What the mind can conceive, it can achieve -Napoleon Hill
Ini semua berawal dari euforia ketika mendengar salah satu senior waktu di pesantren dulu ketika menceritakan tentang salah satu instansi pendidikan tertua di dunia, dimana para pencari ilmu yang haus akan mencari ilmu sampai ke sumber-sumbernya berbondong-bondong menuju instansi ini, dan ketika sampai tak berbohong bahwasanya di sini lah sumber ilmu terjaga pun terus berkembang .
ya, mungkin kita yang jebolan pesantren ga asing lagi denger instansi pendidikan ini, universitas yang berdiri pada tahun 975, seabad lebih tua dari Universitas Oxford di Inggris yang kerap diklaim dunia Barat sebagai universitas tertua di muka bumi, yang mulanya merupakan sebuah masjid bernama Jami-ul Kahihirah, tetapi kemudian dikembangkan menjadi sebuah instansi pendidikan bernama Al- Azhar.
Al-Azhar yang eksistensinya tetap bertahan seantero dunia karena ke-tawadhu'-annya dalam sistem perkuliahan dan pemikiran yang melangit dari para dosennya.
dan aku pun mulai membayang-bayangi bangunan itu sebelum tidur, aku yang duduk dan memegangi kitab, aku yang mulai menelaah setiap mufrodat di dalamnya, aku yang berkomat-kamit menghafal makna yang terkandung di dalamnya, dan aku yang berkeinginan menjadi lebih baik karna manfaat darinya.
tangan ini pun tak tertahankan untuk menulis "Al-Azhar Kairo Mesir will be my next!" di buku catatan harianku.
jam, hari, minggu bulan pun berlalu, kami yang berada di tingkat kelas akhir Aliyah waktu itu sangat terharu pada Haflatut-takharuj , tak terasa apa yang dulu kami nantikan, hari dimana kami mendapat pengakuan status sebagai 'alumni 'dikumandangkan oleh pimpinan pesantren.
dan ternyata hari itu pun aku mendapat sebuah kabar yang tak pernah kuduga sebelumnya, aku direkomendasikan untuk test melanjutkan ke Universitas Al-Azhar, aku pun tergugu meng-iya-kan
dari situ aku mulai fokus untuk mengejar impianku, aku melupakan semua tentang snmptn, spmb-ptain jalur prestasi, hasil test fakultas dirasat disuatu universitas negri, prinsip untuk 'total terhadap tujuan' aku implementasikan guna mencapai Al-Azhar.
disaat teman-temanku menungu hasil snmptn dan spmbp-ptain, aku yang merasa diri ini masih sangat sangat kurang untuk mencapai Al-Azhar akhirnya memutuskan untuk mengikuti pelatihan disalah satu 'rumah singgah' alumni yang mana itu adalah saran dari guru yang merekomendasikan aku, guru yang tak pernah aku lupakan akan auranya ketika mengajar, guru yang mana pernah melihat ku menangis dan mendengarkan keluh-kesah hati ini, guru yang mengajarkan padaku bagaimana kita menyikapi perbedaan yang terjadi di antara orang-orang yang kita sayang, guru yang sampai kini pun ketika aku menginjakkan negrri para nabi ini dengan khasnya menasihatiku agar aku lebih baik, guru yang sampai saat ini masih ku ingat wajahnya,,
kembali,,
aku pun mengikuti pelatihan di 'rumah singgah' tersebut selama dua hari, dan bagiku itu sangat kurang
dan akhirnya aku mengutarakan keinginanku untuk belajar-nginap di 'rumah singgah' itu selama dua minggu yang nantinya diakhiri oleh try-out
kegiatan kami tak hanya belajar, tetapi berdiskusi, presentasi, menghafal Al-qur'an dan mendapatkan motivasi, dan aku semakin menyadari aku memang harus berusaha lebih untuk mencapai Azhar ini, karena kami berlomba-lomba diantara ribuan peminat yang mempunyai impian sama seperti aku, seperti kami.
dan Alhamdulillah, setelah melewati proses yang panjang, pelatiha, test, pengumpulan ijroat, kami tinggal menunggu visa yang akan menjadi bukti keberangkatan kami..
dan disinilah aku mengeti hakikatnya bersabar,,
waktu itu memasuki bulan Agustus,,
aku menerima kabar bahwa kami akan berangkat bulan September, senang ? ya itu pasti, aku dan yang lainnya mulai mempersiapkan keberangkatan, aku yang tidak bersedih karna ternyata tidak lulus snmptn, aku yang menolak fakultas dirasat yang sudah memasukan namaku di daftar mahasiswanya, aku yang melupakan kabar ternyata aku lulus jurusan terjemah fakultas adab dan humaniora di salah satu universitas negeri .
dan aku sebelumnya tidak pernah menyesal atas apa yang kuputuskan
dan ternyata salah, aku salah memprediksikan.
dari situlah aku belajar, bagaimana seharusnya kita tidak terkelabuhi kabar gembira dan menyepelakan apa yang kita anggap tidak penting.
Bulan September, bulan yang dijanjikan visa kami akan turun, bulan yang aku sudah bayangkan bisa merasakan udara negeri Cleopatra, ternyata memang hanya sebatas bayangan, impian.
tak pernah lagi ku dapat kabar akan keberangkatan, tak pernah lagi aku mendapat kabar akan visa yang dijanjikan. kecewa? sedih ? marah ? lebih tepatnya aku tidak bisa apa-apa.
hanya perasaan menyesal aku telah menolak universitas yang menerimaku, menyesal aku begitu angkuh dan bersikukuh akan merengkuh mesir impianku.
hanya perasaan menyesal telah membuat orang tuaku begitu banyak harapan dan penegeluaran untuk aku mencapai impianku
bulan September adalah bulan yang gelap bagiku, diriku hanyut dalam palung laut penyesalan yang terdalam, tenggelam akan beribu impian, tersesat akan berbagai maksiat, tak ada harapan, aku bagaikan bukan aku, bukan diriku, mencoba hal-hal baru dan aku tahu itu sebenarnya negatif untukku, tak perlu disebut apalah itu.
aku lupa dengan skenario-Nya, aku benar benar buta akan rahmat-Nya, sampai akhirnya aku terselamatkan dengan hidayah-Nya
Bulan Oktober aku mencoba bangkit, berenang ke tepian harapan dengan semangat baru, Alloh terlalu baik denganku, aku menemukan amplop dari universitas swasta yang menyatakan aku berhak menjadi mahasiswa jurusan pendidikan agama islam atau perbankan islam fakultas agama islam. Amplop yang dulu aku biarkan tergeletak tak tersentuh saat perasaan ini menggebu merantau nan jauh .
memang, yang tadinya kita kita tidak penting, ternyata hal itu bisa menjadi penting ketika skenario-nya berkata lain.
Aku mencoba menghubungi universitas tersebut dan lagi lagi Allah memang terlalu baik mempermudah aku menjadi mahasiswa penerus Buya Hamka dan aku memilih pendidikan agama islam sebagai jurusannya.
Sudah di kala itu, ayah salah satu motivator hebat untukku menyarankan agar aku menutup buku tentang negeri itu, dengan perasaan tak rela, aku menurutinya. Aku tidak seperti teman-temanku yang masih belajar dan percaya akan turunnya visa, aku memilih, kuliah.
Oktober, November, dan Desember
tiga bulan yang menyenangkan tak pernah ku bayangkan.
dengan perasaan setengah-setengah, tadinya kini aku bisa senyum merekah karena menuntut ilmu disni.
Teman-teman hebat yang pernah aku temui, semangat mereka untuk mempelajari islam walaupun mereka hanya lulusan MAN pun SMA dan SMK . aku malu akan diriku yang awalnya tidak serius, yang menganggap belajar disini hanyalah pelampiasan, seratus persen berubah sejak masuk ke kelas 1B, dosen yang lebih dekat dengan mahasiswa dengan renungan setiap mata kuliah yang diajarkan, kelas yang begitu terasa ke-keluarga-annya ya
ya, mereka yang sampai saat ini masih menganggapku keluarga mereka, walaupun pada akhirnta tepat akhir Desember aku meninggalkan mereka, aku yang pamit kepada mereka ketika memutuskan untuk kembali mengejar impianku, mereka yang melepasku dengan air mata, jujur, baru kali inilah aku merasa mempunyai teman yang baru 3 bulan tetapi seperti berbulan-bulan. aku yang juga sebelum pamit kepada ketua jurusan, wakil dekan dan beberapa dosen lainnya sempat goyah tak ingin berpisah. kata kata ketua jurusan yang aku ingat sampai saat ini sampai membuat ku tak bisa menahan air mata ini adalah "kamu yakin rahmi ingin meninggalkan 1 B? saya tau kelas kamu adalah kelas yang tidak biasa dari kelas yang lain nya, ada byang berbeda, yaitu kelas kalian yang memang luar biasa"
dan aku pun teringat 'luar-biasa' mereka yang semangat ke perpustakaan untuk mencari bahan presentasi, suara lantunan ayat suci mereka di kelas walau hanya untuk mengejar target mata kuliah qiraat, candaan dan celetukan mereka sepanjang perkuliahan, keseriusan mereka untuk membaca Al-qur'an dengan indah dan belajar Islam dari awal, merangkul dan mengajak teman teman kami yang sebelumnya tidak bisa bicara di depan umum, kami yang mengisi matkul kosong dengan belajar b arab, dan kami antara mahasiswa dan mahasiswi yang kedekatannya sudah seperti cinta keluarga, itulah yang menjadi nilai lebih di mata dosen kami terhadap 1 B ini :')
ya, itu sekelebat kenangan yang masih tertanam dalam otak ini, setelah akhirnya aku memutuskan untuk belajar lagi meraih impian, aku kembali ke 'rumah-singgah' itu, tempat ke-istiqomah-an mereka yang ingin ke Mesir, Pondok Labu yang mana kami dibina oleh guru guru yang sangat luar biasa ke-ikhlasan pun ilmunya :)
inilah kami, yang mengharap skenario indah dari-Nya dan itu terwujud ketika bulan Januari akhir, hari dimana kami pagi pagi sarapan bersama, menyatap muqoror dari siang sampai malam, bercanda saat istirahat, masak bersama, membantu guru guru kami juga, kini menjadi saksi biksu atas perjuangan kami untuk mencapai Al-Azhar.
kami aktor yang terpilih dalam skenario-Nya mendapatkan visa yang dijanjikan dari bulan Juni yang lalu, dan amanat dari negara terpikul karna kami harus berakating sebaik mungkin agar pulang ke Indonesia bisa membuat perubahan yang lebih baik terutama dalam ranah keagamaan, islam.
dan kini, dengan umurku disini yang hampir sebulan, aku sangat sangat bersyukur akhirnya bisa meraih impian untuk belajar di negri para nabi ini, walaupun sebenarnya ini adalah titik awal aku berjuang, dan ya aku pun tak pernah mengira, delapan bulan sungguh penantian yang tak lama...
madinatul bu'uts imaroh 4 no 58
23:48 WK
rva









1 komentar:
bakal ada lanjutannya lagi gak ni mi ??
Posting Komentar