11.15 WK
Ku lirik kembali jam tangan di tanganku. Sudah kesekian kalinya aku
menatap jam tangan lalu kembali kepada buku yang ku baca dan juga sambil
mengecap beberapa cemilan yang ada. Tak mempan juga, akhirnya kusudahi membaca
buku dan ngemil, fokus kepada waktu yang terus berjalan dan terus melihatku menunggu
dari jam 8 pagi sambil mondar-mandir buuts banat (asrama putri) dan baqolah
(warung).
Walaupun rasa malas meliputi diriku, tetapi mau-tak-mau aku harus
melatih diri memegang komitmen karena sudah menyanggupi untuk membantu Kak
Baits dan kawan-kawannya dalam proyek guide book yang akan mereka
terbitkan. Aku harus bergerak untuk siap-siap berkelana yang tempatnya akupun
tak tahu dimana. Dengan kostum yang disarankan ka Baits yaitu gamis yang
bercorak timur-tengah aku mendadak merasa gerah karena cahaya matahari yang
cerah mulai berada di tengah hamparan langit di atas kepala manusia. Akupun
mengadah ke langit dan berkata dalam hati “Kira-kira jadi apa tidak ?”
Dering ponsel yang berbunyi untuk yang kedua kalinya
membuatku beralih pandang ke layar ponsel. Teringat pada dering pertama terdengar
suara Kak Baits yang memberi informasi bahwasanya waktu kita pergi akan diundur
dari jam 8 pagi ke jam 11 siang. Dan dering kali ini membuatku sedikit lega dan
menjawab pertanyaan batinku tadi. Ya, kali ini suara kak Baits memberitahukan
bahwasanya dia dan kawan-kawan sudah siap pergi dan sedang menuju perjalanan ke
depan Buuts Banin (Asrama Laki-laki).
Sebenarnya aku tak heran dengan pengunduran waktu pergi tersebut.
Mengingat orang-orang yang mengajakku pergi adalah mereka yang sudah sibuk di
negeri seribu menara yang kini aku tinggali. Wajar jika mereka mengundur waktu
guna menyempatkan diri terlibat dalam proyek buku ini. Setelah Kak Baits
menyuruhku segera ke depan gerbang buuts banin dan kami berlima akhirnya berkumpul. Kak
Baits dengan jabatannya sebagai ketua perkumpulan almamater pesantren kami, Kak
Sofwan yang namanya sudah mulai mencuat di dunia tulis-menulis masisir
(mahasiswan Indonesia di mesir), Kak Wahid yang berkarakter unik dan terjun
dalam dunia para cerpenis, Kak Badrut yang tangannya sangat lihai memakai
kamera CLR dan juga merupakan wakil dari kak Baits, dan terakhir ya aku pelajar
yang baru menginjakan kaki dua bulan lebih di bumi para Nabi ini akhirnya,
Bismillah siap berangkat ke tempat tujuan.
Perjalanan kami awali dengan
berjalan kaki menuju stasiun metro yaitu kereta api bawah tanah
peninggalan negara Perancis yang dahulunya pernah menapak kaki di negara Mesir
ini. Terlihat langkah kaki orang mesir yang lebar dan cepat keluar masuk metro
beriringan dengan langkah kami penduduk Asia yang mencoba menyeimbangi. Aku
yang setengah ragu akan duduk sendiri gerbong untuk wanita dicegah oleh kaka-kaka
mengingat aku hanya perempuan sendiri yang belum tentu tahu tempat
pemberhentian yang dituju. Akhirnya aku duduk di gerbong yang dominan laki-laki
dengan diawasi oleh kaka-kaka yang menjagakku agar bisa jaga diri mengingat
tidak hanya keturunan para Nabi disini tetapi pembangkang Nabi pun ada dan
mereka nekat untuk mencuri.
Kereta yang kami tumpangi berhenti
di Stasiun Girgis dan tatapan mataku langsung disambut oleh pemandangan
bangunan klasik di daerah itu. Kunikmati cuacanya yang lebih menenangkan dan
sunyi dari bisingnya lalu-lintas kota Kairo. Sensasinya membawaku melayang
membayangkan peradaban Mesir jaman dahulu. SubhanAllah terdetik pertanyaan
dalam hatiku, “Apakah tanah yang kupijak ini adalah tanah yang sama yang pernah
dilalui oleh para Nabi ataupun para pencari ilmu yang mulia dahulu?”, aku tak
tahu tetapi yang aku tahu, dalam hati aku berdo’a semoga aku bisa seperti
tawadhu’ dan istiqomahnya mereka yang telah menghadap Alloh terlebih
dahulu.
Langkah kami dipandu oleh ka Wahid
yang berjalan dengan buku di tangannya sambil menjelaskan kepada kami tentang bangunan
yang menyambut kami melangkahi kota Girgis yaitu Gereja Abu Serga dan Gereja
Gantung yang konon katanya adalah awal dari kehidupan kristiani di Mesir
peninggalan dari negara Spanyol. Lantunan do’a umat kristiani berbahasa arab
menyambut kami ketika masuk melihat kokohnya bangunan sejarah yang terawat.
Aku pribadi baru kali ini masuk ke rumah peribadatan selain agamaku
dan rasanya memang ada aura yang berbeda yang membuat aku kurang bisa lama-lama
berada di tempat tersebut. Namun hormat aku meninggalkan tempat peribadatan itu
dan menyadari begitu toleransinya umat muslim di Mesir dalam menjalin
persaudaraan dengan non-muslim karena tidak kudapati tanda-tanda gangguan tak
suka penduduk muslim mesir terhadap gereja tersebut.
Kami pun
melanjutkan perjalanan ke Gereja Gantung yang letaknya bersebelahan dengan
Gereja Abu Serga. Aku sedikit bingung mengapa Gereja tersebut dinamakan “Gereja
Gantung” tetapi tak ku dapati sedikitpun sesuatu yang digantung di sekitar
gereja tersebut. Besar rasa penasaranku seperti besarnya kubah gereja tersebut
yang sedang dalam tahap renovasi.
Setelah
puas menelaah bangunan umat kristiani saatnya kami bertandang ke tempat dengan
suasana yang islami yaitu mesjid yang merupakan awal dari bedirinya
mesjid-mesjid yang lain di negara Mesir. Ya Masjid Amru bin ‘Ash yang siang itu
terasa sepi namun menyejukkan hati. Teriknya matahari mendukungku untuk
memicingkan mata terpesona oleh cahaya perpaduan antara mentari dan pantauan
lantai mesjid yang semakin menunjukkan keindahan klasiknya bangunan ini. Kami
pun memutuskan untuk merasakan sejenak ketenangan batin beribadah menunaikan
shalat Zuhur disini.
-
Tim
guide book narsis dulu sembari istirahat sejenak untuk berwudhu :D (Ka Sofwan,
Ka Wahid, Ka Badrut dan Aku). Foto diambil
oleh : Ka Baits -
Ka Badrut tampak khusyuk mengimami Ka Baits, Ka
Wahid dan Ka Sofwan solat Zuhur di
Mesjid Amru bin ‘Ash. Foto diambil oleh : Rakhmi Vegi Arizka -
Mengejar waktu kami pun segera bergegas menuju tempat selanjutnya
yaitu Nilometer dan Museum Ummu Kultsum. Hal yang membuatku tertawa campur
miris adalah ketika kami memutuskan untuk naik Taksi dan mendapati Ka Baits, Ka
Badrut, Ka Sofwan dan Ka Wahid terpaksa ikut tertawa terhimpit dalam taksi kecil
yang memuat badan mereka. Hal itu membuatku takjub melihat semangat kakak-kakak
menyatu dalam kursi yang satu tertawa dalam kesulitan bersama, alangkah
indahnya kebersamaan bukan?
-
Walaupun
sempit yang penting narsis :D (Ka Baits, Ka Badrut, Ka Sofwan dan Ka Wahid).
Foto diambil oleh: Rakhmi Vegi Arizka –
Sekitar Museum
Umi Kultsum dan Nilometer terlihat sepi ketika kami menapakkan kaki keluar dari
taksi. Hanya ada beberapa warga mesir yang menyapa kami yang dianggap turis.
Tertawa kami sama-sama melangkah menuju gerbang museum dan terpesona dengan
indahnya Nil yang terletak di belakang bangunan Nilometer. Begitu kami masuk
museum kami disambut oleh gambar Ummu Kultsum dan patung pembuat Nilometer.
Tak sabar kami
mengikuti langkah penjaga gedung Nilometer untuk melihat bagaimana bentuk
pengukur dalamnya salah satu sungai terpanjang di dunia. Kami semua ternganga
betapa takjubnya Maha Pencipta menciptakan pemikiran makhluk-Nya yang membuat
penemuan yang membuat kami ingin sekali mengabadikannya dalam kamera. Mulai
dari ornament atapnya yang terukir indah sampai Nilometer yang membuat kami
penasaran ingin masuk dan menelaah ke bawahnya.
-
Indahnya
atap Nilometer. Foto diambil oleh : Rakhmi Vegi Arizka -
-
Ka
Sofwan, Aku, Ka Wahid dan Ka Badrut
memberanikan diri ke bawah Nilometer. Foto diambil oleh : Ka Baits -
Ka
Sofwan, Ka Wahid, Ka Badrut dan aku melantunkan pujian betapa Alloh memuliakan
ciptaan-Nya dengan memberinya akal untuk berpikir, berinovasi menciptakan
hal-hal baru yang bisa mempertahankan eksistensi mereka sebagai khalifah
di bumi-Nya. Yang membuatku tertawa adalah Ka Baits yang hanya mempersilahkan
kami turun ke bawah tetapi tidak dengan dirinya. Ka Baits hanya memotret kami
dari atas dan tertawa renyah ketika kami
melempar hujatan lelucon kepadanya karena tidak berani ke bawah.
Setelah
kami merasa cukup medokumentasikan semuanya kami pun berpisah dengan Nilometer
dan beristirahat sejenak dimanjakan oleh pemandangan sungai Nil yang melintang,
pohon kapas yang rindang dan rumput hijau yang membentang ditambah dengan udara
sejuk yang berhembus menghapus peluh lelah kami. Ka Sofwan dan Ka Badrut
memilih duduk dihamparan rumput sementara Ka Wahid dan Ka Baits sibuk memotret
pemandangan. Aku sendiri memilih duduk dibawah pohon kapas dengan ponsel
tergenggam di tangan karena sedang menjawab telepon dari Mama Amani yang sudah
aku anggap sebagai mamah angkatku di Negeri Nabi Musa ini. Setelah aku
menyudahi telepon aku bergabung bersama ka Wahid dan Ka Baits menikmati
indahnya pemandangan Nil.
Puas
kami melepas lelah akhirnya kami kembali berpacu dengan waktu mengejar beberapa
tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu Benteng Qeitbay yang terletak di
Sayedah Zaenab dan Mesjid sejarah yang aku lupa namanya ^^V. Ka Wahid sebagai
navigator memandu kami dengan berjalan kaki karena dekatnya perjalanan.
Sepanjang perjalanan ada saja celoteh yang keluar dari mulut kami dan sering
kali Kak Baits lagi yang menjadi korban hujatan ledekan kami.
Setiap
gang kami lewati, panasnya terik matahari membuat tenggorokan kami mengadu
meminta air segar sehingga membuat langkah kami terhenti untuk membeli ‘ashob
di pinggir jalan dahulu. Aku dan Ka Wahid memilih duduk menikmati minuman.
Segar ku teguk cepat minuman jeruk yang manisnya terasa mendarat di lidahku.
Tetapi kuperhatikan tidak demikian dengan Ka Wahid yang sepertinya tidak terlalu
suka dengan minuman itu, berlainan dengan Ka Baits Ka Sofwan
dan Ka Badrut yang langsung meneguk minuman itu habis.
Paerjalanan pun dilanjutkan setelah dahaga haus kami puaskan. Langkah kami terayun kembali
semangat menapaki setiap jalanan sambil bertanya beberapa kali lokasi yang akan
kami tuju kepada sesama pejalan. Hampir semua orang yang kami tanya menjawab
pertanyaan kami bahwasanya lokasi itu dekat sehingga kami memutuskan untuk
tetap berjalan. Kami terus optimis berjalan menyatu dengan alam. Gedung-gedung
kami lewati, anak sungai Nil kami telusuri, namun tidak kami dapati lokasi yang
kami ingini. Jarak yang dekat kami anggap kini jauh terasa tak tergarap
langkah. Aku coba membuat semangat langkah kaka-kaka untuk tak mengenal lelah.
Mereka tersenyum namun jelas tersirat rasa
lelah.
Tiba-tiba
ka Sofwan melontarkan ide yang membuat kami terasa keluar dari penjara pemikiran
akan dekatnya jarak. Selama ini kami
berpikir kalau tidak jalan kaki ya naik taksi, namun beberapa taksi yang kami
buat terhenti urung tidak membawa kami karena dekatnya lokasi atau ternyata
tidak tahu lokasi. Kami tidak berfikir bahwasanya masih ada bis
yang bersedia membawa kami ke penghujung jalan. Saran ka Sofwan untuk naik Bis
bisa membuat kami sedikit beristirahat karena akhirnya dapat duduk melepas
lelah. Ramah orang Mesir mengetahui kami orang Indonesia membuatku bisa nyaman
meregangkan kaki yang sedari tadi berjalan. Namun terasa bagiku inilah nikmat sesungguhnya perjalanan.
Kami
pun turun di ujung jalan dan kembali berjalan dengan arahan ka Wahid. Kali ini
kami berharap semoga jarak yang kami tempuh benar-benar dekat. Dan selang
kurang lebih 10 menit mata kami melebar mendapati Benteng yang kokoh di tengah hiruk pikuknya kota. Tidak salah lagi, ini adalah lokasi yang kami tuju. Langkah
kami semakin cepat ingin mendokumentasikan dalam kamera dan ingatan. Namun
langkah ini tercegat ketika kami hanya bisa menahan takjub di depan gerbang
benteng Qitbay. Ya, Benteng sedang dalam tahap renovasi dan kami tidak
diperkenankan masuk. Tersirat sedikit kekecewaan kami lebih-lebih Ka Wahid yang
sedari tadi menuntun kami dan kini merasakan sedikit pusing di kepalanya. Dan
akhirnya, kami meninggalkan benteng dengan langkah kecewa.
-
Ka
Sofwan, Aku, Ka Wahid dan Ka Badrut menatap
anak sungai Nil dengan kekecewaan ketika kami tidak bisa masuk Benteng. Foto
diambil oleh : Ka Baits -
Harapan
kami terakhir jatuh kepada mesjid di daerah Sayedah Zaenab sebagai tempat
terakhir yang akan kami kunjungi. Tersadar ternyata optimis membuat kami
sanggup berjalan jauh dari Girgis sampai Sayyedah Zaenab, luar biasa! Kadang ketika kita sudah
ambisius terhadap sesuatu dan fokus, kita tidak menyadari ternyata kita telah
berusaha jauh. Walaupun hasilnya kadang tidak sesuai dengan harapan tetapi
prosesnya yang memang melelahkan mampu membuat kita dapat merasakan nikmatnya
perjuangan J
Kali ini kami memutuskan naik El-Tramco untuk
menyimpan sisa-sisa semangat kami menuju bangunan terakhir yang akan kami
kunjungi. Waktu yang sudah semakin sore ternyata tidak berpihak kepada kami
karena setelah sampai ternyata area sudah ditutup untuk pengunjung. Sedikit
kecewa kami memutuskan pulang. Namun wajah kami sedikit cerah ketika akhirnya
kami diperbolehkan masuk selama 5 menit setelah Ka Badrut bernegoisasi kepada
petugas penjaga. Kami manfaatkan waktu tersebut sebaik-baiknya untuk mengejar
target guide book. Terhujam tatapan penjaga yang kurang bersahabat karena
saking menikmati pemandangan lebih dari lima menit akhirnya kami memutuskan
makan di Hay Saabi’ sebelum pulang ^^V
Taksi yang membawa kami menuju Hay Sabi’
berjalan mulus walaupun sedikit terkena macet. Aku terlena oleh kursi empuk
taksi begitupun kaka kaka yang duduk dibelakang. Masing-masing sibuk dengan
kelelahan diri. Sampai di Hay Sabi’ kami menunaikan shalat Ashar dan
menuju tempat makan untuk memanjakan perut kami yang mulai tak bisa menahan
lapar. Namun sejenak ada suasana yang tidak enak di rumah makan tersebut
sehingga membuat kami melahap makanan dengan cepat. Dan akhirnya kami pun
berpisah aku dan Ka Sofwan pulang ke Buuts sementara Ka Baits, Ka Wahid
dan Ka Badrut ke Bawabah. Bis menuju Buuts cepat melewati kami.
Ka Sofwan mengejar dan naik ke bus. Sementara aku yang tertinggal merasakan
sensasi seperti di film-film ketika mengejar bus. Berhasil! Ya aku berhasil
berlari cepat mengejar bus. Aku langsung lega melihat bus yang lengang dan
memilih duduk di belakang Ka Sofwan. Tersadar ternyata Ka Wahid mengikuti
langkah kami pulang ke buuts dan langsung menghempaskan tubuhnya ke
kursi.
Kami bertiga pun turun di mahattoh
dan berjalan menuju buuts. Jalanan gelap menyambut kami. Lampu-lampu
sekitar buuts banat padam. Aku bersyukur mengatakan kepada Ka Wahid dan
Ka Sofwan kalau buuts banat jarang mati lampu. Dan ternyata
ucapan syukurku berubah menjadi syukurin karena ternyata buuts banat
lampunya ikut terpadamkan. Namun rasa bahagiaku tidak terpadamkan malam itu
karena mendapatkan pengalaman tak terlupakan seharian bersama kakak-kakak. Ya,
menapaki langkah menelaah saksi bisu sejarah Lillahi Ta’ala ^^
-rva-
Madinat El- bu’uts
00:01 WK






1 komentar:
Nice story, Rahmi... Ana ketawa2 sendiri bacanya... Hehe... :D
Lanjutkan, dan asah terus kemampuan menulisnya! :)
Posting Komentar