasaranku seperti besarnya kubah gereja tersebut yang sedang dalam tahap renovasi.
Setelah puas menelaah bangunan umat kristiani saatnya kami bertandang ke tempat dengan suasana yang islami yaitu mesjid yang merupakan awal dari bedirinya mesjid-mesjid yang lain di negara Mesir. Ya Masjid Amru bin ‘Ash yang siang itu terasa sepi namun menyejukkan hati. Teriknya matahari mendukungku untuk memicingkan mata terpesona oleh cahaya perpaduan antara mentari dan pantauan lantai mesjid yang semakin menunjukkan keindahan klasiknya bangunan ini. Kami pun memutuskan untuk merasakan sejenak ketenangan batin beribadah menunaikan shalat Zuhur disini.



 -          Tim guide book narsis dulu sembari istirahat sejenak untuk berwudhu :D (Ka Sofwan, Ka Wahid, Ka Badrut dan Aku). Foto diambil oleh : Ka Baits  -
Ka Badrut tampak khusyuk mengimami Ka Baits, Ka Wahid dan Ka Sofwan solat Zuhur  di Mesjid Amru bin ‘Ash. Foto diambil oleh : Rakhmi Vegi Arizka   -

Mengejar waktu kami pun segera bergegas menuju tempat selanjutnya yaitu Nilometer dan Museum Ummu Kultsum. Hal yang membuatku tertawa campur miris adalah ketika kami memutuskan untuk naik Taksi dan mendapati Ka Baits, Ka Badrut, Ka Sofwan dan Ka Wahid terpaksa ikut tertawa terhimpit dalam taksi kecil yang memuat badan mereka. Hal itu membuatku takjub melihat semangat kakak-kakak menyatu dalam kursi yang satu tertawa dalam kesulitan bersama, alangkah indahnya kebersamaan bukan?


-          Walaupun sempit yang penting narsis :D (Ka Baits, Ka Badrut, Ka Sofwan dan Ka Wahid). Foto diambil oleh: Rakhmi Vegi Arizka –


Sekitar Museum Umi Kultsum dan Nilometer terlihat sepi ketika kami menapakkan kaki keluar dari taksi. Hanya ada beberapa warga mesir yang menyapa kami yang dianggap turis. Tertawa kami sama-sama melangkah menuju gerbang museum dan terpesona dengan indahnya Nil yang terletak di belakang bangunan Nilometer. Begitu kami masuk museum kami disambut oleh gambar Ummu Kultsum dan patung pembuat Nilometer.

Tak sabar kami mengikuti langkah penjaga gedung Nilometer untuk melihat bagaimana bentuk pengukur dalamnya salah satu sungai terpanjang di dunia. Kami semua ternganga betapa takjubnya Maha Pencipta menciptakan pemikiran makhluk-Nya yang membuat penemuan yang membuat kami ingin sekali mengabadikannya dalam kamera. Mulai dari ornament atapnya yang terukir indah sampai Nilometer yang membuat kami penasaran ingin masuk dan menelaah ke bawahnya.

-          Indahnya atap Nilometer. Foto diambil oleh : Rakhmi Vegi Arizka  -



-          Ka Sofwan, Aku, Ka Wahid dan Ka Badrut memberanikan diri ke bawah Nilometer. Foto diambil oleh : Ka Baits  -

Ka Sofwan, Ka Wahid, Ka Badrut dan aku melantunkan pujian betapa Alloh memuliakan ciptaan-Nya dengan memberinya akal untuk berpikir, berinovasi menciptakan hal-hal baru yang bisa mempertahankan eksistensi mereka sebagai khalifah di bumi-Nya. Yang membuatku tertawa adalah Ka Baits yang hanya mempersilahkan kami turun ke bawah tetapi tidak dengan dirinya. Ka Baits hanya memotret kami dari atas dan tertawa renyah ketika kami melempar hujatan lelucon kepadanya karena tidak berani ke bawah.

Setelah kami merasa cukup medokumentasikan semuanya kami pun berpisah dengan Nilometer dan beristirahat sejenak dimanjakan oleh pemandangan sungai Nil yang melintang, pohon kapas yang rindang dan rumput hijau yang membentang ditambah dengan udara sejuk yang berhembus menghapus peluh lelah kami. Ka Sofwan dan Ka Badrut memilih duduk dihamparan rumput sementara Ka Wahid dan Ka Baits sibuk memotret pemandangan. Aku sendiri memilih duduk dibawah pohon kapas dengan ponsel tergenggam di tangan karena sedang menjawab telepon dari Mama Amani yang sudah aku anggap sebagai mamah angkatku di Negeri Nabi Musa ini. Setelah aku menyudahi telepon aku bergabung bersama ka Wahid dan Ka Baits menikmati indahnya pemandangan Nil.
Puas kami melepas lelah akhirnya kami kembali berpacu dengan waktu mengejar beberapa tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu Benteng Qeitbay yang terletak di Sayedah Zaenab dan Mesjid sejarah yang aku lupa namanya ^^V. Ka Wahid sebagai navigator memandu kami dengan berjalan kaki karena dekatnya perjalanan. Sepanjang perjalanan ada saja celoteh yang keluar dari mulut kami dan sering kali Kak Baits lagi yang menjadi korban hujatan ledekan kami.
Setiap gang kami lewati, panasnya terik matahari membuat tenggorokan kami mengadu meminta air segar sehingga membuat langkah kami terhenti untuk membeli ‘ashob di pinggir jalan dahulu. Aku dan Ka Wahid memilih duduk menikmati minuman. Segar ku teguk cepat minuman jeruk yang manisnya terasa mendarat di lidahku. Tetapi kuperhatikan tidak demikian dengan Ka Wahid yang sepertinya tidak terlalu suka dengan minuman itu, berlainan dengan Ka Baits Ka Sofwan dan Ka Badrut yang langsung meneguk minuman itu habis.
Paerjalanan pun dilanjutkan setelah dahaga haus kami puaskan. Langkah kami terayun kembali semangat menapaki setiap jalanan sambil bertanya beberapa kali lokasi yang akan kami tuju kepada sesama pejalan. Hampir semua orang yang kami tanya menjawab pertanyaan kami bahwasanya lokasi itu dekat sehingga kami memutuskan untuk tetap berjalan. Kami terus optimis berjalan menyatu dengan alam. Gedung-gedung kami lewati, anak sungai Nil kami telusuri, namun tidak kami dapati lokasi yang kami ingini. Jarak yang dekat kami anggap kini jauh terasa tak tergarap langkah. Aku coba membuat semangat langkah kaka-kaka untuk tak mengenal lelah. Mereka tersenyum namun jelas tersirat rasa lelah.
Tiba-tiba ka Sofwan melontarkan ide yang membuat kami terasa keluar dari penjara pemikiran akan dekatnya jarak.  Selama ini kami berpikir kalau tidak jalan kaki ya naik taksi, namun beberapa taksi yang kami buat terhenti urung tidak membawa kami karena dekatnya lokasi atau ternyata tidak tahu lokasi. Kami tidak berfikir bahwasanya masih ada bis yang bersedia membawa kami ke penghujung jalan. Saran ka Sofwan untuk naik Bis bisa membuat kami sedikit beristirahat karena akhirnya dapat duduk melepas lelah. Ramah orang Mesir mengetahui kami orang Indonesia membuatku bisa nyaman meregangkan kaki yang sedari tadi berjalan. Namun terasa bagiku inilah nikmat sesungguhnya perjalanan.
Kami pun turun di ujung jalan dan kembali berjalan dengan arahan ka Wahid. Kali ini kami berharap semoga jarak yang kami tempuh benar-benar dekat. Dan selang kurang lebih 10 menit mata kami melebar mendapati Benteng yang kokoh di tengah hiruk pikuknya kota. Tidak salah lagi, ini adalah lokasi yang kami tuju. Langkah kami semakin cepat ingin mendokumentasikan dalam kamera dan ingatan. Namun langkah ini tercegat ketika kami hanya bisa menahan takjub di depan gerbang benteng Qitbay. Ya, Benteng sedang dalam tahap renovasi dan kami tidak diperkenankan masuk. Tersirat sedikit kekecewaan kami lebih-lebih Ka Wahid yang sedari tadi menuntun kami dan kini merasakan sedikit pusing di kepalanya. Dan akhirnya, kami meninggalkan benteng dengan langkah kecewa.

-          Ka Sofwan, Aku, Ka Wahid dan Ka Badrut menatap anak sungai Nil dengan kekecewaan ketika kami tidak bisa masuk Benteng. Foto diambil oleh : Ka Baits -

Harapan kami terakhir jatuh kepada mesjid di daerah Sayedah Zaenab sebagai tempat terakhir yang akan kami kunjungi. Tersadar ternyata optimis membuat kami sanggup berjalan jauh dari Girgis sampai Sayyedah Zaenab, luar biasa! Kadang ketika kita sudah ambisius terhadap sesuatu dan fokus, kita tidak menyadari ternyata kita telah berusaha jauh. Walaupun hasilnya kadang tidak sesuai dengan harapan tetapi prosesnya yang memang melelahkan mampu membuat kita dapat merasakan nikmatnya perjuangan J

Kali ini kami memutuskan naik El-Tramco untuk menyimpan sisa-sisa semangat kami menuju bangunan terakhir yang akan kami kunjungi. Waktu yang sudah semakin sore ternyata tidak berpihak kepada kami karena setelah sampai ternyata area sudah ditutup untuk pengunjung. Sedikit kecewa kami memutuskan pulang. Namun wajah kami sedikit cerah ketika akhirnya kami diperbolehkan masuk selama 5 menit setelah Ka Badrut bernegoisasi kepada petugas penjaga. Kami manfaatkan waktu tersebut sebaik-baiknya untuk mengejar target guide book. Terhujam tatapan penjaga yang kurang bersahabat karena saking menikmati pemandangan lebih dari lima menit akhirnya kami memutuskan makan di Hay Saabi’ sebelum pulang ^^V
 Taksi yang membawa kami menuju Hay Sabi’ berjalan mulus walaupun sedikit terkena macet. Aku terlena oleh kursi empuk taksi begitupun kaka kaka yang duduk dibelakang. Masing-masing sibuk dengan kelelahan diri. Sampai di Hay Sabi’ kami menunaikan shalat Ashar dan menuju tempat makan untuk memanjakan perut kami yang mulai tak bisa menahan lapar. Namun sejenak ada suasana yang tidak enak di rumah makan tersebut sehingga membuat kami melahap makanan dengan cepat. Dan akhirnya kami pun berpisah aku dan Ka Sofwan pulang ke Buuts sementara Ka Baits, Ka Wahid dan Ka Badrut ke Bawabah. Bis menuju Buuts cepat melewati kami. Ka Sofwan mengejar dan naik ke bus. Sementara aku yang tertinggal merasakan sensasi seperti di film-film ketika mengejar bus. Berhasil! Ya aku berhasil berlari cepat mengejar bus. Aku langsung lega melihat bus yang lengang dan memilih duduk di belakang Ka Sofwan. Tersadar ternyata Ka Wahid mengikuti langkah kami pulang ke buuts dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi.
Kami bertiga pun turun di mahattoh dan berjalan menuju buuts. Jalanan gelap menyambut kami. Lampu-lampu sekitar buuts banat padam. Aku bersyukur mengatakan kepada Ka Wahid dan Ka Sofwan kalau buuts banat jarang mati lampu. Dan ternyata ucapan syukurku berubah menjadi syukurin karena ternyata buuts banat lampunya ikut terpadamkan. Namun rasa bahagiaku tidak terpadamkan malam itu karena mendapatkan pengalaman tak terlupakan seharian bersama kakak-kakak. Ya, menapaki langkah menelaah saksi bisu sejarah Lillahi Ta’ala ^^
-rva-
Madinat El- bu’uts
00:01 WK
            



 

1 komentar:

Shofwan Najmu mengatakan...

Nice story, Rahmi... Ana ketawa2 sendiri bacanya... Hehe... :D
Lanjutkan, dan asah terus kemampuan menulisnya! :)

Posting Komentar