Rabu, 30 April 2014

Menapaki Langkah Menelaah Saksi Bisu Sejarah Lillahi Ta’ala

11.15 WK

Ku lirik kembali jam tangan di tanganku. Sudah kesekian kalinya aku menatap jam tangan lalu kembali kepada buku yang ku baca dan juga sambil mengecap beberapa cemilan yang ada. Tak mempan juga, akhirnya kusudahi membaca buku dan ngemil, fokus kepada waktu yang terus berjalan dan terus melihatku menunggu dari jam 8 pagi sambil mondar-mandir buuts banat (asrama putri) dan baqolah (warung).
Walaupun rasa malas meliputi diriku, tetapi mau-tak-mau aku harus melatih diri memegang komitmen karena sudah menyanggupi untuk membantu Kak Baits dan kawan-kawannya dalam proyek guide book yang akan mereka terbitkan. Aku harus bergerak untuk siap-siap berkelana yang tempatnya akupun tak tahu dimana. Dengan kostum yang disarankan ka Baits yaitu gamis yang bercorak timur-tengah aku mendadak merasa gerah karena cahaya matahari yang cerah mulai berada di tengah hamparan langit di atas kepala manusia. Akupun mengadah ke langit dan berkata dalam hati “Kira-kira jadi apa tidak ?”
Dering ponsel yang berbunyi untuk yang kedua kalinya membuatku beralih pandang ke layar ponsel. Teringat pada dering pertama terdengar suara Kak Baits yang memberi informasi bahwasanya waktu kita pergi akan diundur dari jam 8 pagi ke jam 11 siang. Dan dering kali ini membuatku sedikit lega dan menjawab pertanyaan batinku tadi. Ya, kali ini suara kak Baits memberitahukan bahwasanya dia dan kawan-kawan sudah siap pergi dan sedang menuju perjalanan ke depan Buuts Banin (Asrama Laki-laki).
Sebenarnya aku tak heran dengan pengunduran waktu pergi tersebut. Mengingat orang-orang yang mengajakku pergi adalah mereka yang sudah sibuk di negeri seribu menara yang kini aku tinggali. Wajar jika mereka mengundur waktu guna menyempatkan diri terlibat dalam proyek buku ini. Setelah Kak Baits menyuruhku segera ke depan gerbang buuts banin dan kami berlima akhirnya berkumpul. Kak Baits dengan jabatannya sebagai ketua perkumpulan almamater pesantren kami, Kak Sofwan yang namanya sudah mulai mencuat di dunia tulis-menulis masisir (mahasiswan Indonesia di mesir), Kak Wahid yang berkarakter unik dan terjun dalam dunia para cerpenis, Kak Badrut yang tangannya sangat lihai memakai kamera CLR dan juga merupakan wakil dari kak Baits, dan terakhir ya aku pelajar yang baru menginjakan kaki dua bulan lebih di bumi para Nabi ini akhirnya, Bismillah siap berangkat ke tempat tujuan.
            Perjalanan kami awali dengan berjalan kaki menuju stasiun metro yaitu kereta api bawah tanah peninggalan negara Perancis yang dahulunya pernah menapak kaki di negara Mesir ini. Terlihat langkah kaki orang mesir yang lebar dan cepat keluar masuk metro beriringan dengan langkah kami penduduk Asia yang mencoba menyeimbangi. Aku yang setengah ragu akan duduk sendiri gerbong untuk wanita dicegah oleh kaka-kaka mengingat aku hanya perempuan sendiri yang belum tentu tahu tempat pemberhentian yang dituju. Akhirnya aku duduk di gerbong yang dominan laki-laki dengan diawasi oleh kaka-kaka yang menjagakku agar bisa jaga diri mengingat tidak hanya keturunan para Nabi disini tetapi pembangkang Nabi pun ada dan mereka nekat untuk mencuri.
            Kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Girgis dan tatapan mataku langsung disambut oleh pemandangan bangunan klasik di daerah itu. Kunikmati cuacanya yang lebih menenangkan dan sunyi dari bisingnya lalu-lintas kota Kairo. Sensasinya membawaku melayang membayangkan peradaban Mesir jaman dahulu. SubhanAllah terdetik pertanyaan dalam hatiku, “Apakah tanah yang kupijak ini adalah tanah yang sama yang pernah dilalui oleh para Nabi ataupun para pencari ilmu yang mulia dahulu?”, aku tak tahu tetapi yang aku tahu, dalam hati aku berdo’a semoga aku bisa seperti tawadhu’ dan istiqomahnya mereka yang telah menghadap Alloh terlebih dahulu. 
            Langkah kami dipandu oleh ka Wahid yang berjalan dengan buku di tangannya sambil menjelaskan kepada kami tentang bangunan yang menyambut kami melangkahi kota Girgis yaitu Gereja Abu Serga dan Gereja Gantung yang konon katanya adalah awal dari kehidupan kristiani di Mesir peninggalan dari negara Spanyol. Lantunan do’a umat kristiani berbahasa arab menyambut kami ketika masuk melihat kokohnya bangunan sejarah yang terawat.

Aku pribadi baru kali ini masuk ke rumah peribadatan selain agamaku dan rasanya memang ada aura yang berbeda yang membuat aku kurang bisa lama-lama berada di tempat tersebut. Namun hormat aku meninggalkan tempat peribadatan itu dan menyadari begitu toleransinya umat muslim di Mesir dalam menjalin persaudaraan dengan non-muslim karena tidak kudapati tanda-tanda gangguan tak suka penduduk muslim mesir terhadap gereja tersebut.
Kami pun melanjutkan perjalanan ke Gereja Gantung yang letaknya bersebelahan dengan Gereja Abu Serga. Aku sedikit bingung mengapa Gereja tersebut dinamakan “Gereja Gantung” tetapi tak ku dapati sedikitpun sesuatu yang digantung di sekitar gereja tersebut. Besar rasa penasaranku seperti besarnya kubah gereja tersebut yang sedang dalam tahap renovasi.
Setelah puas menelaah bangunan umat kristiani saatnya kami bertandang ke tempat dengan suasana yang islami yaitu mesjid yang merupakan awal dari bedirinya mesjid-mesjid yang lain di negara Mesir. Ya Masjid Amru bin ‘Ash yang siang itu terasa sepi namun menyejukkan hati. Teriknya matahari mendukungku untuk memicingkan mata terpesona oleh cahaya perpaduan antara mentari dan pantauan lantai mesjid yang semakin menunjukkan keindahan klasiknya bangunan ini. Kami pun memutuskan untuk merasakan sejenak ketenangan batin beribadah menunaikan shalat Zuhur disini.



 -          Tim guide book narsis dulu sembari istirahat sejenak untuk berwudhu :D (Ka Sofwan, Ka Wahid, Ka Badrut dan Aku). Foto diambil oleh : Ka Baits  -
Ka Badrut tampak khusyuk mengimami Ka Baits, Ka Wahid dan Ka Sofwan solat Zuhur  di Mesjid Amru bin ‘Ash. Foto diambil oleh : Rakhmi Vegi Arizka   -

Mengejar waktu kami pun segera bergegas menuju tempat selanjutnya yaitu Nilometer dan Museum Ummu Kultsum. Hal yang membuatku tertawa campur miris adalah ketika kami memutuskan untuk naik Taksi dan mendapati Ka Baits, Ka Badrut, Ka Sofwan dan Ka Wahid terpaksa ikut tertawa terhimpit dalam taksi kecil yang memuat badan mereka. Hal itu membuatku takjub melihat semangat kakak-kakak menyatu dalam kursi yang satu tertawa dalam kesulitan bersama, alangkah indahnya kebersamaan bukan?


-          Walaupun sempit yang penting narsis :D (Ka Baits, Ka Badrut, Ka Sofwan dan Ka Wahid). Foto diambil oleh: Rakhmi Vegi Arizka –


Sekitar Museum Umi Kultsum dan Nilometer terlihat sepi ketika kami menapakkan kaki keluar dari taksi. Hanya ada beberapa warga mesir yang menyapa kami yang dianggap turis. Tertawa kami sama-sama melangkah menuju gerbang museum dan terpesona dengan indahnya Nil yang terletak di belakang bangunan Nilometer. Begitu kami masuk museum kami disambut oleh gambar Ummu Kultsum dan patung pembuat Nilometer.

Tak sabar kami mengikuti langkah penjaga gedung Nilometer untuk melihat bagaimana bentuk pengukur dalamnya salah satu sungai terpanjang di dunia. Kami semua ternganga betapa takjubnya Maha Pencipta menciptakan pemikiran makhluk-Nya yang membuat penemuan yang membuat kami ingin sekali mengabadikannya dalam kamera. Mulai dari ornament atapnya yang terukir indah sampai Nilometer yang membuat kami penasaran ingin masuk dan menelaah ke bawahnya.

-          Indahnya atap Nilometer. Foto diambil oleh : Rakhmi Vegi Arizka  -



-          Ka Sofwan, Aku, Ka Wahid dan Ka Badrut memberanikan diri ke bawah Nilometer. Foto diambil oleh : Ka Baits  -

Ka Sofwan, Ka Wahid, Ka Badrut dan aku melantunkan pujian betapa Alloh memuliakan ciptaan-Nya dengan memberinya akal untuk berpikir, berinovasi menciptakan hal-hal baru yang bisa mempertahankan eksistensi mereka sebagai khalifah di bumi-Nya. Yang membuatku tertawa adalah Ka Baits yang hanya mempersilahkan kami turun ke bawah tetapi tidak dengan dirinya. Ka Baits hanya memotret kami dari atas dan tertawa renyah ketika kami melempar hujatan lelucon kepadanya karena tidak berani ke bawah.

Setelah kami merasa cukup medokumentasikan semuanya kami pun berpisah dengan Nilometer dan beristirahat sejenak dimanjakan oleh pemandangan sungai Nil yang melintang, pohon kapas yang rindang dan rumput hijau yang membentang ditambah dengan udara sejuk yang berhembus menghapus peluh lelah kami. Ka Sofwan dan Ka Badrut memilih duduk dihamparan rumput sementara Ka Wahid dan Ka Baits sibuk memotret pemandangan. Aku sendiri memilih duduk dibawah pohon kapas dengan ponsel tergenggam di tangan karena sedang menjawab telepon dari Mama Amani yang sudah aku anggap sebagai mamah angkatku di Negeri Nabi Musa ini. Setelah aku menyudahi telepon aku bergabung bersama ka Wahid dan Ka Baits menikmati indahnya pemandangan Nil.
Puas kami melepas lelah akhirnya kami kembali berpacu dengan waktu mengejar beberapa tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu Benteng Qeitbay yang terletak di Sayedah Zaenab dan Mesjid sejarah yang aku lupa namanya ^^V. Ka Wahid sebagai navigator memandu kami dengan berjalan kaki karena dekatnya perjalanan. Sepanjang perjalanan ada saja celoteh yang keluar dari mulut kami dan sering kali Kak Baits lagi yang menjadi korban hujatan ledekan kami.
Setiap gang kami lewati, panasnya terik matahari membuat tenggorokan kami mengadu meminta air segar sehingga membuat langkah kami terhenti untuk membeli ‘ashob di pinggir jalan dahulu. Aku dan Ka Wahid memilih duduk menikmati minuman. Segar ku teguk cepat minuman jeruk yang manisnya terasa mendarat di lidahku. Tetapi kuperhatikan tidak demikian dengan Ka Wahid yang sepertinya tidak terlalu suka dengan minuman itu, berlainan dengan Ka Baits Ka Sofwan dan Ka Badrut yang langsung meneguk minuman itu habis.
Paerjalanan pun dilanjutkan setelah dahaga haus kami puaskan. Langkah kami terayun kembali semangat menapaki setiap jalanan sambil bertanya beberapa kali lokasi yang akan kami tuju kepada sesama pejalan. Hampir semua orang yang kami tanya menjawab pertanyaan kami bahwasanya lokasi itu dekat sehingga kami memutuskan untuk tetap berjalan. Kami terus optimis berjalan menyatu dengan alam. Gedung-gedung kami lewati, anak sungai Nil kami telusuri, namun tidak kami dapati lokasi yang kami ingini. Jarak yang dekat kami anggap kini jauh terasa tak tergarap langkah. Aku coba membuat semangat langkah kaka-kaka untuk tak mengenal lelah. Mereka tersenyum namun jelas tersirat rasa lelah.
Tiba-tiba ka Sofwan melontarkan ide yang membuat kami terasa keluar dari penjara pemikiran akan dekatnya jarak.  Selama ini kami berpikir kalau tidak jalan kaki ya naik taksi, namun beberapa taksi yang kami buat terhenti urung tidak membawa kami karena dekatnya lokasi atau ternyata tidak tahu lokasi. Kami tidak berfikir bahwasanya masih ada bis yang bersedia membawa kami ke penghujung jalan. Saran ka Sofwan untuk naik Bis bisa membuat kami sedikit beristirahat karena akhirnya dapat duduk melepas lelah. Ramah orang Mesir mengetahui kami orang Indonesia membuatku bisa nyaman meregangkan kaki yang sedari tadi berjalan. Namun terasa bagiku inilah nikmat sesungguhnya perjalanan.
Kami pun turun di ujung jalan dan kembali berjalan dengan arahan ka Wahid. Kali ini kami berharap semoga jarak yang kami tempuh benar-benar dekat. Dan selang kurang lebih 10 menit mata kami melebar mendapati Benteng yang kokoh di tengah hiruk pikuknya kota. Tidak salah lagi, ini adalah lokasi yang kami tuju. Langkah kami semakin cepat ingin mendokumentasikan dalam kamera dan ingatan. Namun langkah ini tercegat ketika kami hanya bisa menahan takjub di depan gerbang benteng Qitbay. Ya, Benteng sedang dalam tahap renovasi dan kami tidak diperkenankan masuk. Tersirat sedikit kekecewaan kami lebih-lebih Ka Wahid yang sedari tadi menuntun kami dan kini merasakan sedikit pusing di kepalanya. Dan akhirnya, kami meninggalkan benteng dengan langkah kecewa.

-          Ka Sofwan, Aku, Ka Wahid dan Ka Badrut menatap anak sungai Nil dengan kekecewaan ketika kami tidak bisa masuk Benteng. Foto diambil oleh : Ka Baits -

Harapan kami terakhir jatuh kepada mesjid di daerah Sayedah Zaenab sebagai tempat terakhir yang akan kami kunjungi. Tersadar ternyata optimis membuat kami sanggup berjalan jauh dari Girgis sampai Sayyedah Zaenab, luar biasa! Kadang ketika kita sudah ambisius terhadap sesuatu dan fokus, kita tidak menyadari ternyata kita telah berusaha jauh. Walaupun hasilnya kadang tidak sesuai dengan harapan tetapi prosesnya yang memang melelahkan mampu membuat kita dapat merasakan nikmatnya perjuangan J

Kali ini kami memutuskan naik El-Tramco untuk menyimpan sisa-sisa semangat kami menuju bangunan terakhir yang akan kami kunjungi. Waktu yang sudah semakin sore ternyata tidak berpihak kepada kami karena setelah sampai ternyata area sudah ditutup untuk pengunjung. Sedikit kecewa kami memutuskan pulang. Namun wajah kami sedikit cerah ketika akhirnya kami diperbolehkan masuk selama 5 menit setelah Ka Badrut bernegoisasi kepada petugas penjaga. Kami manfaatkan waktu tersebut sebaik-baiknya untuk mengejar target guide book. Terhujam tatapan penjaga yang kurang bersahabat karena saking menikmati pemandangan lebih dari lima menit akhirnya kami memutuskan makan di Hay Saabi’ sebelum pulang ^^V
 Taksi yang membawa kami menuju Hay Sabi’ berjalan mulus walaupun sedikit terkena macet. Aku terlena oleh kursi empuk taksi begitupun kaka kaka yang duduk dibelakang. Masing-masing sibuk dengan kelelahan diri. Sampai di Hay Sabi’ kami menunaikan shalat Ashar dan menuju tempat makan untuk memanjakan perut kami yang mulai tak bisa menahan lapar. Namun sejenak ada suasana yang tidak enak di rumah makan tersebut sehingga membuat kami melahap makanan dengan cepat. Dan akhirnya kami pun berpisah aku dan Ka Sofwan pulang ke Buuts sementara Ka Baits, Ka Wahid dan Ka Badrut ke Bawabah. Bis menuju Buuts cepat melewati kami. Ka Sofwan mengejar dan naik ke bus. Sementara aku yang tertinggal merasakan sensasi seperti di film-film ketika mengejar bus. Berhasil! Ya aku berhasil berlari cepat mengejar bus. Aku langsung lega melihat bus yang lengang dan memilih duduk di belakang Ka Sofwan. Tersadar ternyata Ka Wahid mengikuti langkah kami pulang ke buuts dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi.
Kami bertiga pun turun di mahattoh dan berjalan menuju buuts. Jalanan gelap menyambut kami. Lampu-lampu sekitar buuts banat padam. Aku bersyukur mengatakan kepada Ka Wahid dan Ka Sofwan kalau buuts banat jarang mati lampu. Dan ternyata ucapan syukurku berubah menjadi syukurin karena ternyata buuts banat lampunya ikut terpadamkan. Namun rasa bahagiaku tidak terpadamkan malam itu karena mendapatkan pengalaman tak terlupakan seharian bersama kakak-kakak. Ya, menapaki langkah menelaah saksi bisu sejarah Lillahi Ta’ala ^^
-rva-
Madinat El- bu’uts
00:01 WK
            



 

Sayembara ‘Kursi Panas’ trending-topic Berita Saat Ini ?


Panasnya mentari pada hari Sabtu, tanggal 5 April 2014 yang lalu, tidak menjadi penghalang bagi warga Indonesia yang berdomisili di Mesir untuk ikut berpartisipasi mencoblos kandidat yang telah mencalonkan diri siap untuk berkompetisi menduduki kursi panas yang mungkin bisa lebih panas dari teriknya mentari, karena imbas kompetisinya yang membuat gerah sesama para pesaing pejabat Senayan. Lalu mengapa harus kursi panas yang menjadi obsesi para partisipan dari setiap fraksi? Apakah motivasinya karena materi atau karena Lillahi Ta’ala, kita tidak tahu pasti.
Salah satu bentuk implementasi dari obsesi Caleg dapat kita lihat dari fenomena pesatnya laju kampanye dalam ranah perpolitikkan. Mulai dari domisili masyarakat di ujung pedesaan yang jauh dari sentuh tangan pejabat, kini menjadi pusat perhatian para Caleg sebelum dimulainya pesta rakyat di Indonesia 9 April 2014 yang lalu. Sepanjang jalan terlihat warna-warni bendera partai berkibar bersamaan dengan wajah-wajah tak dikenal oleh masyarakat. Ya, wajah yang tersenyum dengan slogan menjanjikan segala macam kesejahteraan dan kedamaian hidup di tanah air tercinta.
Namun tidak bisa dipungkiri, ternyata dampak sayembara kursi panas nyatanya tidak relevan dengan setiap slogan menggiurkan yang para Caleg janjikan. Rakyat jelata dibuat semakin jelata pemikirannya dengan cara disuap dengan rupiah yang menggiurkan guna mencoblos nama si pesuap. Mahasiswa dan mahasiswi perguruan tinggi dibuat semakin tinggi pula doktrinnya oleh  para Caleg guna mendukung pencitraannya, serta mengusung nama mereka sebagai para Caleg yang pantas memakai fasilitas kelas atas pejabat Senayan dan mewakili rakyat.
Bahkan, tidak hanya lapisan masyarakat dari bawah sampai atas yang dijadikan korban ambisius mereka untuk duduk di kursi panas. Pepohonan, gedung, kaca mobil kini juga dilapisi oleh nomer partai dan senyuman dari wajah para Caleg yang aduhai, membuat masyarakat terbuai oleh kepercayaan diri Caleg dan janji-janjinya yang pada kenyatannya tidak semuanya pasti terealisasikan. Teknologi yang canggih juga ternyata mereka gunakan semakin canggih pula guna menciptakan kebohongan media cetak maupun elektronik untuk menarik perhatian dan simpati dari masyarakat. Akibatnya, terjadilah persaingan yang tidak sehat, mereka saling menghujat, seolah dirinyalah yang benar dan hebat.
Menanggapi fenomena perpolitikkan tersebut tersiratlah satu pernyataan dalam diri, ”Bagaimana mereka ingin mewujudkan visi-misi mereka yang mulia kalau pada masa kampanye saja sudah mewujudkan pertarungan yang tidak sehat?” Tidak sehat karena telah menyakiti hati sesama Caleg, tidak sehat karena menyakiti bumi pertiwi dengan memasang spanduk partai di setiap sisi pepohonan dengan jarang sekali memikirkan bagaimana membersihkannya kembali. Dan ternyata itulah bukti bahwasanya masa kampanye ternyata membuat para Caleg dan para antek-anteknya tak tahu diri. Dan setelah kampanye sebagian dari para legislator, mereka seakan lupa akan janji-janji dan hanya mementingkan diri sendiri. Maka tak heran timbul lah kekecewaan yang membuat gerah masyarakat dengan tingkah laku mereka yang berhasil menduduki kursi panas. Seperti sebagian rakyat miskin yang gerah karena janji para pejabat untuk membantu menunjang materi mereka tidak  pernah terealisaskani, para ulama yang gerah akan tingkah laku para pejabat yang tak tahu diri dan lain sebagainya. Ya, semua berhak menyuarakan kekecewaan, tetapi sayangnya para penduduk kursi panas hanya sedikit yang mendengar dan bisa jadi pura-pura tuli berlagak tak peduli.
Dan ternyata hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang terjadi di tanah air kita dalam ranah perpolitikkan dan berhasil mengalahkan eksistensi berita lain seperti Ujian Nasional dalam ranah pendidikan ataupun penutupan gang Dolly dalam ranah sosial. Maka kita tidak bisa mengelak, bahwasanya sayembara ‘kursi panas’ memang pantas menduduki tangga trending-topic berita saat ini bukan?

Ditulis oleh      : Rakhmi Vegi Arizka
Editor              : Sofwan Najmu

Diterbitkan di majalah IKPDN (Perdana edisi 137 April 2014) Kairo, Mesir.

Mengoptimalkan Potensi Diri dalam memilih Calon Legislatif Indonesia

MAKALAH
Mengoptimalkan Potensi Diri dalam memilih Calon Legislatif Indonesia
Rakhmi Vegi Arizka









IKATAN KELUARGA PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH CABANG KAIRO MESIR
Bld. 15/605 El-Tayaran St. Raba’a El Adawea Nasr City Cairo Egypt
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum wr.wb
Puji syukur  kehadirat Allah Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada pemakalah dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini.
Adapun tergagasnya pembuatan makalah ini adalah untuk menindak lanjuti materi acara tentang “Konvensi Kepenulisan dan Meningkatkan Gairah Riset dan Diskusi” yang disampaikan oleh Ka Shofwan Najmu dan Ka Baits El-Abror di Sekretariat IKPDN cabang Kairo pada tanggal 14 Maret 2013. Dalam kesempatan ini pemakalah mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah. Terutama kepada Kak Baits El-Abror yang telah memberi pemakalah kesempatan untuk mencoba membuat makalah dan kepada Kak Dzul Ikrom yang telah memotivasi pemakalah selaku anak baru untuk berani menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan.
Pemakalah sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat pemakalah harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
Wassalamu’alaikum wr.wb
Kairo,  25 Maret 2014
Rakhmi Vegi Arizka






DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                                                                                                     1
Daftar Isi                                                                                                                                2
Bab I Pendahuluan
            I.1. Latar Belakang                                                                                                                 3
I.2. Tujuan                                                                                                                   4
Bab II Pembahasan
II.1. Potensi Ruhaniyah dan Potensi Akal                                                                  5
II.2. Korelasi antara Potensi Ruhaniyah dan Akal terhadap Pemilihan Legislatif     9
Bab III Penutup
III.1. Kesimpulan                                                                                                        10
Daftar Pustaka                                                                                                                      11















BAB I
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta’ala dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan diberi suatu keistimewaan yaitu akal yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah Ta’ala lainnya. Begitu kuasanya Allah Ta’ala yang menciptakan manusia dengan segala bentuk rupa jasmani, sikap, karakter yang berbeda antara satu dan yang lainnya bahkan agama yang menurut mereka benar adanya.
Dalam perspektif Islam, penciptaan manusia yang begitu mulia menjadikan dirinya terpilih oleh Allah Ta’ala sebagai khalifah di bumi sehingga antara sesama ciptaan Allah Ta’ala yaitu manusia dan bumi mempunyai korelasi yang erat dimana manusia pasti membutuhkan segala yang berada di bumi untuk terus bertahan hidup dan juga bumi yang membutuhkan manusia untuk menjaga eksisitensi ekosistem yang ada dengan mengolah sumber daya yang tersedia di bumi dengan baik.
Terlepas dari peran manusia sebagai khalifah  ternyata ada peran lain yang ditujukkan oleh Allah Ta’ala terhadap penciptaan manusia yaitu hakikat manusia mengolah bumi dengan cara mereka yang akan menunjukkan apakah mereka turut berperan sebagai ‘abid (hamba Allah Ta’ala) ataukah mereka berperan sebaliknya. Apakah mereka bisa melakoni peran mereka dengan menggunakan ruh, hati dan akal secara optimal ataukah sebaliknya yaitu, tidak menggunakan ruh, hati dan akalnya secara optimal sehingga dapat menyakiti dirinya sendiri dan juga pencipta-Nya juga berpaling dan mencinta kepada ‘Tuhan’ yang lain.
Islam membahas perkara diatas dengan menyebutkan bahwa ruh, hati dan akal yang akan mendukung peran manusia di bumi ini merupakan potensi dasar manusia yang  dianugerahkan oleh Allah Ta’ala. Tetapi, fenomena yang ada saat ini kebanyakan manusia bahkan umat islam sendiri tidak menyadari potensi dasar tersebut. Pada akhirnya dalam ranah politik banyak para calon legislatif yang menghamba kepada ‘Tuhan’ dengan melakukan ritual mistik ataupun sejenisnya guna terpilih untuk duduk di kursi empuk DPD-RI atau semacamnya.  

Dalam makalah ini pemakalah ingin lebih spesifik membahas potensi dasar manusia yang berupa potensi ruhaniyah, hati dan akal dalam menanggapi fenomena yang saat ini sedang naik daun yaitu pemilihan calon legislatif Indonesia sehingga terlintaslah judul makalah ini yaitu, Mengoptimalkan potensi Diri dalam Memilih Calon Legislatif Indonesia.
I.2 Tujuan
Peran warga negara yang menetap di sebuah negara demokrasi selayaknya mengetahui hak-nya untuk mengeluarkan aspirasi dan juga memilih para calon legislatif untuk kebaikan negaranya di masa depan nanti. Makalah ini disusun untuk memotivasi kita dalam memilih calon legislatif dengan kaca mata islami yaitu dengan mengoptimalisasikan potensi diri yang telah di anugerahkan Allah Ta’ala kepada kita.
Dalam penulisan makalah ini juga, pemakalah bertujuan agar para pembaca dapat memilih para pemimpin bangsa yang baik sehingga bisa memimpin kita untuk lebih mendekat dan mencinta kepada Sang Pemimpin sebenarnya yaitu Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, dalam pembahasan ini pemakalah akan mengerucutkan masalah menanggapi fenomena yang sedang naik daun yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif pada tanggal 9 April 2014, dimana selayaknya kita manusia yang telah diberi berbagai kenikmatan oleh Allah Ta’ala berupa potensi-potensi dasar bisa menggunakannya secara optimal ketika memilih para calon Anggota DPR-RI, DPD-RI, dan DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Tetapi, tujuan terpenting dan sebenarnya penulis menyusun makalah ini adalah agar dapat memotivasi semangat para pejuang generasi muda dalam meluapkan segala aspirasi, ide dan potensi yang ada pada diri untuk dituangkan dalam bentuk tulisan agar nanti bisa dibaca dan direnungi oleh generasi di masa depan nanti .





BAB II
II. PEMBAHASAN
II.1 Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam
A.    Potensi Ruhiyah dan Hati
Dalam banyak literatur, kita bisa mendapatkan banyak sekali definisi tentang ruh. Secara umum, istilah ruh yang sering terdengar oleh kita sehari-hari sering disamakan dengan roh atau rohani. Kata rohani sendiri biasanya bersanding dengan jasmani sebagai lawannya, sehingga kedua kata ini merupakan dua aspek yang saling berkorelasi dalam kehidupan manusia yang memang mengandung dua unsur itu.
 Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi arti ruh manusia layaknya jiwa (yang ada di di tubuh dan menyebabkan seseorang hidup atau nyawa. Jiwa juga diartikan sebagai seluruh kehidupan batin manusia (yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan, dan sebagainya).[1]
Dalam bahasa Inggris, “ruh” atau roh itu diterjemahkan sebagai “spirit”, sedangkan nyawa atau jiwa itu diterjemahkan dengan “soul”. Mengacu kepada Al-Qur’an, spirit itu merupakan terjemahan Inggris dari kata “al-ruh”, sedangkan jiwa atau nyawa dari kata “Al-Nafs.”[2] Sehingga pada kenyataannya kata ruh, roh dan rohani banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan definisi yang berbeda pula.
Dalam ranah potensi dasar manusia, ruh juga bisa diartikan sesuatu yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang hak dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan. Bentuk dari roh ini sendiri pada hakikatnya tidak dapat dijelaskan. Potensi ini terdapat pada surat Asy-Syams ayat 7 yaitu :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
Artinya : dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)

kemudian Asy-Syams ayat 8 :
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya : maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.


Di dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Menurut Ibn ‘Asyur kata ‘nafs’ pada surat Asy-Syams ayat ke-7 menunjukan nakiroh maka arti kata tersebut menunjukan nama jenis, yaitu mencakup jati diri seluruh manusia seperti arti kata ‘nafs’ pada surat Al-infithar ayat 5 yaitu :
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
Artinya : maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.
Menurut Al-Qurthubi sebagian ulama mengartikan ‘nafs’ adalah nabi Adam namun sebagian lain mengartikan secara umum yaitu jati diri manusia itu sendiri.
Pada arti kata ‘nafs’ ini terdapat tiga unsur yaitu :
a.       Qolbu : menurut para ulama salaf adalah nafs yang terletak di jantung
b.      Domir : bagian yang samar, tersembunyi dan kasat mata
c.       Fuad   : mempunyai manfaat dan fungsi
                  Ketika kita menyebutkan ketiga aspek di atas yaitu qolbu, domir dan fuad maka kita dapat melihat korelasinya dengan hati. Karena dialektika yang sering dijumpai pada masyarakat awam, mereka menggunakan kata seperti ‘domir’ dengan maksud tujuan dari pembicaraan mereka yaitu hati. Seperti bentuk pertanyaan “Apakah para pejabat yang korupsi tidak mempunyai domir? yang berarti “Apakah para pejabat yang korupsi tidak mempunyai hati?”
Tetapi korelasi tersebut akan kita dapati berbeda ketika kita memasuki ranah sufistik. Pembicaraan mengenai hati, para sufi tidak mempergunakan makna “al-qalb” (hati), karena kata ini menurut mereka hanya mengacu pada segumpal darah yang terdapat di dalam dada. Hati bagi mereka adalah substansi yang halus dan berfungsi mengenal hakikat segala sesuatu serta memiliki kemampuan untuk merefleksikannya. Namun demikian, kemampuan hati untuk merefleksikan suatu hakikat sangat tergantung kepada sifat hati itu sendiri, dimana ia tidak lepas dari pengaruh panca indra, syahwat dan cinta. Sejauh hati itu bersih dari kendala-kendala yang menutupinya, ia akan dapat menangkap hakikat-hakikat yang ada.[3]
Dan juga ketika kita berbicara mengenai aspek yang ketiga yaitu fu’ad, maka korelasinya mengacu pada pengaruh hati untuk bekerja. Karena ada tiga kekuatan yang dapat mempengaruhi hati untuk bekerja sebagaimana mestinya. Pertama adalah syahwat atau insting-insting lain yang berupa perilaku hawa nafsu yang berpusat di perut. Syahwat dan perilaku hawa nafsu merupakan mendung kegelapan yang akan menyelimuti ketajaman mata hati (al-fu’ad). Kalau mata hati sudah tertutup, ia akan buta dan tidak mampu memandang sesuatu seperti adanya. Hawa nafsu dinilai sebagai sesuatu yang jahat karena ia dapat menutup pintu ma’rifah dan menghalangi kemampuan akal. Demikian juga ia menjadi penghalang bagi anggota tubuh lain untuk menyalurkan ilmu ke dalam hati. [4]
Dengan demikian, dalam potensi ruhaniyyah terdapat pertanggungjawaban atas diberinya manusia kekuatan pemikir yang mampu untuk memilih dan mengarahkan potensi-potensi fitrah yang dapat berkembang di ladang kebaikan dan ladang keburukan ini. Karena itu, jiwa manusia bebas tetapi bertanggung jawab. Ia adalah kekuatan yang dibebani tugas, dan ia adalah karunia yang dibebani kewajiban.
Demikianlah yang dikehendaki Allah secara garis besar terhadap manusia. Segala sesuatu yang sempurna dalam menjalankan peranannya, maka itu adalah implementasi kehendak Allah dan qadar-Nya yang umum.[5]

B.     Potensi Akal
Begitu istimewanya manusia sebagai makhluk Allah Ta’ala karena diberi akal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dimana keistimewaan tersebut mengantarkan kepada mulianya kedudukan manusia apabila ingin menggunakannya dengan baik sehingga bisa melakoni peran manusia yang sebenar-benarnya manusia yaitu makhluk berakal yang tentunya memilliki tanggung jawab sosial-teologis. Tetapi, kadang keistimewaan tersebut bisa berevolusi menjadi kehinaan manusia apabila manusia tidak bisa menggunakan akalnya dengan baik.
            Potensi akal inilah yang mempunyai urgensi hebat terhadap kehidupan manusia yang bisa membuat manusia tidak hanya menjadi konsumtif akan ilmu dan informasi tetapi juga produktif melahirkan ilmu dan informasi terbaru. Potensi yang merangkul manusia untuk berpikir, berpendapat bahkan memutuskan suatu perkara yang baik atau buruk untuk dirinya.
            Kita bisa menganalogikan akal sebagai “nabi” bagi perjalanan hidup manusia yang akan menuju akhir perjalanan mereka nanti di akhirat. Musa Al-Kazhim mengatakan: “Tuhan telah menunjuk dua jenis bimbingan bagi manusia. Yang satu lahiriyah dan nyata, satu yang lain di dalam diri manusia sendiri dan tersembunyi. Pembimbing yang lahiriyah dan nyata adalah para Nabi, Rasul dan para Imam suci. Sedangkan yang tersembunyi adalah akal.[6]
Dan analogi tersebut juga sejalan dengan firman Allah surat Al-Imraan ayat 190 dan 191 yang berbunyi :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)
Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Letak korelasi antara analogi sebelumnya dengan ayat ini adalah ketika manusia menggunakan ‘nabi’ yang tersembunyi dalam dirinya untuk kritis berpikir tentang penciptaan langit dan bumi sehingga, atas izin-Nya manusia bisa mengetahui siapa Tuhan yang sebenarnya. Maka sepatutnya manusia bisa menyadari bahwa akal bisa memandu dirinya untuk berjalan di jalan kebenaran.
II. 2     Korelasi antara Potensi Ruhanniyah, Hati dan Akal terhadap Pemilihan Legislatif
Dalam kaca mata Islam, manusia dapat menjaga eksistensinya di bumi Allah Ta’ala karena disebabkan oleh adanya potensi-potensi dasar yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepada manusia. Potensi-potensi dasar tersebut merupakan implementasi kekuasaan Allah Ta’ala dalam memberikan kelebihan dan keutamaan kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Sehingga, potensi-potensi dasar ini merupakan sarana yang sangat mendukung bahkan modal utama manusia untuk melaksanakan tugas dan amanat yang telah Allah Ta’ala berikan sejak manusia di utus untuk menjadi khalifah dan ‘abid di bumi ini.
Potensi ruhaniyyah, hati dan akal ketiganya mempunyai korelasi yang erat seperti pendapat Hazrat Pir yang menganalogikan benih untuk perkembangan jiwa manusia yaitu, “Nasib dari pohon tergantung pada benihnya. Bagian-bagian dari pohon, batang, kulit kayu, akar, dahan dan ranting, daun-daun serta bunga, semuanya dipersiapkan dalam satu benih kecil. Supaya benih bisa tumbuh, kita harus meletakannya di atas tanah yang subur dan menyiraminya dengan air. Kalau kita meletakkan benih tersebut di dalam kotak kain atau di dalam peti yang terbuat dari emas atau apapun juga, tidak akan ada pertumbuhan. Karena benih itu tidak diolah, maka tidak akan ada apapun yang terjadi, yang terjadi justru pembusukkan. Jika benih diletakkan di atas tanah dan disirami, maka ia akan tumbuh dan menghasilkan.[7]
Maka sama halnya dengan potensi-potensi dasar manusia apabila ruh, hati dan akal manusia tidak digunakan secara optimal maka ketika pesta rakyat yang akan mendatang, mereka datang dengan memilih pilihannya karena telah diasup oleh ‘materi’ yang dijajakan selama masa kampanye, atau yang lebih ironinya mereka acuh tak acuh tidak datang karena memikirkan masa yang mendatang pun tidak. Padahal apabila mereka mengoptimalkan potensi ruhnya, maka intuisinya akan mengaju pada calon legislatif yang walaupun belum sesuai kriteria yang diinginkan, setidaknya calon legislatif tersebut mendekati kriteria tersebut. Walaupun paradigma masyarakat yang ada tentang buruknya reputasi calon legislatif saat ini, setidaknya  tinggalkanlah husnuzhon kita bahwasanya mereka masih mengaktifkan potensi ruhanniyyah mereka, yaitu punya hati panggilan hati nurani untuk membawa negara kita menuju arah yang lebih baik. Masih mengunakan akal sehat mereka untuk membawa Indonesia berpindah dari status negara berkembang menjadi negara maju.









BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Pada akhirnya tidak hanya potensi ruhaniyyah dan akal saja yang dioptimalkan ketika kita akan memutuskan memilih sesuatu baik itu memilih profesi, calon suami atau istri, bahkan juga calon legislatif pada pemilihan nanti. Karena sesungguhnya potensi-potensi dasar manusia tidak terbatas kepada apa yang telah dibahas oleh pemakalah dalam kesempatan ini. Melainkan terdapat juga potensi jasmaniyah, potensi fitriyah, potensi huda dan lain sebagainya yang saling bersinegri dan berkorelasi untuk membantu manusia menentukan setiap pilihan yang datang dalam kehidupannya.
Oleh sebab itu, optimalkan setiap potensi yang ada untuk memilih keputusan yang memang pantas untuk dipilih dalam kehidupan pribadi, keluarga bahkan bangsa kita. Karena kita sebenarnya tidak bisa mengelak bahwasanya hati nurani kita pun sebenarnya merindu dengan sosok ‘pelayan rakyat’ yang islami, amanah, bertanggung-jawab, jujur, merakyat, berwawasan luas, adil, cerdas, dan lain sebagainya. Maka, realisasikanlah kerinduan tersebut dengan mengoptimalkan potensi ruhaniyah, hati dan akal dalam memlilih calon legislatif dalam pemilihan umum tanggal 9 April 2014 mendatang.










DAFTAR PUSTAKA
·         Al-Qur’an
·         Khalil, Ahmad. Merengkuh Bahagia Al-Qur’an, Tasawuf dan Psikologi. Malang:  UIN Malang Press, 2007



[1] Wikipedia, diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Jiwa, pada tanggal 24 Maret 2014 pukul 10:29
[2] Ahmad Khalil, Merengkuh Bahagia Al-Qur’an, Tasawuf dan Psikologi (Malang, UIN-Malang Press, 2007)h. 116
[3] Ibid, H. 122
[4] Ibid H. 122
[5] Pengagum Hujan, “Makalah Pendidikan Agama Islam: Potensi-Potensi Dasar Manusia dan Tugas Manusia dalam Islam”, diakses dari http://authorahmi.blogspot.com/2013/10/potensi-potensi-dasar-manusia-dan-tugas.html, pada tanggal 24 Maret 2014 pukul 10:42
[6] Ibid, 127
[7] Ibid, H. 97