Selasa, 04 Maret 2014

sajak aku benci

aku benci
benci ketika diri ini mudah sekali
meluapkan perasaan hati 
tak bisa menahan diri

aku benci
benci ketika diri ini mudah sekali
meluapakan emosi
untuk mempertahankan kesalahan diri

aku benci
benci ketika diri ini mudah sekali
jatuh kepada hati
hati yang memang sudah terpaut dalam diri

aku benci
benci ketika diri ini mudah sekali
ditebak oleh selain dari diri sendiri
sehingga aku seperti tak punya privasi

aku benci
benci ketika diri ini mudah sekali
merindu kepada orang yang dulu di benci
karena ingatan memori yang tak bisa berhenti

aku benci
benci ketika diri ini mudah sekali
dibohongi oleh orang yang dicintai
tapi dalam hati aku selalu menyukai

aku benci
benci ketika diri ini mulai dimaki
tapi seharusnya aku mengakui
kesalahan diri yang membuat aku dimaki

aku benci
aku benci

tapi mengapa aku seperti menyukai ?

aku mulai lupa diri, siapakah diri aku sendiri ?
mengapa susah sekali merubah kesalahan diri ?
ah, aku memang harus dinasihati ..


rva
07:02 PM
Madinat El-Bu'uts
Cairo

Minggu, 02 Maret 2014

kami aktif dan kalian kreatif :) bersama tur edukatif IKPDN Kairo

Assalamu’alaikum sahabat semua selamat subuh, pagi, siang, sore, malam dan kapanpun itu ketika kalian tertarik untuk membaca sedikit cerita Tur IKPDN (Ikatan Keluarga Pelajar Darunnajah) cabang kairo, Mesir.
Sebelumnya, Tur IKPDN yang diadakan ini merupakan suatu rentetan acara atas kedatangan anak baru, yang akhirnya diputuskan oleh kaka kaka senior panitia  yang keceh abis untuk mengawali kami mengetahui bagaimana sejarah tentang Mesir maupun tokoh yang legendaris yaitu Fir’aun di salah satu tempat wisata yang bernama Qoryah Fir’auniyyah pada tanggal 1 Maret 2014  
Atas komando ketua PPMB (Panita Penerimaan Mahasiswa Baru) yaitu ka Nijam kita berkumpul di Sekretarian IKPDN jam setengah Sembilan, dan sembari nuggu berangkat narsis dulu yuuk ah :D

Okeh, ready to go !!
Perjalanan kami awali dengan bismillah dan do’a yang dipimpin oleh senior kita ka Ikrom dan selanjutnya pengenalan tempat tujuan oleh ka Fatih dan tak lupa hiburan dari ‘bintang tamu’ turut mengundang canda tawa kami selama di bis, setelah jarak menuju tujuan semakin dekat, Ka Habibah memberi kami gambaran tentang Qoryah Fir’auniyyah

Dan memang nikmat Allah tiada batasnya, Alhamdulillah kami dapat paket plus plus di Qoryah Fir’auniyyah karena memakai visa pelajar Al-Azhar and next, holaaaa kita udah di perahu nih siap menelusuri keindahan sungai Nil dengan hangat kekeluargaan :)






Setelah menelusuri indahnya Nil, saatnya petualangan menelusuri jejak Fir’aun di bumi kinanah dimulaai :D setelah menunggu beberapa saat kami akhirnya dipersilahkan menaiki perahu yang akan membawa kami melihat bagaimana kehidupan mesir kuno, beserta miniatur dewa-dewinya dan lain sebagainya yang membuat kami menyimak dan tak henti men’jepret’ kamera untuk dijadikan memori kehidupan ^^






Dan setelah kita menyaksikan berbagai adegan tentang kehidupan mesir kuno, yuhuuuu perahu mendarat di qoryah fir’auniyyah ! Dimana terdapat miniatur-miniatur peninggalan mesir kuno, dengan dipandu tour-guide yang berbicara bahasa Arab fushah kami mencoba memahami tentang sejarah mesir, bener bener edukatif kan guys turnya ^^






Setelah kami juga mengunjungi museum yang terdapat disana, waktu menunjukkan kami harus meninggalakan qoryah fir’auniyyah dengan perasaan lelah namun puas, kami pun melanjutkan perjalanan ke Hadiqoh Al-Azhar dimana kami melepas lelah dengan berbagai games dan door prize juga kesan pesan kami terutama anak baru mengenai tur ini, sekaligus kita sebulan loh di bumi para nabi ini, Alhamdulillah ^^




Kebersamaan yang terasa ternyata membuat kami merasakan bagaimana ketika kami merantau berjuang ke negri orang dan disini kami berkumpul seperti keluarga, senior yang menjaga kami dan kami junior yang menghargai dan menghormati mereka ibarat kakak-beradik.
Gue pribadi merasa salut atas kekeluargaan yang terus utuh dijaga dan diperjuangkan eksistensinya terutama bagaimana kaka kaka senior dan panitia penerima mahasiswa baru sangat beramanat sekali selama 8 bulan mengurus kami untuk melanjutkan generasi perjuangan mereka di  negri Musa ini. Dan  bagaimana mereka membentuk pribadi kami dengan acara-acara yang membangun karkater kami agar lebih baik seperti adanya tur, kajian ilmiah, malam muhasabah, les musik, belajar b. Inggris maupun perancis, munazhoroh ‘arobiyah dan in shaa Allah akan diadakan pelatihan nahwu shorof terutama untuk kami anak baru, dan itu mebuat aktifitas kami menjadi semakin padat dengan kegiatan berkualitas, Alhamdulillah dan terima kasih kakak kakak :’)
Kami menjadi aktif karena acara kalian kakak kakakku yang kreatif, tur IKPDN kali ini sangat edukatif  !
Terakhir, salam tour IKPDN ,” I KNOW U CAN !”
Love u full and we are happy family :)
rva
Cairo 05:13 PM
Madinat El-Bu’uts


Senin, 24 Februari 2014

aku pun tak pernah mengira, delapan bulan sungguh penantian yang tak lama


What the mind can conceive, it can achieve -Napoleon Hill

Ini semua berawal dari euforia ketika mendengar salah satu senior waktu di pesantren dulu ketika menceritakan tentang salah satu instansi pendidikan tertua di dunia, dimana para pencari ilmu yang haus akan mencari ilmu sampai ke sumber-sumbernya berbondong-bondong menuju instansi ini, dan ketika sampai tak berbohong bahwasanya di sini lah sumber ilmu terjaga pun terus berkembang . 

ya, mungkin kita yang jebolan pesantren ga asing lagi denger instansi pendidikan ini, universitas yang berdiri pada tahun 975, seabad lebih tua dari Universitas Oxford di Inggris yang kerap diklaim dunia Barat sebagai universitas tertua di muka bumi, yang mulanya merupakan sebuah masjid bernama Jami-ul Kahihirah, tetapi kemudian dikembangkan menjadi sebuah instansi pendidikan bernama Al- Azhar.

Al-Azhar yang eksistensinya tetap bertahan seantero dunia karena ke-tawadhu'-annya dalam sistem perkuliahan dan pemikiran yang melangit dari para dosennya.

dan aku pun mulai membayang-bayangi bangunan itu sebelum tidur, aku yang duduk dan memegangi kitab, aku yang mulai menelaah setiap mufrodat di dalamnya, aku yang berkomat-kamit menghafal makna yang terkandung di dalamnya, dan aku yang berkeinginan menjadi lebih baik karna manfaat darinya.

tangan ini pun tak tertahankan untuk menulis "Al-Azhar Kairo Mesir will be my next!" di buku catatan harianku.

jam, hari, minggu bulan pun berlalu, kami yang berada di tingkat kelas akhir Aliyah waktu itu sangat terharu pada Haflatut-takharuj , tak terasa apa yang dulu kami nantikan, hari dimana kami mendapat pengakuan status sebagai 'alumni 'dikumandangkan oleh pimpinan pesantren.



dan ternyata hari itu pun aku mendapat sebuah kabar yang tak pernah kuduga sebelumnya, aku direkomendasikan untuk test melanjutkan ke Universitas Al-Azhar, aku pun tergugu meng-iya-kan

dari situ aku mulai fokus untuk mengejar impianku, aku melupakan semua tentang snmptn, spmb-ptain jalur prestasi, hasil test fakultas dirasat disuatu universitas negri, prinsip untuk 'total terhadap tujuan' aku implementasikan guna mencapai Al-Azhar.

disaat teman-temanku menungu hasil snmptn dan spmbp-ptain, aku yang merasa diri ini masih sangat sangat kurang untuk mencapai Al-Azhar akhirnya memutuskan untuk mengikuti pelatihan disalah satu 'rumah singgah' alumni yang mana itu adalah saran dari guru yang merekomendasikan aku, guru yang tak pernah aku lupakan akan auranya ketika mengajar, guru yang mana pernah melihat ku menangis dan mendengarkan keluh-kesah hati ini, guru yang mengajarkan padaku bagaimana kita menyikapi perbedaan yang terjadi di antara orang-orang yang kita sayang, guru yang sampai kini pun ketika aku menginjakkan negrri para nabi ini dengan khasnya menasihatiku agar aku lebih baik, guru yang sampai saat ini masih ku ingat wajahnya,,

kembali,, 
aku pun mengikuti pelatihan di 'rumah singgah' tersebut selama dua hari, dan bagiku itu sangat kurang

dan akhirnya aku mengutarakan keinginanku untuk belajar-nginap di 'rumah singgah' itu selama dua minggu yang nantinya diakhiri oleh try-out



kegiatan kami tak hanya belajar, tetapi berdiskusi, presentasi, menghafal Al-qur'an dan mendapatkan motivasi, dan aku semakin menyadari aku memang harus berusaha lebih untuk mencapai Azhar ini, karena kami berlomba-lomba diantara ribuan peminat yang mempunyai impian sama seperti aku, seperti kami.

dan Alhamdulillah, setelah melewati proses yang panjang, pelatiha, test, pengumpulan ijroat, kami tinggal menunggu visa yang akan menjadi bukti keberangkatan kami..

dan disinilah aku mengeti hakikatnya bersabar,,
waktu itu memasuki bulan Agustus,,
aku menerima kabar bahwa kami akan berangkat bulan September, senang ? ya itu pasti, aku dan yang lainnya mulai mempersiapkan keberangkatan, aku yang tidak bersedih karna ternyata tidak lulus snmptn, aku yang menolak fakultas dirasat yang sudah memasukan namaku di daftar mahasiswanya, aku yang melupakan kabar ternyata aku lulus jurusan terjemah fakultas adab dan humaniora di salah satu universitas negeri .
dan aku sebelumnya tidak pernah menyesal atas apa yang kuputuskan

dan ternyata salah, aku salah memprediksikan.
dari situlah aku belajar, bagaimana seharusnya kita tidak terkelabuhi kabar gembira dan menyepelakan apa yang kita anggap tidak penting.

Bulan September, bulan yang dijanjikan visa kami akan turun, bulan yang aku sudah bayangkan bisa merasakan udara negeri Cleopatra, ternyata memang hanya sebatas bayangan, impian.

tak pernah lagi ku dapat kabar akan keberangkatan, tak pernah lagi aku mendapat kabar akan visa yang dijanjikan. kecewa? sedih ? marah ? lebih tepatnya aku tidak bisa apa-apa.

hanya perasaan menyesal aku telah menolak universitas yang menerimaku, menyesal aku begitu angkuh dan bersikukuh akan merengkuh mesir impianku.

hanya perasaan menyesal telah membuat orang tuaku begitu banyak harapan dan penegeluaran untuk aku mencapai impianku

bulan September adalah bulan yang gelap bagiku, diriku hanyut dalam palung laut penyesalan yang terdalam, tenggelam akan beribu impian, tersesat akan berbagai maksiat, tak ada harapan, aku bagaikan bukan aku, bukan diriku, mencoba hal-hal baru dan aku tahu itu sebenarnya negatif untukku, tak perlu disebut apalah itu.

aku lupa dengan skenario-Nya, aku benar benar buta akan rahmat-Nya, sampai akhirnya aku terselamatkan dengan hidayah-Nya

Bulan Oktober aku mencoba bangkit, berenang ke tepian harapan dengan semangat baru, Alloh terlalu baik denganku, aku menemukan amplop dari universitas swasta yang menyatakan aku berhak menjadi mahasiswa jurusan pendidikan agama islam atau perbankan islam fakultas agama islam. Amplop yang dulu aku biarkan tergeletak tak tersentuh saat perasaan ini menggebu merantau nan jauh .

memang, yang tadinya kita kita tidak penting, ternyata hal itu bisa menjadi penting ketika skenario-nya berkata lain.

Aku mencoba menghubungi universitas tersebut dan lagi lagi Allah memang terlalu baik mempermudah aku menjadi mahasiswa penerus Buya Hamka dan aku memilih pendidikan agama islam sebagai jurusannya.

Sudah di kala itu, ayah salah satu motivator hebat untukku menyarankan agar aku menutup buku tentang negeri itu, dengan perasaan tak rela, aku menurutinya. Aku tidak seperti teman-temanku yang masih belajar dan percaya akan turunnya visa, aku memilih, kuliah.

Oktober, November, dan Desember

tiga bulan yang menyenangkan tak pernah ku bayangkan.
dengan perasaan setengah-setengah, tadinya kini aku bisa senyum merekah karena menuntut ilmu disni.
Teman-teman hebat yang pernah aku temui, semangat mereka untuk mempelajari islam walaupun mereka hanya lulusan MAN pun SMA dan SMK . aku malu akan diriku yang awalnya tidak serius, yang menganggap belajar disini hanyalah pelampiasan, seratus persen berubah sejak masuk ke kelas 1B, dosen yang lebih dekat dengan mahasiswa dengan renungan setiap mata kuliah yang diajarkan, kelas yang begitu terasa ke-keluarga-annya ya


ya, mereka yang sampai saat ini masih menganggapku keluarga mereka, walaupun pada akhirnta tepat akhir Desember aku meninggalkan mereka,  aku yang pamit kepada mereka ketika memutuskan untuk kembali mengejar impianku, mereka yang melepasku dengan air mata, jujur, baru kali inilah aku merasa mempunyai teman yang baru 3 bulan tetapi seperti berbulan-bulan. aku yang juga sebelum pamit kepada ketua jurusan, wakil dekan dan beberapa dosen lainnya sempat goyah tak ingin berpisah. kata kata ketua jurusan yang aku ingat sampai saat ini sampai membuat ku tak bisa menahan air mata ini adalah "kamu yakin rahmi ingin meninggalkan 1 B? saya tau kelas kamu adalah kelas yang tidak biasa dari kelas yang lain nya, ada byang berbeda, yaitu kelas kalian yang memang luar biasa" 

dan aku pun teringat 'luar-biasa' mereka yang semangat ke perpustakaan untuk mencari bahan presentasi, suara lantunan ayat suci mereka di kelas walau hanya untuk mengejar target mata kuliah qiraat, candaan dan celetukan mereka sepanjang perkuliahan, keseriusan mereka untuk membaca Al-qur'an dengan indah dan belajar Islam dari awal, merangkul dan mengajak teman teman kami yang sebelumnya tidak bisa bicara di depan umum, kami yang mengisi matkul kosong dengan belajar b arab, dan kami antara mahasiswa dan mahasiswi yang kedekatannya sudah seperti cinta keluarga, itulah yang menjadi nilai lebih di mata dosen kami terhadap 1 B ini :') 

ya, itu sekelebat kenangan yang masih tertanam dalam otak ini, setelah akhirnya aku memutuskan untuk belajar lagi meraih impian, aku kembali ke 'rumah-singgah' itu, tempat ke-istiqomah-an mereka yang ingin ke Mesir, Pondok Labu yang mana kami dibina oleh guru guru yang sangat luar biasa ke-ikhlasan pun ilmunya :)



inilah kami, yang mengharap skenario indah dari-Nya dan itu terwujud ketika bulan Januari akhir, hari dimana kami pagi pagi sarapan bersama, menyatap muqoror dari siang sampai malam, bercanda saat istirahat, masak bersama, membantu guru guru kami juga, kini menjadi saksi biksu atas perjuangan kami untuk mencapai Al-Azhar.

kami aktor yang terpilih dalam skenario-Nya mendapatkan visa yang dijanjikan dari bulan Juni yang lalu, dan amanat dari negara terpikul karna kami harus berakating sebaik mungkin agar pulang ke Indonesia bisa membuat perubahan yang lebih baik terutama dalam ranah keagamaan, islam.


dan kini, dengan umurku disini yang hampir sebulan, aku sangat sangat bersyukur akhirnya bisa meraih impian untuk belajar di negri para nabi ini, walaupun sebenarnya ini adalah titik awal aku berjuang, dan ya aku pun tak pernah mengira, delapan bulan sungguh penantian yang tak lama...

madinatul bu'uts imaroh 4 no 58
23:48 WK
rva

Senin, 21 Oktober 2013

Potensi-Potensi Dasar Manusia dan Tugas Hidup Manusia dalam Islam

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
“Potensi-Potensi Dasar Manusia dan Tugas Hidup Manusia dalam Islam”


Dosen                   : Fitriliza, M.A
Disusun oleh :
Nurul Alfiah
Rakhmi Vegi Arizka
(Kelompok 1/ PAI 1B)


FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA SELATAN
2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur  kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini.
            Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Selain itu,  isi makalah dapat dijadikan sarana dalam memahami apa potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam Islam.
            Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah. Terutama kepada dosen kami Ibu Fitriliza. M.A yang telah memberi kami kesempatan untuk menyusun dan membahas makalah ini.
            Kami sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
Jakarta,  1 Oktober 2013
Kelompok 1










DAFTAR ISI

Kata Pengantar           ……...………………………………………………………….         1
Daftar Isi         ……………...………………………………………………………….         2
Bab I Pendahuluan
            I.1. Latar Belakang     .…………………………………………………………        3
            I.2. Tujuan     ………..…………………………………………………………         3
Bab II Pembahasan
            II.1. Potensi-potensi dasar manusia dalam Islam………………………………      4-18
            II.2. Tugas Hidup Manusia dalam Islam   ……………………………………..    18-21
           
Bab III Penutup
            III.1. Kesimpulan   ….………………………………………………………….        21
           
Daftar Pustaka   …………….…………………………………………………………..        22







BAB I
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa yang diciptakan oleh Allah Ta’ala di  muka bumi ini. Dalam sudut pandang Islam, manusia mempunyai potensi-potensi dasar yang sangat mendukung dalam kemajuan pendidikan terutama pendidikan Agama Islam. Karena Allah ta’ala telah menciptakan manusia sebagaimana mulianya, maka Allah mempunyai tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri yang sudah terdapat dalilnya di dalam Al-qur’an. Pada zaman ini realita yang kita dapat adalah manusia banyak yang membuat kerusakan di muka bumi ini. Sebagai contoh adanya bencana banjir, polusi udara dan lain-lain. Semua kejadian tersebut ada kaitannya antara potensi dasar manusia, tugas manusia dan pendidikan Islam. Oleh karena itu, materi ini butuh dibahas secara tuntas.
I.2 Tujuan
Dalam penulisan makalah ini, kami selaku penulis berniat untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang potensi-potensi dasar manusia dan tugas hidup manusia dalam Islam. Sehingga, rekan mahasiswa dapat memahami dengan baik hakekat manusia dalam islam.









BAB II
II. PEMBAHASAN
II.1 Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam
Allah menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada  makhluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atasnya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) dan potensi eksternal (potensi yang disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia untuk melaksanakn tugas dan memikul tanggung jawabnya. Oleh karena itu, ia harus diolah dan didayagunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna.
·         Potensi Internal
Ialah potensi yang menyatu dalam diri manusia itu sendiri, terdiri dari :
A.    Potensi Fitriyah
Ditinjau dari beberapa kamus dan pendapat tokoh islam, fitrah mempunyai  makna  sebagai berikut :
1.      Fitrah berasal dari kata (fi’il) fathara yang berarti “menjadikan” secara etimologi  fitrah berarti kejadian asli, agama, ciptaan, sifat semula jadi, potensi dasar, dan kesucian[1]
2.      Dalam kamus B. Arab Mahmud Yunus, fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli.[2]
3.      Dalam kamus Munjid kata fitrah diartikan sebagai agama, sunnah, kejadian, tabi’at.
4.      Fitrah berarti Tuhur yaitu kesucian[3]
5.      Menurut Ibn Al-Qayyim dan Ibn Katsir, karena fatir artinya menciptakan, maka fitrah artinya keadaan yang dihasilkan dari penciptaannya itu[4]

Apabila di interpretasikan lebih lanjut, maka istilah fitrah sebagaimana dalam Ayat Al-qur’an, hadits ataupun pendapat adalah sebagai berikut :

1.      Fitrah berarti agama, kejadian. Maksudnya adalah agama Islam ini bersesuaian dengan kejadian manusia. Karena manusia diciptakan untuk melaksanakan agama (beribadah). Hal ini berlandaskan dalil Al-qur’an surat Adz-Dzariyat (51:56)[5]
2.      Fitrah Allah untuk manusia merupakan potensi dan kreativitas yang dapat dibangun dan membangun, yang memilliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya jauh melampaui kemampuan fisiknya. Maka diperlukan suatu usaha-usaha yang baik yaitu pendidikan yang dapat memelihara dan mengembangkan fitrah serta pendidikan yang dapat membersihkan jiwa manusia dari syirik, kesesatan dan kegelapan menuju ke arah hidup bahagia yang penuh optimis dan dinamis. Ini sesuai dengan Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat : 30 yaitu :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُون
Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
Pada ayat ini Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya. Surat ini telah menginspirasikan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan fitrah atau potensi itu dengan baik dan  dan lurus.[6]
3.      Fitrah berarti ikhlas. Maksudnya manusia lahir dengan berbagai sifat, salah satunya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Berkaitan dengan makna ini ada hadits yaitu : “Tiga perkara yang menjadikannya selamat adalah ikhlas, berupa fitrah Allah, di mana manusia diciptakan darinya, sholat berupa agama, dan taat berupa benteng penjagaan” (HR. Abu Hamdi dari Mu’adz)

Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi kebenaran (dinnullah). Kalau ia gunakan potensinya ini, ia akan senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. Karena Allah telah membimbingnya semenjak dalam alam ruh (dalam kandungan).
B.     Potensi Ruhiyah
Ialah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang hak dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan. Bentuk dari roh ini sendiri pada hakikatnya tidak dapat dijelaskan. Potensi ini terdapat pada surat Asy-Syams ayat 7 yaitu :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
Artinya : dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)

kemudian Asy-Syams ayat 8 :
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya : maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Di dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Menurut Ibn ‘Asyur kata ‘nafs’ pada surat Asy-Syams ayat ke-7 menunjukan nakiroh maka arti kata tersebut menunjukan nama jenis, yaitu mencakup jati diri seluruh manusia seperti arti kata ‘nafs’ pada surat Al-infithar ayat 5 yaitu :
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
Artinya : maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.
Menurut Al-Qurthubi sebagian ulama mengartikan ‘nafs’ adalah nabi Adam namun sebagian lain mengartikan secara umum yaitu jati diri manusia itu sendiri.
Pada arti kata ‘nafs’ ini terdapat tiga unsur yaitu :
a.       Qolbu : menurut para ulama salaf adalah nafs yang terletak di jantung
b.      Domir : bagian yang samar, tersembunyi dan kasat mata
c.       Fuad   : mempunyai manfaat dan fungsi

Dengan demikian, dalam potensi ruhaniyyah terdapat pertanggungjawaban atas diberinya manusia kekuatan pemikir yang mampu untuk memilih dan mengarahkan potensi-potensi fitrah yang dapat berkembang di ladang kebaikan dan ladang keburukan ini. Karena itu, jiwa manusia bebas tetapi bertanggung jawab. Ia adalah kekuatan yang dibebani tugas, dan ia adalah karunia yang dibebani kewajiban.

Demikianlah yang dikehendaki Allah secara garis besar terhadap manusia. Segala sesuatu yang sempurna dalam menjalankan peranannya, maka itu adalah implementasi kehendak Allah dan qadar-Nya yang umum.[7]


C.    Potensi Aqliyah

Potensi Aqliyah terdiri dari panca indera dan akal pikiran (sam’a basar, fu’ad). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya nalar dan ilmiah tentang ‘kekuasaan’ Allah. Serta dengan potensi ini ia dapat mempelajari dan memahami dengan benar seluruh hal yang dapat bermanfaat baginya dan tentu harus diterima dan hal yang mudharat baginya tentu harus dihindarkan. Potensi Aliyah juga merupakan potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia agar manusia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil dan mapu berargumen terhadap pemilihan yang dilakukan oleh potensi ruhiyah.

Allah berfirman dalam  Al-qur’an surat An-Nahl ayat 78 :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
           
Ayat ini menurut Tafsir Al-maraghi mengandung penjelasan bahwa setelah Allah melahirkan kamu dari perut ibumu, maka Dia menjadikan kamu dapat mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Dia telah memberikan kepadamu beberapa macam anugerah berikut ini :
1.      Akal sebagai alat untuk memahami sesuatu, terutama dengan akal itu kamu dapat membedakan antara yang baik dan jelek, antara yang lurus dan yangs esat, antara yang benar dan yang salah
2.      Pendengaran sebagai alat untuk mendengarkan suara, terutama dengan pendengaran itu kamu dapat memahami percakapan diantara kamu
3.      Penglihatan sebagai alat untuk melihat segala sesuatu, terutama dengan penglihatan itu kamu dapat mengenal diantara kamu.
4.      Perangkat hidup yang lain sehingga kamu dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lainnya yang kamu butuhkan, bahkan kamu dapat pula meilih mana yang terbaik bagi kamu dan meninggalkan mana yang jelek.[8]

Menurut An-Nawawi menafsirkan ayat ini bahwa agar kamu (manusia) menggunakan ni’mat Allah itu untuk kebaikan, maka kamu mendengar akan nasihat Allah, dan melihat tanda-tanda Allah dan memikirkan kebesaran Allah.[9]

Selain ayat tersebut, surat Al-Israa ayat 36 juga menjelaskan tentang potensi ini yang berbunyi :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚإِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Pada ayat ini Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah janganlah kamu mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya, atau kamu katakana kamu mendengarnya padahal kamu tidak mendengrnya, atau kamu katakana bahwa kamu mengetahuinya, padahal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal itu secara keseluruhan, sehingga inti dari ayat ini adalah bagaimana kita mengolah potensi yang terdapat dalam ayat ini dengan sebaik-baiknya karena ketika kita menggunakan potensi ini, maka cara kita menggunakannya akan mendapat pertanggungjawaban kelak di akhirat dan Allah melarang sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu dengan dzan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan atau ilusi.

Termasuk dalam surat Al-‘Araf tentang potensi Aqliyah ini pada ayat 179 yang berbunyi :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Dalam ayat ini, kekuatan dan kesuksesan bersumber dari-Nya, aktifitas akal dan juga ruh berada di tangan-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat menyembunyikan sesuatu apa pun dari-Nya, melainkan dalam setiap kesempatan dan keadaan senantiasa memohon taufik dari-Nya dan menjadikan Allah sebagai penolong-Nya dan tidak mencari penolong selain-Nya.[10] Sehingga dapat kita ketahui bahwa akal merupakan potensi yang besar yang iberikan oleh Allah sehingga kita bisa melaksanakan tugas sebagai ciptan-Nya dengan baik dan benar.
D.    Potensi Jasmaniyyah
Ialah kemampuan tubuh manusia yang telah Allah ciptakan dengan sempurna, baik rupa, kekuatan dan kemampuan. Sebagaimana pada firman Allah Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4 yaitu
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya : sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
Kata insan dijumpai dalam Al-Qur’an sebanyak 65 kali. Penekanan kata insan ini adalah lebih mengacu pada peningkatan manusia ke derajat yang dapat memberinya potensi dan kemampuan untuk memangku jabatan khalifah dan meikul tanggung jawab dan amanat manusia di muka bumi, karena sebagai khalifah manusia dibekali dengan berbagai potensi seperti ilmu, persepsi, akal dan nurani. Dengan potensi-potensi ini manusia siap dan mampu menghadapi segala permasalahan sekaligus mengantisipasinya. Di samping itu, manusia juga dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang mulia dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk lain dengan berbekal potensi-potensi tadi.[11] Dan dalam surat ini manusia diberikan oleh Allah potensi jasmani.
Potensi ini juga terdapat disurat At-Taghabun ayat 3 yang berbunyi :
خَلَقَ السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَ صَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَ إِلَيْهِ الْمَصيرُ
Artinya: Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak, Dia membentuk rupamu dan membaguskan rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali(mu).
Oleh karena itu, patutnya manusia sebagai ciptaan Allah yang sangat mulia dan banyak keutamaan, agar mempergunakan potensi jasmaninya dengan baik sebagai modal utama untuk menjalankan tugas sebagai ciptan-Nya.
·         Potensi Eksternal
Disamping potensi internal yang melekat erat pada diri manusia, Allah juga sertakan potensi eksternal sebagai pengarah dan pembimbing potensi-potensi internal itu agar berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tanpa arahan potensi eksternal ini, maka potensi internal tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Potensi eksternal ini dibagi menjadi dua yaitu :
A.    Potensi Huda
Ialah petunjuk Allah yang mempertegas nilai kebenaran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia ke jalan yang lurus. Allah SWT berfirman pada surat Al-Insaan ayat 3 :
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
Artinya : Sesungguhnya Kami telah menunjukinnnya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.
Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Allah, telah menunjuki ke jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Maka dengan bimbingan wahyu-Nya yang disampaikan lewat Nabi Muhammad SAW manusia telah ditunjuki jalan yang lurus dan mana pula jalan yang sesat Allah. Dari perkataan "Sabil" yang terdapat dalam ayat ini tergambar keinginan Allah terhadap manusia yakni membimbing manusia kepada hidayah-Nya sebab Sabil lebih tepat diartikan sebagai petunjuk" dari pada jalan. Hidayah itu berupa dalil-dalil keesaan Allah dan kebangkitan Rasul yang disebutkan dalam kitab suci. 
            Sabil (hidayah) itu dapat
Sabil (hidayah) itu dapat ditangkap dengan pendengaran, penglihatan dan pikiran. Tuhan hendak menunjukkan kepada manusia bukti-bukti kewujudan Nya melalui penglihatan terhadap diri (ciptaan) manusia sendiri dan melalui penglihatan terhadap alam semesta, sehingga pikirannya merasa puas untuk mengimani-Nya.
Akan tetapi memang sudah merupakan kenyataan bahwa terhadap pemberian Allah itu, sebagian manusia ada yang bersyukur tetapi ada pula yang ingkar (kafir). Tegasnya ada yang menjadi mukmin yang berbahagia, ada pula yang kafir. Dengan sabil itu pula manusia bebas menentukan pilihannya.[12]
Dan maksud dari ayat ini juga telah dijelaskan bahwasanya kami (Allah) telah menjelaskan kepadanya (manusia) jalan hidayah dengan menutus rasul-rasul kepada manusia (ada yang bersyukur) yaitu menjadi orang mukmin (dan ada pula yang kafir) kedua lafal ini, yakni Syakiraan dan Kafuuran merupakan haal dari maf’ul; yakni Kami telah menjelaskan jalan hidayah kepadanya, baik sewaktu ia dalam keadaan bersyukur atau pun  sewaktu ia kafir sesuai dengan kepastian Kami.
Sehingga ketika manusia tidak menggunakan potensi eksternal ini yaitu, hidayah dengan baik, maka ia tidak dapat menjalankan tugas sebagai ciptan-Nya dengan baik. Potensi eksternal ini juga terdapat dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 38 :
قَالَ اللهُ تَعَالى: قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُون
Artinya : “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
Pada ayat ini dijelaskan dalam konteks potensi eksternal yaitu, ketika seseorang mengikuti dan menjalankan   yaiu petunjuk Allah maka bagi orang tersebut niscaya tidak ada kekhawatiran ataupun kesedihan hati.

A.    Potensi Alam
Alam semesta adalah merupakan potensi eksternal kedua untuk membimbing umat manusia melaksanakan fungsinya. Setiap sisi alam semesta ini merupakan ayat-ayat Allah yang dengannya manusia dapat mencapai kebenaran.
Hal ini terdapat dalam firman Allah surat Al-Imraan ayat 190 dan 191 yang berbunyi :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)
Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Pada ayat ini ditafsirkan bahwa memikirkan penciptaan Allah terhadap makhluk-Nya, merenungkan kitab alam-alam semesta yang terbuka, dan merenungkan kekuasaan Allah yang menciptakan dan menggerakan alam semesta ini, merupakan ibadah Allah kepada diantara pokok-pokok ibadah, dan merupakan zikir kepada Allah diantara dzikir-dzikir pokok. Seandainya ilmu-ilmu kealaman yang membicarakan desain alam semesta, undangan-undangan dan sunnahnya, kekuatan dan kandungannya, rahasia-rahasianya dan potensi-potensinya berhubungan dengan dzikir dan mengingat Pencipta ala mini, dari merasakan keagungan-Nya dan karunia-Nya niscaya seluruh aktifitas kelimuannya itu akan berubah menajdi ibadah kepada Sang Pencipta alam semesta ini, akan luruslah kehidupan ini, dan akan terarah kepada Allah Ta’ala[13]
            Pada ayat ini juga ditafsirkan bagaimana  Allah Ta’ala tidak menampakkan hakikat alam yang mengesankan keculai pada hati yang selalu berdzikir dan beribadah. Mereka yang selalu ingat kepada Allah pada waktu berdiri, duduk dan berbaring, sembari memikirkan penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam maka, mereka adalah yang terbuka pandangannya terhadap penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang. Dan yang seperti itulah, ketika mereka menggunakan potensi internal (akal dan hati) yang seimbang dengan potensi eksternal yaitu potensi Alam.
Ayat lain yang mendukung potensi eksternal ini yaitu surat Al-baqarah ayat 21-22 :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَ الَّذِيْنَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
اَلَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشاً وَ السَّمَاءَ بِنَاءً وَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (21) Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui(22)
Di dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana Allah memerintahkan beribadah pada hambaNya, dengan menggambarkan latar belakang, seputar penciptaan, fungsi bumi dan langit, kemakmuran akibat yang ditimbulkan bumi dan langit, dan rizki dibalik penciptaan itu. Namun, manusia terhalangi pandangannya sehingga merasa bahwa langit dan bumi seisinya itulah yang bisa diandalkan sebagai tempat berpijak, tempat bergantung dan sumber rizki. Padahal semua itu dari Allah swt. Artinya, Allah Ta'ala-lah yang mengerjakan semua itu, menciptakan semua itu dan memanage semuanya. Berarti tidak benar beribadah, kecuali hanya untukNya dan kepadaNya.
Allah-lah yang berhak disembah, sehingga manusia hanya menyembah kepadaNya. Ibadah hanya sah bagi hamba, dan tertuju kepada Pencipta hamba. Karena itu sang hamba harus mengenal Penciptanya, dimana, Allah bertajalli melalui ciptaanNya. Tajallinya Allah bukan penyatuan WujudNya dengan wujud makhlukNya yang disebut dengan pantheisme. Tetapi, Tajallinya Allah adalah penampakan yang disaksikan oleh Jiwa Terdalam dari para hambaNya, dan karena itu, seperti dalam hadits, "Siapa yang mengenal jiwanya maka ia mengenal Tuhannya."
Secara lebih jelas, keistimewaan dan kelebihan manusia, diantara-nya berbentuk daya dan bakat sebagai potensi yang memiliki peluang begitu besar untuk dikembangkan. Dalam kaitan dengan pertumbuhan fisiknya, manusia dilengkapi dengan potensi berupa kekuatan fisik, fungsi organ tubuh dan panca indera. Kemudian dari aspek mental, manusia dilengkapi dengan potensi akal, bakat, fantasi maupun gagasan. Potensi ini dapat mengantarkan manusia memiliki peluang untuk bisa menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sekaligus menempatkannya sebagai makhluk yang berbudaya.
Di luar itu manusia juga dilengkapi unsur lain, yaitu kalbu. Dengan kalbunya ini terbuka kemungkinan manusia untuk menjadi dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran ilahi secara spiritual.
Sebagai makhluk ciptaan, manusia pada dasarnya telah dilengkapi dengan perangkat yang dibutuhkan untuk menopang tugas tugas pengabdiannya. Sudah cukup persyaratan yang ia miliki, sehingga manusia merupakan makhluk yang ‘layak mengabdi’
Perpaduan daya daya tersebut membentuk potensi, yang menjadikan manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta mampu meghadapi tantangan yang mengancam kehidupannya. Dengan menggunakan akalnya, manusia dapat berkreasi membuat berbagai peralatan guna mempertahankan diri dari gangguan musuh dan alam lingkungannya. Selain itu manusia juga mampu berinovasi dan berkarya dalam meningkatkan kualitas hiduppnya. Manusiapun dapat mempertahankan kelangsuangan generasinya dari kepunahan, melalui kemampuan nalar dan kreatifitasnya
Dr. Abdul Mujib, M.Ag menuturkan potensi-potensi dasar manusia adalah sebagai berikut :
1.      Al-Fithrah
Fitrah merupakan citra asli manusia yang berpotensi baik atau buruk di mana aktualisasinya tergantung pilihannya. Fitrah baik merupakan citra asli primer sedangkan yang buruk sekunder. Sekalipun potensi fitriyah manusia itu merupakan gambaran asli yang suci, bersih, sehat dan baik namun dalam aktualisasi dapat mengaktual dalam bentuk perbuatan buruk, sebab fitrah manusia itu dinamis yang aktualisasinya sangat tergantung keinginan manusia dan lingkungan yang memengaruhinya.
2.      Struktur Manusia
Struktur manusia terdiri dari enam yaitu jasmani, rohani, nafsani, kalbu, akal, hawa nafsu.
I.                        Ciri-ciri jasmani yaitu :
a.       Bersifat materi yang tercipta karena adanya proses (tahap)
b.      Adanya bentuk berupa kadar dan bisa disifati
c.       Ekstetensinnya menjadi wadah roh
d.      Terikat oleh ruang dan waktu
e.       Hanya mampu menangkap yang kongkret bukan yang abstrak
f.       Substansinya temporer dan hancur setelah mati
II.                        Ciri-ciri rohani yaitu :
a.       Adanya di alam arwah (immateri)
b.      Tidak meiliki bentuk, kadar dan tidak bisa disifati
c.       Ada energy rohaniah yang disebut al-amanah
d.      Ekstitensi energi rohaniah tertuju pada ibadah
e.       Tidak terikat oleh ruang dan waktu
f.       Dapat menangkap beberapa bentuk konkret dan abstrak
g.      Substansinya abadi tanpa kematian
h.      Tidak dapat dibagi karena merupakan satu keutuhan
III.                        Ciri-ciri nafsani yaitu :        
a.       Adanya di alam jasad dan rohani terkadang tercipta dengan proses bisa juga tidak
b.      Antara berbentuk atau tidak
c.       Memiliki energy rohaniyah dan jismiyyah
d.      Ekstitensi energy nafsani tergantung ibadah dan gizi (makanan)
e.       Ekstitensi realisasi atau aktualisasi diri
f.       Antara terikat atau tidak oleh ruang dan waktu
g.      Dapat menangkap antara yang konkret dan abstrak
h.      Antara dapat dibagi-bagi atau tidak

IV.                        Ciri-ciri kalbu yaitu :
a.       Secara jasmaniyyah berkedudukan di jantung
b.      Daya yang dominan adalah emosi (rasa) a
c.       Bersifat Dzawqiyyah (cita rasa) dan hadsiyah (intuitif) sifatnya spiritual
d.      Mengikuti natur roh yang ketuhanan atau ilahiyyah
e.       Berkedudukan pada alam super sadar atau dasar manusia
f.       Intinya religiositas, spiritualitas, dan transedensi
g.      Apabila mendominasi jiwa manusia maka akan menimbulkan kepribadian yang tenang (Nafs Mutma’innah)

V.                        Ciri-ciri akal yaitu :
a.       Secara Jasmaniyyah berkedudukan di otak (al-dimagh)
b.      Daya yang dominan adalah kognisi (cipta) sehingga adanya intelektual
c.       Mengikuti antara natur roh dan jasad
d.      Potensinya bersifat istidhlaliyyah 9argumentatif) dan aqliyah (logis) yang bersifat rasional
e.       Berkedudukan pada alam kesadaran manusia
f.       Intinya isme-isme seperti : humanism, kapitalisme, dan lain-lain.
g.      Apabila mendominasi jiwa maka akan terwujud jiwa yang labil (Nafs Al-lawwamah)
VI.                        Ciri-ciri hawa nafsu yaitu :
a.       Secara jasmaniyyah terdapat di perut dan alat kelamin
b.      Daya yang dominan adalah konarsi (karsa) atau psikomotorik
c.       Mengikuti natur ajsad yang hayawaniyyah baik jinak maupun buas (bahimiyyah dan subu’iyyah)
d.      Bersifat hisiyyah (indrawi) yang sifatnya empiris
e.       Kedudukannya terdapat pada alam pra/ bawah sadar manusia
f.       Intinya adalah produktivitas, kreativitas dan komsumtif
g.      Apabila mendominasi jiwa maka akan terwujud nafs al-ammarah

3.      Al-Hayyah (Vitality)
Yaitu merupakan energi, daya, tenaga atau vitalitas manusia yang karenanya manusia dapat bertahan hidup. Al-hayyah dibagi menjadi dua yaittu, nayawa (al-hayya) dan fisik (at-thaqat atau al-jismiyyah) sehingga adanya fungsi organ.
4.      Al-Khuluq
Akhlaq yaitu kondisi batiniah (dalam) bukan kondisi lahiriah (luar) individu yang mencakup al-thab’u dan a-sajiyyah.
5.      Al-Thab’u (Tabiat)
Citra batin individu yang melekat (al-sukun). Menurut Ikhwan Al-Shafa tabiat adalah daya dari daya nafs kuliyyah yang menggerakan jasad manusia.[14]
6.      Al-Sajiyyah (bakat)
Yaitu kebiasaan (‘aadah) individu yang berasal dari hasil integrasi antara karakter individu (fardiyyah) dengan aktifitas-aktifitas yang diusahakan (Al-Muktasab). Dalam terminology psikologi  bakat yaitu akapasitas kemampuan yang bersifat potensial. Bakat ini bersifat karakter (tersembunyi dan bisa berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktualisasikan potensinya.
7.      Al-Sifat (sifat-sifat)
Ciri khas individu yang relative menetap secara terus-menerus dan konsekuen yang diungkapkan dalam suatu deretan keadaan sifat-sifat totalitas yaitu deferensiasi, regulasi dan integrasi
8.      Al-‘Amal (perilaku)
Tingkah laku lahiriah individu yang tergambar dalam bentuk perbuatan nyata.
·         Potensi Negatif Manusia

Pada realitanya, tidak semua potensi manusia hanya bernilai positif seperti yang kami jealaskan sebelumnya. Manusia pun mempunyai potensi yang negatif. Hal ini sesuai dengan ayat al qur’an yaitu seperti :
a.       Melampaui batas QS (Yunus : 12)
b.      Zalim (bengis, kejam, dll) QS (Ibrahim : 34)
c.       Tergesa-gesa QS (Al-Isra’ : 11)
d.      Suka membantah QS (Al-Kahfi : 54)
e.       Berkeluh kesah dan kikir QS (Al-ma’arij : 19-21)
f.       Ingkar dan tidak berterima kasih QS (Al-‘Adiyat :6)
II.2 Tugas Hidup Manusia dalam Islam
Manusia dalam pandangan agama Musa Asy’ari (Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-qur’an) menunjukkan dengan jelas tentang betapa agama telah memberikan potret yang utuh, apik dan komprehensif tentang sosok manusia melalui tiga istilah yang ada:
1.      Insan dari kata ‘anasa’ yang mempunyai arti melihat,mengetahui dan meminta izin, mengandung pengertian adanya kaitan kemamampuan penalaran. Kata ‘insan’ menunjuk pada suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap yang lahir dari adanya kesadaran penalaran. Manusia pada dasarnya jinak, dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan llingkungan yang ada.
Sejalan dengan pengertian ini, tugas manusia yaitu :
a.       Untuk mengatakan bahwa manusia menerima pelajaran dari tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya QS (Al-Alaq 1-5)
b.      Manusia mempunyai musuh nyata yang nyata yaitu setan QS (12:5)
c.       Manusia sebagai makhluk yang memikul amanah dari tuhan QS (33:72)
d.      Makhluk yang harus pandai menggunakan waktu untuk beriman dan beramal baik QS (1-3
e.       Sebagai makhluk yang hanya akan mendapatkan bagian dari apa yang dia kerjakan (53:39)
f.       Punya keterikatan dengan moral dan sopan santun
2.      Penggunaan kata ‘basyar’ yaitu manusia seperti apa yang tampak pada lahiriyyahnya, mempunyai bangunan tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama, semakin bertambah usianya, kondisi tubuhnya akan menurun, menjadi tua dan akhirnya ajal pun menjemputnya, pada kata ‘basyar’ ini disebutkan 36 kali di Al-qur’an.
3.      An-nas yaitu untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan untuk mengembangkan kehidupannya yaitu :
a.       Melakukan kegiatan peternakan QS (28:23)
b.      Kemampuan untuk mengelola besi atau logam QS (52:25)
c.       Kemampuan untuk pelayaran dan mengadakan perubahan social QS (2:164)
d.      Kepatuhan dalam beribadah QS (2:21)[15]
Al-Ghazali memandang manusia sebagai proses hidup yang bertugas dan bertujuan yaitu bekerja, beramal shaleh, mengabdikan diri dalam mengelola bumi untuk memperoleh kebahagiaanabadi sejak di dunia hingga di akhirat. Pada aspek keduniaan manusia berperan sebagai khalifah di bumi dan aspek akhirat manusia sebagai ‘hamba’ atau ‘al-‘abdu’ Allah Ta’ala.
Seperti yang beliau katakna tentang tugas manusia yaitu “Segala tujuan manusia itu terkumpul dalam agama dan dunnia. Dan agama tidak terorganisasikan selain dengan terorganisasinya dunia. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepaada Allah bagi orang yang mau memperbuatnya menjadi tempat tetap dan tanah air abadi.[16]
Sehingga dapat kita ketahui bahwa manusia mempunyai dua peran sebagai tujuan diciptakan oleh Allah Ta’ala yaitu :
a.       Manusia sebagai ‘Abd Allah (Hamba Allah)
Manusia dalam kehidupannya di muka bumi ini tidak bisa terlepas dari kekuasaan yang transdental (Alaah). Hal ini disebabkan, karena manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk beragama sesuai dengan fitrahnya. Allah Ta’ala memperkenalkan dan menunjukkan kepada manusia bagaimana tata cara yang harus dilakukannya dalam melakukan peribadatan, sebagai bukti kepatuhan kepada Allah Ta’ala melalui perantara Al-qur’an. Pada aspek ini manusia diharapkan mampu mengenal Khaliqnya lewat pengabdian yang ditunjukannya dalam semua spek kehidupan. Dalil yang mendasari pada tugas manusia sebagai hamba Allah terdapat di QS (51:56)
b.      Manusia sebagai makhluk yang mulia, menempati posisi yang istimewa yang diberikan Allah di muka bumi. Hal ini karena manusia diciptakan dalam “citra Allah”, sehingga selayaknya manusia disebut sebagai “mahkota ciptaan-Nya” atau sebagai “khalifah Allah di bumi” yang mewakili Pencipta dalam ciptan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS (2:30)
Bila kita memperhatikan ayat tersebut, maka akan terlihat bahwa manusia bukan sekedar hiasan, akan tetapi, jauh dari itu manusia diberi kekuasaan untuk memelihara ciptaan-Nya sehingga dapat mengolah dan memakmurkan alam ini dalam rangka beribadah kepada Allah, dengan begitu manusia terlihat berbeda dengan makhluk lainnya dalam kedudukan dan tanggung jawab.
Secara umum, para filosuf Islam sepakat dalam mengartikan kata khalifah dengan pengertian mengganti. Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam mendefinisikan pengertian pengganti tersebut.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
·         Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam dibagi menjadi dua yaitu potensi internal yang meliputi fitriyah, ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah dan potensi eksternal meliputi potensi huda (petunjuk) dan potensi alam.
·         Potensi terbagi dua yaitu :
a.       Potensi positif yang meliputi :
1.      Bentuk manusia yang terdiri dari jasmaniyyah dan jasadiyyah, kedua potensi ini terbentuk karena adanya proses
2.      Fithriyyah yang terdiri dari diniyyah (agama) dan khairiyyah (kebaikan)
3.      ‘Aqliyyah yang terdiri dari fuadiyyah dan qolbiyyah
4.      Ruhiyyah
b.      Potensi Negatif yang meliputi :
1.      Melampaui batas
2.      Zalim (bengis, kejam, dll)
3.      Tergesa-gesa
4.      Dan lain-lain
·         Peran dan tugas utama manusia di muka bumi dibagi menjadi dua :
1.      Manusia sebagai ‘aabid yaitu hamba Allah yang memiliki tugas mengabdi kepada Allah dan bertanggung jawab di muka bumi
2.      Manusia sebagai khalifah yaitu pemimpin di muka bumi. Manusia dilahirkan sebagai khalifah yang harus mampu mengubah dunia menjadi alam ‘Abdiyah yang terang benderang
·         Urgensi Pendidikan Islam dalam menangani potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam Islam adalah dengan adanya pendidikan islam manusia dapat mengolah atau mempergunakan potensi dasarnya dengan baik sehingga dapat menjalankan tugas atau fungsinya sebagai hamba Allah dan Khalifah di bumi dengan baik. Ketika manusia mempergunakkan potensi dasarnya tanpa pendidikan islam maka manusia tidak dapat menjalankan tugas atau fungsinya dengan baik dan akan terpacu kepada perbuatan negatif.
·         Agama islam menggambarkan bahwa kehidupan manusia itu diartikan untuk mengembangkan potensinya terutama tiga potensi yang dimilikinnya yaitu potensi fisik biologisnya, intelektual dan rohaninya, sosiologisnya. Ketika potensi ini harus dikembangkan secara harmonis dan seimbang.



















DAFTAR PUSTAKA

·         Drs. Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan
·         H. Abaddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam
·         Dr. Abdul Mujib, M.Ag dan Dr. Jusuf Mudzakir, M.Si, Ilmu Pendidikan Islam
·         Dr. Abdul Mujib. Kepribadian dalam Psikologi islam (Jakarta: Rajawali Press, 2006) h. 43-48
·          Prof.Dr. H.Jalaluddin, Teologi Pendidikan
·         Dr. Samsul Nizar, M.A, Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam
·         Al-Qur’an dan terjemahannya (Depag RI)








[1] Hasan Langgulung, Pendidikan dan peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985), h.215
[2] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah Penafsir Al-Qur’an, 1973) h.319
[3] Al-Qurthubi, Ibn ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad Anshari, Tafsir Al-Qurthuby (Kairo: Dar al Sa’ab) Juz VI h.5106
[4] Muis Said Iman, Pendidikan Partisipatif, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004) h.17
[5] Al-Qur’an dan Tafsirnya h.571
[6] Maimunah Hasan, Membangun Kreativitas Anak Secara Islami (Yogyakarta: Bintang cemerlang, 2002) h.9


[7] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2007) h.377-382

[8] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi h.118  jilid 5
[9] Syaikh Muhammad An-nawawi, Tafsir An-Nawawi h.461 jilid 1

[10] Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur hal.313 jil. 4
[11] Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah tentang Konsep manusia dan agama, h.13                                           
[12] Al-qur’an dan tafsir Depag Indonesia
[13] Sayyid Authub, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, (Jakarta, Gema Insani 2006) h. 633
[14] Ikhwan Al-Shafa, Rasail Ikhwan Al-Shafa wa Kalam Al-Wafa (Beirut Dar Sadir 1957) Juz II h.63
[15] H. Abaddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam
[16] Drs. Abidin Ibnu Kusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang pendidikan