MAKALAH SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
“Lembaga Pendidikan Islam”
Dosen : Drs. Anang Rohwiyono, M. Ag
Disusun oleh :
Nurul Alfiah
Rakhmi Vegi Arizka
(Kelompok 2/ PAI 1B)
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA SELATAN
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam juga tak lupa kami sampaikan kepada Nabi Muhammad (Sollu ‘alaihi) dan para keluarga dan sahabatnya.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Agama Islam. Selain itu, isi makalah dapat dijadikan sarana dalam memahami secara umum tentang sejarah pendidikan Islam awal, model pembelajaran, perbedaan dan persamaannya serta memahami secara khusus tentang institusi pendidikan Islam awal seperti, zawiyah kuttab dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah. Terutama kepada dosen kami Bapak Drs. Anang Rohwiyono, M.Ag yang telah memberi kami kesempatan untuk menyusun dan membahas makalah ini.
Kami sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
Jakarta, 17 Oktober 2013
Kelompok 2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……...…………………………………………………………. i
Daftar Isi ……………...…………………………………………………………. ii
Bab I Pendahuluan
I.1. Latar Belakang .………………………………………………………… 1
I.3 Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
I.2. Tujuan ………..………………………………………………………… 2
Bab II Pembahasan
II.1 Sejarah Pendidikan Islam pada Masa Rasulullah ………………………… 3-5
II.2 Model atau metode Dakwah Pendidikan Nabi Muhammad........................ 5-7
II.3 Pengertian Lembaga Pendidikan Islam........................................................ 7-8
II. 4 Institusi Pendidikan Awal........................................................................... 8-28
Bab III Penutup
III.1 Kesimpulan ….…………………………………………………………. 29-31
Daftar Pustaka …………….………………………………………………………….. 32
BAB I
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam sejarah awal perkembangan Islam, sosok yang pertama kali memainkan peran dalam pendidikan Islam adalah Nabi Muhammad. Pendidikan Islam sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad merupakan upaya pembebasan manusia dari belenggu akidah sesat yang dianut oleh kelompok Quraisy dan upaya pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan suatu kelompok terhadap kelompok lain yang dipandang rendah status sosialnya.
Mengapa pendidikan sangat urgen sekali untuk dibahas dan mengapa Rasulullah sendiri yang memainkan peran pendidikan pada awal mula Islam berkembang ? karena pendidikan memainkan peran sentral dalam Islam. Ilmu menjadi tulang punggung (backbone) ajaran Islam. Lebih dari 800 ayat Al Quran menyebut, menyinggung atau membahas tentang pentingnya keilmuan. Sekedar perbandingan, hanya 90 ayat Al Quran yang membahas tentang fiqh atau ilmu hukum Islam. Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dan pendidikan dalam Islam (QS Al Mujadalah 58:11).
Kalau kita berbicara tentang pendidikan Islam, sangatlah erat hubungannya dengan lembaga-lembaga pendidikan karena suatu pendidikan pasti ada lembaga yang membantu. Lembaga pendidikan Islam adalah wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam yang bersamaan dengan proses pembudayaan, dan itu dimulai dari lingkungan keluarga. Seperti dalam firman Allah swt dalam QS. At-Tahrim: 6, yaitu: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Pada ayat ini diperintahkan untuk memberi peringatan dan dakwah pada keluarga. Berdasarkan beberapa bentuk lembaga pendidikan Islam tersebut, tampaknya sangat berperan dalam penyelenggaraaan pendidikan Islam. Namun seperti keluarga ataupun lingkungan merupakan lembaga pendidikan non-formal, disini kami lebih spesifik tentang lembaga formal pendidikan Islam. Maka makalah kami berjudul “Lembaga Pendidikan Islam.”
I.2 Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi fokus permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah pendidikan agama islam awal secara umum ?
2. Bagaimana model pembelajaran Rasulullah dalam pendidikan ?
3. Apa perbedaan dan persamaan model pendidikan zaman Rasulullah dengan sekarang ?
4. Apa itu lembaga pendidikan Agama Islam ?
5. Apa saja lembaga-lembaga pendidikan Agama Islam pada periode awal ?
I.3 Tujuan
Dalam penulisan makalah ini, kami selaku penyusun berniat dan bertujuan untuk belajar bersama dengan rekan mahasiswa dalam menambah, mengetahui dan memahami secara umum tentang :
1. Sejarah pendidikan agama Islam awal
2. Model pembelajaran atau pendidikan Rasulullah
3. Perbedaan dan persamaan model pendidikan Rasulullah dengan jaman sekarang secara umum
4. Pengertian lembaga pendidikan islam
5. Memahami secara khusus tentang lembaga pendidikan Islam awal seperti, zawiyah kuttab dan lain sebagainya.
BAB II
II. PEMBAHASAN
II.1 Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah
Pendidikan Islam pada masa Rasulullah dapat dibedakan menjadi 2 periode:
A. Periode Makkah
B. Periode Madinah
A. Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah di Makkah
Wahyu yang pertama diterima oleh Nabi Muhammad pada tahun 610 M di Gua Hira, Makkah tertulis pada ayat al-qur’an yang artinya: “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan (semesta alam). Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.[1]
Kemudian wahyu yang kedua tertulis dalam ayat al-qur’an yang artinya: Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa tinggalkanlah dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.[2]
Dengan turunnya wahyu itu Nabi Muhammad telah diberi tugas oleh Allah, supaya bangun melemparkan kain selimut dan menyingsingkan lengan baju untuk memberi peringatan dan pengajaran kepada seluruh umat manusia sebagai tugas suci, tugas mendidik dan mengajarkan Islam. Kemudian kedua wahyu itu diikuti oleh wahyu-wahyu yang lain. Semuanya itu disampaikan dan diajarkan oleh Nabi, mula-mula kepada karib kerabatnya dan teman sejawatnya dengan sembunyi-sembunyi.
Setelah banyak orang memeluk Islam, lalu Nabi menyediakan rumah Al- Arqam bin Abil Arqam untuk tempat pertemuan sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya. Di tempat itulah pendidikan Islam pertama dalam sejarah pendidian Islam. Disanalah Nabi mengajarkan dasar-dasar atau pokok-pokok agama Islam kepada sahabat-sahabatnya dan membacakan wahyu-wahyu (ayat-ayat) al-qur’an kepada para pengikutnya serta Nabi menerima tamu dan orang-orang yang hendak memeluk agama Islam atau menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. Bahkan disanalah Nabi beribadah (sholat) bersama sahabat-sahabatnya.[3]
Lalu turunlah wahyu untuk menyuruh kepada Nabi, supaya menyiarkan agama Islam kepada seluruh penduduk jazirah Arab dengan terang-terangan. Nabi melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Banyak tantangan dan penderitaan yang diterima Nabi dan sahabat-sahabatnya. Nabi tetap melakukan penyiaran islam dan mendidik sahabat-sahabatnya dengan pendidikan islam.
Dalam masa pembinaan pendidikan agama Islam di Makkah Nabi Muhammad juga mengajarkan al-qur’an karena al-qur’an merupakan inti sari dan sumber pokok ajaran Islam. Disamping itu Nabi Muhamad mengajarkan tauhid kepada umatnya.[4]
B. Pendidikan Islam pada masa Rasulullah di Madinah
Pada periode Madinah Islam merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Nabi Muhammad juga mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala Agama, tetapi juga sebagai kepala Negara. Salah satu yang menjadi ciri perkembangan pendidikan pada periode ini adalah dibangunnya lembaga pendidikan yaitu Masjid Nabawi. Masjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat tetapi juga dipakai sebagai pusat pendidikan dan pengajaran kagamaan, mengadili beberapa perkara masyarakat, musyawarah dan pertemuan lainnya.[5]
II.2 Model atau Metode Dakwah Pendidikan Nabi Muhammad
· Metode Graduasi (Al-Tadarruj)
Metode graduasi atau penahapan merupakan metode Al-qur’an dalam membina masyarakat, baik dalam melenyapkan kepercayaan dan tradisi jahiliyah maupun yang lain. Demikian pula dalam menanamkan aqidah, Al-qur’an juga menggunakan metode graduasi ini. Oleh sebab Al-qur’an diturunkan kepada Rasul secara berangsur-angsur (bertahap), maka tidak heran juga ketika Nabi menerapkan konsep tersebut dalam penyampaian pendidikannya.
· Metode Levelisasi
Penyampaian materi pelajaran yang dilakukan Nabi Muhammad sering berbeda antara orang satu dengan orang yang lain. Hal ini beliau lakukan, karena beliau sangat memperhatikan level-level atau peringkat dan kemampuan kecerdasan intelektual seseorang dalam menangkap sebuah pelajaran. Demikian dilakukan dengan tujuan agar materi yang disampaikan beliau benar-benar bias diterima oleh peserta didik. Terkadang Rasulullah berbicara tidak hanya memperhatikan tingkat kecerdasan seseorang saja, melainkan juga memperhatikan kecerdasan emosionalnya.
· Metode Variasi (Al-Tanwi’ Wa Al-Taghyir)
Untuk menghindari kejenuhan atau kebosanan para peserta didik, Nabi Muhammad membuat variasi waktu dalam memberikan pelajaran kepada para sahabat. Tidak hanya bervariasi dalam hal waktu, beliau juga memberikan variasi-variasi dalam penyampaian materi pelajaran. Karena yang beliau ajarkan adalah wahyu dari Allah yang pada saat itu sedang dalam proses diturunkan. Oleh sebab materi yang dikirimkan lewat wahyu itu bervariasi, maka secara otomatis pendidikan yang diajarkan Rasulullah bervariasi. Menurut Prof. Dr. Muhammad ‘Ajjal al Khatib, metode variasi ini, baik digunakan dalam materi pelajaran manapun. [6]
· Metode Keteladanan (Al-Uswah wa Al-Qudwah)
Ketika Rasulullah Muhammad memberikan sebuah materi yang berkaitan pola perilaku atau tingkah laku yang berkaitan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, sebelum beliau menyampaikan kepada peserta didik, terlebih dahulu beliau melakukannya dalam perbuatan sehari-hari. Dengan hal demikian, maka peserta didik akan lebih cepat memahami ajaran Rasulullah. Selain itu, dalam Al-Qur’an juga telah disebutkan bahwa:
“sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suatu suri tauladan yang baik”. (Qs. Al-Ahzab: 21)
· Metode Aplikatif ( At-Tatbiqi Wa Al-‘Amali)
Apabila Rasulullah sudah memberikan teladan-teladan dalam ajaran-ajaran yang beliau sampaikan kepada peserta didik, maka pada gilirannya peserta didikpun langsung mempraktikan dan mengaplikasikan ajaran – ajaran itu dalam kehidupan sehari – hari. Pendidikan Nabi Muhammad tidak sekedar menyampaikan materi pelajaran saja, melainkan juga langsung diamalkan.
· Metode Pengulangan (Al-Taqrir Wa Al-Muraja’ah)
Metode pengulangan menjadi salah satu metode yang digunakan beliau, karena dianggap perlu dan penting untuk dilakukan khususnya dalam materi pelajaran yang penting-penting.
· Metode Evaluasi (Al-Taqyim)
Sebuah metode yang digunakan oleh Rasul dalam penyampaian materi pelarannya, dimana Beliau tidak hanya berhenti setelah sudah memberikan materi kepada peserta didik, akan tetapi beliau juga melakukan sebuah tindakan monitoring dan evaluating.
Dalam hal ini, beliau mengawasi dan mengevaluasi mereka. Apabila terdapat kekeliruan, maka Beliau langsung mengoreksinya. Oleh karena kekeliruan tersebut bisa diketahui langsung oleh Beliau dan terkadang diketahui lewat laporan dari seseorang sahabat.
· Metode Dialog (Al-Hiwar)
Metode pendidikan Rasulullah selanjutnya adalah Al-Hiwar yaitu dialog, Tanya jawab. Dalam hal ini Rasul, berperan sebagai penanya dan pendialog. Sementara peserta didiknya yang diajak dialog. Dengan metode ini, Beliau membentuk peserta untuk melakukan perubahan yaitu dari tidak tahu menjadi mengetahui, kemudian dan memahami, dan yang selanjutnya sampai ke posisi meyakini. Metode ini banyak mewarnai system pendidikan Islam pada masa Rasulullah.
· Metode Analogi (Al-Qiyas)
Penerapan metode ini dalam pendidikan Rasul disini Beliau seringkali menyebutkan ungkapan-ungkapan dalam mengajarkan agama Islam kepada peserta didik.
· Metode Cerita
Metode ini dikemas dengan cara bercerita. Untuk menanamkan ajaran-ajaran Islam kepada peserta didik, Rasul seringkali menuturkan kisah orang – orang terdahulu.
II.3 Pengertian lembaga Pendidikan Islam
Dalam bahasa Inggris lembaga disebut institute (dalam pengertian fisik), yaitu sarana atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dan lembaga dalam pengertian non-fiksi atau abstrak disebut institution yaitu suatu system norma untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam pengertian fisik disebut juga dengan bangunan, dan lembaga dalam pengertian non-fisik disebut dengan pranata.[7]
Secara terminology menurut Hasan Langgulung, Lembaga pendidikan adalah suatu system peraturan yang bersifat mujarrad, suatu konsepsi yang terdiri dari kode-kode, norma-norma, ideologi-ideologi dan sebagainya, baik tertulis maupun tidak tertulis, termasuk perlengkapan material dan organisasi simbolik: kelompok manusia yang terdiri dari individu-individu yang dibentuk dengan sengaja atau tidak, untuk mencapai tujuan tertentu dan tempat-tempat kelompok itu melaksanakan peraturan-peraturan tersebut adalah: masjid, sekolah, kuttab dan sebagainya.[8]
Lembaga pendidikan Islam dapat pula diartikan suatu wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan itu mengandung pengertian konkret berupa sarana prasarana dan juga pengertian yang abstrak, dengan adanya norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu, serta penanggung jawab pendidikan itu sendiri.[9]
II.4 Institusi Pendidikan Awal
Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenal sebagai lembaga pendidikan formal dalam dunia Islam sebenarnya telah berkembang lembaga-lembaga pendidikan yang bersifat non-formal, Pada zaman permulaan Islam berdiri, sistem pembelajaran disampaikan di rumah-rumah, dimulai dari rumah Rasulullah itu sendiri dan berlanjut ke rumah para sahabat, yang kemudian dikenal dengan sebutan Darul Al-Arqam.[10]
Selanjutnya perkembangan sistem pendidikan Islam berkembang pesat dan penyebarannya melalui kuttab (tempat tinggal) dan lembaga lainnya, maka berikut macam-macam lembaga pendidikan Islam:
1) Kuttab Sebagai Lembaga Pendidikan Dasar
Kuttab atau maktab, berasal dari dasar kata kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Jadi katab adalah belajar menulis, sebelum datangnya islam, kuttab telah ada di negri arab. Walaupun belum banyak dikenal. Di antara penduduk mekkah yang mula-mula menulis huruf arab adalah Sufyan ibnu umaiyah ibnu abdu syama, dan Abu qais ibnu abdi manaf ibnu zuhroh ibnu kilat. Keduanya mempelajarinya di negri Hirah. [11]
Sewaktu agama Islam diturunkan Allah sudah ada dari para sahabat yang pandai baca tulis. Kemudian baca tulis tersebut ternyata mendapat tempat dan dorongan yang kuat dalam Islam. Ayat al-qur’an yang pertama diturunkan, telah memerintahkan untuk membaca dan memberikan gambaran bahwa kepandaian membaca dan menulis merupakan sarana utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam.[12]
Sebelum kelahiran Islam pada masa Jahiliyah institusi pendidikan kuttab teah berdiri. Teori asal usul kuttab memang masih diperdebatkan oleh Asma Hasan Fahmi menurut beliau lembaga pendidikan kuttab ini didirikan oleh orang Arab pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Sementara menurut Ahmad Syalabi kuttab telah hadir sebelum Islam datng tetapi ketika itu belum masih terkenal.
Kemajuan lembaga kuttab ini terjadi ketika masyarakat muslim telah menaklukan beberapa daerah dan menjalin kontak dengan bangsa-bangsa daerah dan menjalin knontak dengan bangsa-bangsa yang telah maju.
Materi yang diajarkan untuk kuttab adalah belajar membaca dan menulis, membaca Al-qur’an dan menghafal, belajar poko-pokok Agama Islam.[13]
Pengajaran Al-qur’an sejak awalnya juga telah memerlukan kepandaian baca tulis ini, demikian pula pengembangan al-qur’an, pada akhirnya juga sangat memerlukan kepandaian baca tulis. Walaupun pada mulanya Rasulullah melarang untuk menuliskan selain Al-qur’an.
Kepandaian baca tulis dalam kehidupan sosial dan politik umat islam ternyata memegang peranan penting, sejak nama Nabi Muhamad digunakan sebagai media komunikasi dakwah kepada bangsa-bangsa di luar bangsa Arab, dan dalam menuliskan berbagai macam perjanjian. Pada masa khulafaurrosyidin dan masa-masa selanjutnya, baca tulis digunakan dalam komunikasi ilmiah dan berbagai buku ilmu pengetahuan.
Karena baca tulis semakin terasa perlu, maka kuttab sebagai tempat belajar membaca dan menulis terutama bagi anak-anak, berkembang dengan pesat. Pada mulanya, di awal perkembangan islam, Kuttab tersebut dilaksanakan di rumah guru-guru yang bersangkutan, dan yang diajarkan adalah semata-mata menulis dan membaca. Sedangkan yang ditulis/dibaca adalah syair-syair yang terkenal pada masanya. Dalam hal ini, Ahmad Salabi dalam sejarah pendidikan islam memberikan penjelasan sebagai berikut :
“Bahwa dalam mengajarkan menulis dan membaca dewasa itu adalah salah satu dari pekerjaan kaum Dzimmy dan tawanan perang Badar, orang-orang itu tentu saja tidak ada hububngannya dengan al-qur’an al karim, juga dengan agama islam. Zaman ini disambung lagi dengan zaman yang datang kemudian yang juga di masa itu pekerjaan mengajarkan menulis dan membaca itu adalah dikenal sebagai pekerjaan kaum Dzimmy. Adapun kaum muslimin yang telah belajar menulis dan membaca, banyak pekerjaan-pekerjaan yang lebih penting memerlukan tenaga mereka.”
Selanjutnya dijelaskan pengajaran Al-qur’an kepada anak-anak pada masa itu belum dikaitkan dengan kuttab dan pelajaran menulis dan membaca :
Dipersaksikan oleh pelawat ternama ibnu dubair (614 H.) dan dicatatnya dalam bukunya Al Rihlah, sebagai berikut : Mengajarkan Al-qur’an al karim kepada anak-anak di seluruh negri timur ini adalah dengan jalan membacakan. Menulis diajarkan oleh mereka dengan jalan menuliskan syair-syair, yang demikian itu agar Al-qur’an al karim jangan sampai dipermainkan oleh anak-anak dengan menulis dan menghapusnya. Boleh jadi pada kebanyakan negri, mengajarkan al-qur’an dilaksanakan pada suatu tempat belajar menulis pada tempat yang lain. Sesudah mempelajari al-qur’an pergi ke tempat belajar menulis. Cara yang dijalankan oleh mereka seperti ini adalah baik. Disebabkan karena mereka adalah bagus, karena sang guru tidak mempunyai pekerjaan yang lain dari tugasnya, sebab itu dia dapat mencurahkan segenap perhatiannya pada tugasnya itu, demikian pula si anak, dia mencurahkan pula segenap perhatiannya kepada pelajaran itu.
Kemudian pada akhirnya abad pertama hijriyah mulai timbul jenis kuttab yang disamping memberikan pelajaran menulis dan membaca juga mengajarkan membaca Al-qur’an dan pokok-pokok peklajaran agama. Pada mulanya, kuttab jenis ini, merupakan pemindahan dari pengajaran al-qur’an yang berlangsung di masjid, yang sifatnya umum (bukan saja bagi anak-anak, tetapi terupama bagi orang dewasa). Anak-anak ikut pengajian di dalamnya tetapi karena mereka tidak dapat diharapkan untuk menjaga kesucian dan kebersihan masjid, lalu diadakan tempat khusus di samping masjid untuk tempat anak-anak belajar Al-Qur'an dan pokok-pokok agama. Selanjutnya berkembanglah tepat khusus (baik yang dihubungkan dengan masjid maupun yang terpisah) untuk pengajaran anak-anak berkembanglah kuttab yang bukan hanya mengajarkan Al-Qur'an, tetapi juga pengetahuan-pengetahun dasar lainnya. Dengan demikian kuttab tersebut berkembang menjadi lembaga pendidikan dasar yang bersifat formal.
Dalam hal ini Ahmad Salabi menjelaskan sebagai berikut : Tatkala kuttab-kuttab telah didirikan dan orang-orang yang hafal Al-Qur'an telah bekerja pada kuttab-kuttab itu maka dijadikanlah Al-Qur'an sebagai titik pusat pelajaran rendah ini serta ditambahi dengan beberapa mata pelajaran yang lain. Imam Ghazali umpamanya mengajarkan supaya anak-anak mempelajari di kuttab itu Al-Qur'an, dan cerita orang-orang sholeh dan baik, kemudian beberapa peraturan agama, sesudah itu syair, tetapi anak-anak itu haruslah dijaga dari syair tentang rindu dendam, dan asyik maksyuk. Ibnu Maskawaih menambahkan pokok-pokok ilmu itu dan sedikit dari tata bahasa.
2) Zawiyah
Az-Zawiyah secara harfiyah berarti sayap atau samping, sedangkan dalam arti umum, az-zawiyah adalah tempat yang berada di bagian pinggir masjid yang digunakan untuk melakukan bimbingan wirid dan dzikir untuk mendapatkan kepuasan spiritual. Dengan demikian az-zawiyah dan al-ribath fungsinya sama namun dari segi organisasinya al-ribath lebih khusus dari pada az-zawiyah. [14]
Ada juga yang mengatakan bahwa kata az-Zawiyah secara harfiah berasal dari kata inzawa, yanzawi yang berarti mengambil tempat tertentu dari sudut masjid yang digunakan untuk i’tikaf dan beribadah. Dengan demikian Zawiyah merupakan tempat berlangsungnya pengajian-pengajian yang mempelajari dan membahas dalil-dalil naqliyah dan aqliyah yang berkaitan dengan aspek agama serta digunakan para kaum sufi sebagai tempat untuk halaqah dzikir dan tafakur untuk mengingat dan merenungkan keagungan Allah Ta’ala.
Adapun Zawiyah menyerupai khanaqah dari segi tujuan, Akan tetapi zawiyah ini lebih kecil dari pada khanaqah, dan dibangun untuk orang-orang tasawuf yang faqir supaya mereka dapat belajar dan beribadat. contohnya salah seorang raja dari al-Mamalik membangun sebuah Zawiyah al-Jumairah di abad ke XIII M. Dan ditempatkan didalamnya beberapa orang sufi yang fakir. Dan kadang-kadang pula Zawiyah itu didirikan untuk seorang syaikh yang termasyhur yang bertugas untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan mengasingkan diri untuk beribadat. Pada umumnya Zawiyah itu dikenal dengan nama seorang Syaikh yang terkenal dengan banyak ilmunya dan taqwanya.
3) Al-Ribath
Al-Ribath merupakan lembaga pendidikan yang secara khusus dibangun untuk mendidik para calon sufi atau guru spiritual. Di dalam Al-Ribath terdapat berbagai aturan yang berkaitan dengan urutan jabatan dalam pendidik mulai dari yang terendah sampai yang tinggi yakni mulai dari al-mufid (fasilitator), al-mu’id (asisten), al-mursyid (lektor/guru), sampai kepada al-syaikh (mahaguru/guru besar). Untuk tingkatan pada murid mulai dari tingkat dasar (al-mubtadi), tingkat menengah (al-mutawasith) sampai tingkat akhir (‘aliyah).
4) Khanaqah
Asma Hasan Fahmi menambahkan lembaga-lembaga kesufian sebagai lembaga pendidikan Islam pra Madrasah selain zawiyah dan ribath yaitu, Khanaqah yang merupakan suatu lembaga pengajaran berasrama bagi kaum sufi yang muncul pertama kali di Iran (Persia) pada akhir abad ke-10 bersamaan dengan adanya formalisasi aktivitas sufistik.[15]
5) Majlis
Istilah majlis dipakai dalam pendidikan sejak abad pertama Islam. Mulanya ia merujuk pada arti tempat-tempat pelakasanaan belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya di saat dunia pendidikan Islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi di mana aktivitas pengajaran atau diskusi berlangsung. Dan belakangan majlis diartikan sebagai sejumlah aktivitas pengajaran atau diskusi berlangsung, sebagai contoh, majlis Al-nabi, artinya majlis yang dilaksanakan oleh Nabi, atau majlis Al-Syafi’i artinya majlis yang mengajarkan Fiqh Imam Syafi’i.
Seiring dengan perkemabangan pengeahuan dalam Islam, majlis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan sehingga majlis banyak ragamnya. Menurut Muniruddin Ahmed ada 7 macam majlis, yaitu :
· Majlis al-Hadits
Majlis ini biasanya diselenggarakan oleh Ulama/guru yang ahli dalam bidang hadits. Ulama tersebut membentuk majlis utuk mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya.
· Majlis al-Tadris
Majlis ini biasanya menunjuk kepada majlis selain dari pada hadits, sepeerti fiqh, nahwu atau majlis kalam.
· Majlis al-Munazharah
Majlis ini biasanya dipergunakan sebagai sarana untuk perdebatan mengenai suatu maslah oleh para ulama. Menurut Syalabi, Khalifah Mu’awiyah seering mengundang para ulama untuk berdiskusi di istananya, demikian juga khalifah Al-makmun dari dinasti Abasiyyah. Untuk model ini biasanya hanya dipakai untuk mencari popularitas ulama saja.
· Majlis al-Muzakarah
Majlis ini merupakan inovasi dari murid-murid yang belajar hadits. Majis ini diselenggarakan sebagai sarana untuk berkumpul dan saling mengingat an mengulang pelajaran yang sudah diberikan sambil menunggu kehadiran guru. Pada perkembangan berikutnya, majlis Al-Muzakharah ini dibedakan berdasarkan materi yang didiskusikan yaitu, meliputi: sanad hadits, materi hadits, perawi hadits, dan lain-laiin.
· Majlis al-Syu’ara
Majlis ini adalah lembaga untuk belajar syair dan juga sering dipakai untuk kontes para ahli syair.
· Majlis al-Adab
Majlis ini adalah tempat unuk membahas masalah adab yang meliputi puisi, silsilah dan laporan bersejarah bagimorang-orang yang terkenal.
· Majlis al-fatwa dan al-Nazar
Majlis ini merupakan sarana pertemuan untuk mencari keputusan suatu maslaah di bidang hukum kemudian difatwakan. Disebut majlis al-Nazar karena karakteristik majlis ini adalah perdebatan antara ulama fiqh/hukum Islam.[16]
6) Pendidikan Rendah di Istana / Al-Qushur
Timbulnya pendidikan rendah di istana untuk anak-anak para pejabat, adalah berdasarkan pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya kelak setelah ia dewasa. Atas dasar pemikiran tersebut, khalifah dan keluarganya serta para pembesar istana lainnya berusaha menyiapkan agar anak-anak sejak kecil sudah diperkenalkan dengan lingkungan dan tugas-tugas yang dapat diembannya nanti. Oleh karena itu mereka memanggil guru-guru khusus untuk memberi pendidikan kepada anak-anak mereka.
Pendidikan anak di istana berbeda dengan pendidikan anak-anak di kuttab pada umumnya. Di istana orang tua murid (para pembesar di istana) adalah yang membuat rencana pembelajaran tersebut selaras dengan anaknya dan tujuan yang dikehendaki oleh orang tuanya. Guru yang mengajar di istana disebut mu’addib. Kata mu’adib barasal dari adab, yang berarti budi pekerti atau meriwayatkan. Guru pendidikan anak di istana disebut muaddib. Karena berfungsi mendidik budi pekerti dan mewariskan kecerdasan dan pengetahuan-pebgetahuan orang-orang dahulu kepada anak-anak pejabat.
Rencana pelajaran untuk pendidikan di istana pada garis besarnya sama saja dengan rencana pelajaran pada kuttab-kuttab, hanya di tambah atau dikurangi menurut kehendak para pembesar yang bersangkutan, dan selaras dengan keinginan untuk menyiapkan anak tersebut secara khusus untuk tujuan-tujuan dan tanggung jawab yang akan dihadapinya dalam kehidupan nanti.
Berikut akan dikemukakan contoh dari rencana pelajaran dan petunjuk-petunjuk yang dikemukakan oleh pembesar istana kepada pendidik ank-anaknya agar dijadikan sebagai pedoman sebagai berikut :
1. Berkata Amru ibnu utbah kepada pendidik putranya : “Kerjamu yang pertama untuk memperbaiki dirimu sendiri, karena mata mereka selalu terikat kepadamu. Apa yang kamu perbuat itulah yang baik menurut pandangan mereka, yang buruk ialah apa yang kamu tinggalkan. Ajarkanlah kepada mereka Al-Qur'an, tetapi jagalah agar mereka tidak sampai merasa bosan, karena kalau sampai demikian Al-Qur'an itu akan ditinggalkannya, dan janganlah mereka dijauhkan dari Al-Qur'an, nanti merka meninggalkan Al-Qur'an itu sama sekali. Riwayatkanlah kepada mereka hadis dan syair yang baik. Jangan kamu bawa mereka berpindah dari sesuatu ilmu (sesuatu pelajaran) kepada ilmu yang lain sebelum ilmu itu telah dipahaminya betul-betul. Sebab ilmu yang tertimbun-timbun dalam otak sukar dipahamkan. Ajarkanlah kepada mereka jalan orang-orang yang bijaksana. Jauhkan mereka dari berbicara dengan perempuan-perempuan. Janganlah engkau bersandar kepada kemaafanku, karena akupun telah menyerahkan sepenuhnya kepada kecakapanmu.
2. Harun al Rasyid telah mengajukan rencana pelajaran bagi putranya (Al-Amin) dengan mengatakan sebagai berikut : “Hai akhmar ! Sesungguhnya Amirul Mukminin telah memberikan kepadamu buah hatinya, maka jadikanlah tanganmu terbuka kepadanya ketaatannya kepadamu wajib. Janganlah berdosa kepadanya agar engkau selalu berada di tempat kedudukanmu yang telah ditentukan oleh Amirul Mukminin. Bacakanlah kepadanya Al-Qur'an, ceritakanlah kepadanya peristiwa, riwayatkan kepadanya syair, ajarkan kepadanya sunnah Nabi Muhammad (Sollu ‘alahi), tunjukkan kepadanya bagaimana menyusun perkataan dan memulainya. Laranglah dia ketawa kecuali pada tempatnya. Biasakanlah mereka menghormati orang-orang besar Bani Hasyim bila mereka mengunjunginya. Dan meninggikan tempat duduk panglima tentara, bila mereka menghadiri majlisnya. Jangan dibiarkan waktu berlalu walaupun sesaat tanpa engkau ikhtiarkan sesuatu yang berfaidah baginya, tetapi dengan tidak menyusahkan hatinya, karena bila hatinya susah tumpullah otaknya. Janganlah engkau terlampau berlapang dada kepadanya, karena dengan demikian dia akan malas bekerja dan terbiasa menganggur. Asuhlah dia dengan baik dan lemah lembut sedapat mungkin, akan tetapi bila yang demikian tidak mempan terhadapnya, maka pakailah kekuatan dan kekerasan kepadanya.[17]
Adapun pendapat lain mengatakan bahwa latar belakang munculnya pendidikan rendah di Istana merupakan hal yang sangat jelas untuk membentuk rencana pelajaran yang selaras dengan masa depan murid serta perkerjaan-pekerjaan yang akan merkea hadapi dalam masyarakat.
Oleh karena itu timbullah pemikiran tentang jenis pendidikan permulaan di istana untuk anak-anak kahlifah dan pejabat itu mendapat pendidikan, untuk menyiapkan peserta didik agar mampu melaksanakan tugasnya ketika dewasa dan dapat melaksanakan pekerjaaan-pekerjaan berat yang akan dipikulkan ke atas pundak mereka di masa depan.
Pendidikan seperti ini hampir sama dengaan jenis kuttab dimana fungsinya memberikan kepada murid-murid sejenis kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Namun pendidikan anak di istana berbeda dengan pendidikan anak-anak di kuttab pada umumnya. Jenis penidikan dalam kategori ini lebih khsusus dimana orang tua muridlah yan membuat rencana pelajaran, agar rencana itu selaras dengan anaaknya, dan guru disini tidak disebu “guru kanak-kanak” atau “guru kutaab” melainkan disebut “muaddib” (pendidik). Kemudian seorang murid itu akan terus belajar hingga ia telah melewati masa kanak-kanak dan berpindah dari taraf murid kuttab ke taraf pelajar di tingkat masjiid atau sekolah. Untuk muaddib diberikan tempat di dekat istana, agara terjangkau dalam mengawasi proses pendidikan terhadap putera raja.[18]
7) Toko-Toko Kitab / Keda-kedai saudagar kitab / Hawanit al-waraqin
Pada mulanya masa Daulah Abbasyiyyah, dimana ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam sudah tumbuh dan berkembang dan diikuti oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko-toko kitab. Pada mulanya toko-toko kitab tersebut berfungsi sebagai tempat berjual beli kitab-kitab yang telah ditulis dalam berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Mereka membeli dari para penulisnya kemudian menjualnya kepada siapa yang berminat untuk mempelajarinya.
Saudagar-saudagar buku tersebut bukanlah orang-orang yang semata-mata mencari keuntungan dan laba, akan tetapi kebanyakan mereka adalah sastrawan yang cerdas, yang telah memilih usaha sebagai pedagang kitab tersebut, agar mereka mendapat kesempatan yang baik untuk membaca dan menelaah, serta bergaul dengan para ulama dan pujangga-pujangga. Mereka juga menyalin kitab-kitab yang penting dan menodorkannya kepada mereka yang memerlukannya dengan mendapat imbalan. Demikian toko-toko kitab tersebut telah berkembang fungsinya bukan hanya sebagai tempat berjual beli kitab-kitab saja tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya para ulama, pujangga dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya untuk berdiskusi, berdebat, bertukar pikiran dalam berbagai masalah ilmiah. Jadi, sekaligus berfungsi sebagai lembaga pendidikan dalam rangka pengembangan berbagai macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam.
Di dalam tempat-tempat yang diajadikan sebagai tempat untuk berkumpulnya kegiatan ilmiah ialah pasar-pasar bangsa Arab yaitu: “Ukaz, Mudjannah, Dzi’l Madjaz” dimana pasar-pasar tersebut memiliki kerja sama dengan kedai-kedai tempat menjual buku-buku di zaman Islam. Di pasar mereka mendeklamasikan syair-syair, mengadakan munazharah-munazharah (diskusi-diskusi) dan juga pidato. Demikian pula dengan kedai menjadi gelanggang kecerdasan dan seminar keilmuan, ketika kedai-kedai dikunjungi oleh para cendekiawan dan ahli sastra maka mereka menjadikan sebagai tempat untuk mengadakan sidang-sidang dan pembahasan-pembahasan keilmuan. Akan tetapi terdapat perbadaan antara pasar-pasar Arab di zaman jahiliyyah dengan kedai-kedai kitab yaitu: sidang-didang ilmiah di kedai-kedai kitab itu terjadi setiap hari sedangkan pertemuan-pertemuan di pasar-pasar Arab itu hanyalah diadakan sekali dalam setahun.[19]
8) Rumah-Rumah Para Ulama / al- Manazil al-Ulama
Walaupun sebelumnya, rumah bukanlah tempat yang baik untuk tempat memberikan pelajaran. Namun pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam, banyak juga rumah-rumah para ulama’ dan para ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini pada umumnya disebabkan para ulama’ dan ahli yang bersangkutan tidak mungkin memberikan pelajaran di masjid, sedangkan pelajar banyak yang berminat untuk mempelajari ilmu pengetahuan dari padanya.
Diantara rumah para ulama’ terkenal yang menjadi rumah belajar adalah rumah Ibnu Sina, Al Ghazali, Ali ibnu Muhammad al fasihi, Ya’qub ibnu kilis, Wazir kholifah al aziz billah al fatimi, dan lainnya.
Selanjutnya Ahmad Salabi mengemukakan bahwa dipergunakannya rumah-rumah ulama’ dan para ahli tersebut, adalah karena terpaksa (dalam keadaan darurat), misalnya rumah Al-Ghazali, setelah tidak mengajar lagi di madrasah nidamiyyah dan menjalani kehidupan sufi. Para pelajar terpaksa datang ke rumahnya karena kehausan akan ilmu pengetahuan dan terutama karena pendapatnya yang sangat menarik perhatian mereka.
Sama halnya dengan Al-Ghazali, adalah Ali ibnu Muhammad al fasihi, yang dituduh sebagai seorang syi’ah kemudian dipecat dari mengajar di madrasah nidamiyyah, lalu mengajar di rumahnya sendiri. Beliau-beliau dikenal sebagai guru dan ulama yang kenamaan maka kelompok pelajar tetap mengunjunginya di rumahnya untuk meneruskan pelajaran.
9) Salon Kesusastraan / al-Shalunat al-Adabiyah (sanggar sastra)
Secara harfiah al-shalunat al-adabiyah dapat diartikan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan pertunjukkan pembacaan dan pengkajian sastra atau sebagai sanggar / teater budaya.
Dengan majlis atau salon kesusastraan, dimaksudkan adalah suatu majlis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Majlis ini bermula sejak zaman khulafa’ al rasyidin yang biasanya memberikan fatwa dan musyawarah serta diskusi dengan para sahabat untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi pada masa itu. Tempat pertemuan pada masa itu adalah di masjid. Setelah masa khalifah Bani Umayyah, tempat masjid tersebut di pindah ke istana, dan orang-orang yang berhak menghadirinya adalah orang-orang tertentu saja yang diundang oleh khalifah. Bahkan pada masa khalifah Daulah Abbasyiyyah, majlis sastra ini sangat menjadi kebanggaan khalifah yang memang pada umumnya khalifah-khalifah Daulah Abbasyiyyah sangat tertarik pada perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam majlis tersebut, bukan hanya dibahas dan didiskusikan masalah-masalah kesusastraan saja, melainkan juga berbagai macam ilmu pengetahuan (majlis ilmu pengetahuan) dan berbagai kesenian (majlis kesenian).
Pada masa Harun al rasyid (170-193 H) majlis sastra ini menghadapi kemajuan yang luar biasa karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan dan juga mempunyai kecerdasan, sehingga khalifah sendiri aktif di dalamnya. Di samping itu, pada masa tersebut dunia islam memang diwarnai oleh perkembangan ilmu pengetahuan, sedangkan Negara berada pada kondisi yang aman, tenang dan dalam zaman pembangunan pada masanya sering diadakan antar ahli-ahli syair perdebatan antar fuqoha dan diskusi antar sarjana berbagai ilmu pengetahuan juga diadakan sayembara di antara ahli kesenian dan pujangga.
Pada masa Dinasti Abasiyyah terdapat bangunan seperti ini bernama Majlis Muhadharah yaitu tempat pertemuan para ulama, sarjana, ahli piker dan pujanggan untuk membahas masalah-masalah ilmiah.
Terdapat titik persamaan antara majelis-majelis khulafaurrasyidin dengan salon-salon kesusasteraan, yaitu: masing-masing telah berbakti terhadapa perkembangan kecerdasan manusia dan telah bekerja untuk mensyiarkan ilmu pengetahuan.
Adapun perbedannya antara majelis khulafaurasyidin dan salon-salon kesusasteraan ialah: pada majelis khulafaurasyidin itu orang mempunyai kemerdekaan penuh untuk menghadirinya atau meninggalkannya sewaktu-waktu dia kehendaki, menurut keinginannya, sedang khalifah dipanggil dengan namanya atau dengan sebutan gelar khalifah Rasulullah/Amirul Mukminin. Akan tetapi salon-salon tidak demikian yaitu salon-salon kesusasteraan memiliki tata-susila yang khusus dan adat kebiasaan yang sudah menjadi tradisi dan kebbudayaan asing yang diambil oleh khalifah-kahlifah bangsa Arab itu dari kerajaan-kerajaan besar yang telah jatuh ke bawah kekuasaan mereka, karena itu salon-salon itu telah dihiasi dengan perabot yang indah-indah.
Para khalifah itu berpendapat bahwa mereka dalah pelindung ilmu pengetahuan, istana-istana mereka adalah markas tempat memancarnya kecerdasan dan pengetahuan dan tempat pertemuan bagi para ulama dan pujangga-pujangga.
10) Badiah (Padang pasir, Dusun Tempat Tinggal Baduwi)
Secara harfiah dapat diartikan sebagai tempat mengajarkan bahasa Arab asli, yaitu bahasa Arab yang belum tercampur oleh pengaruh berbagai dialek bahasa asing.
Sejak berkembang luasnya Islam, dan bahasa Arab dipergunakan sebagai bahasa pengantar oleh bangsa-bangsa di luar bangsa Arab yang beragama Islam, dan terutama di kota-kota yang banyak percampurannya dengan bahasa-bahasa lain, maka bahasa Arab berkembang luas, tetapi bahasa aArab cenderung kehilangan keaslian dan kemurniannya. Orang-orang di luar bangsa Arab sering tidak bisa mengucapkan lafadz-lafadz dengan baik, tidak tahu kaidah-kaidahnya, sehingga sering salah mengucapkannya. Bahasa Arab menjadi rusak dan menjadi bahasa pasaran.
Kalau di kota-kota bahasa Arab sudah rusak dan menjadi bahasa pasaran dan campur baur dengan bahasa lain ternyata tidak demikian halnya di badiah-badiah atau di dusun tempat tinggal orang Arab dipandang mereka tetap mempertahankan keaslian dan kemurnian bahasa Arab. Mereka masih sangat memperhatikan kefasihan berbahasa dengan memelihara kaidah-kaidah bahasanya. Dengan demikian, badiah-badiah ini merupakan sumber bahasa Arab asli dan murni.
Oleh karena itu, khalifah-khalifah biasanya mengirimkan anak-anaknya ke badiah-badiah ini untuk mempelajari bahasa arab yang fasih lagi murni dan mempelajari pula syair-syair serta sastra Arab dari sumbernya yang asli. Banyak ulama-ulama dan ahli ilmu pengetahuan lainnya yang pergi ke badiah-badiah dengan tujuan untuk mempelajari bahasa dan kesusastraan arab yang asli lagi murni tersebut. Badiah-badiah tersebut lalu menjadi sumber ilmu pengetahuan terutama bahasa dan sastra arab dan berfungsi sebagai lembaga pendidikan islam.
Di samping itu di badiah-badiah ini biasanya berdiri ribath-ribath atau zawiyah-zawiyah yang merupakan pusat-pusat kegiatan dari pada ahli sufi. Disanalah para sufi mengembangkan metode khusus dalam mencapai makrifah, suatu ilmu pengetahuan yang mereka anggap paling tinggi nilainya.
11) Rumah Sakit / Al-Maristan
Pada zaman jayanya perkembangan kebudayaan islam dalam rangka menyebarkan kesejahteraan di kalangan umat islam, maka banyak didirikan rumah-rumah sakit oleh khalifah dan pembesar-pembesar Negara. Rumah sakit tersebut, bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang sakit. Tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan. Mereka mengadakan berbagai penelitian dan percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan, sehingga berkembang ilmu kedokteran dan ilmu obat-obatan atau farmasi. Rumah sakit ini juga tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan di luar rumah sakit, tetapi tidak jarang pula sekolah kedokteran tersebut didirikan tidak terpisah dari rumah sakit. Dengan demikian, rumah sakit dalam dunia islam juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
Maristan dikenal sebagai lembaga ilmiyah yang paling pening dan sebagai tempat penyembuhan dan pengobatan pada zaman keemasan islam didalamnya para dokter mengajar ilmu kedoktoran dan mereka secara tekun mengadakan studi penelitian secara menyeluruh. Diantara para dokter yang paling terkenal dan kemasyhuran di dunia islam dan di dunia barat ialah Muhammad bin Zakaria Ar-Razi, dimana beliau dipercaya memimpin Maristan di Bagdad. [20]
12) Perpustakaan / Al-Maktabat
Pada zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam, buku mempunyai nilai yang sangat tinggi. Buku adalah merupakan sumber informasi berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikembangkan oleh para ahlinya. Orang dengan mudah dapat belajar dan mengajarkan ilmu pengetahuan yang telah tertulis dalam buku. Dengan demikian buku merupakan sarana utama dalam usaha pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan.
Para ulama dan sarjana dari berbgai macam keahlian, pada umumnya menulis buku-buku dalam bidangnya masing-masing dan selanjutnya untuk diajarkan atau disampaikan kepada para penuntut ilmu. Bahkan para ulama dans sarjana tersebut memberikan kesempatan kepada para penuntut ilmu untuk belajar di perpustakaan pribadi mereka.
Di samping itu berkembang pula perpuastakaan-perpustakaan yang sifatnya umum, yang diselenggarakan oleh pemerintah atau merupakan wakaf dari para ulama dan sarjana. Baitul hikmah di Baghdad yang didirikan oleh khalifah Harun al rasyid adalah salah satu contoh dari perpustakaan islam yang lengkap yang berisi ilmu-ilmu agama islam dan bahasa arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada masa itu, dan berbagai buku-buku terjemahan dari bahasa Yunani, Persia, India, Qibti dan Arami.
Perpustakaan-perpustakaan dalam dunia islam pada masa jayanya, dikatakan sudah menjadi efek budaya yang penting, sekaligus sebagai tempat belajar dari sumber pengembangan ilmu pengetahuan.
Darul Hikmah, adalah perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-rasyid. Ini merupakan perpustakaan terbesar yang di dalamnya juga disediakan tempat ruangan belajar.
13) Masjid atau Suffah
Sejarah pendidikan islam sangat erat pertaliannya dengan Masjid sebelum dinasti Abbasiyah, pusat kegiatan dunia Islam selalu bermuara pada masjid. Masjid dijadikan Centre of Education. Karena masjid merupakan tempt yang asasi untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. [21]
Hal ini sependapat dengan An-Nahlawi yang menyatakan bahwa masjid berfungsi sebagai tempat memberi pelajaran dan juga markas tentara, pusat gerakan pembebasan umat Islam dari taghut. Menurut pendapat Kuntowijiyo masjid merupakan pusat kegiatan keagamaan umat Islam, baik yang bersifat ibadah ataupun mu’amalah.[22]
Masjid dalam peranannya sebagai pusat pengajaran dan pendidikan, senantiasa terbuka lebar dan didatangi oleh orang-orang yang merasa dirinya mampu untuk memberikan pelajaran pada masyarakat. Ulama datang ke masjid dengan inisiatif sendiri untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat. Rakyat yang berminat kemudian mengambil tempat duduk melingkar, sebagai mana telah dipraktikkan sejak masa Nabi.[23]
Dalam sejarah Islam, masjid yang pertama kali dibangun Nabi adalah Masjid At-Taqwa di Quba’ pada jarak perjalanan kurang lebih 2 mil dari kota Madinah ketika Nabi hijrah dari Mekah (QS. Al-Taubah 108). Rasulullah membangun sebelah utara Masjid Madinah dan Masjidil Haram yang disebut As-Suffah, untuk tempat tinggal orang-orang fakir miskin yang tekun menuntut ilmu. Mereka dikenal dengan “ Ahli Suffah “. Pembangunan masjid tersebut bertujuan untuk memajukan dan menyejahterakan kehidupan umat Islam. Di samping itu, masjid juga memiliki multifungsi, di antaranya sebagai tempat ibadah, kegiatan sosial-politik, bahkan lebih dari itu, masjid dijadikan sebagai pusat dan lembaga pendidikan Islam.
Nakoesteen sebagaimana yang dikutip Hasan Asari mengatakan bahwa pendidikan Islam yang berlangsung di masjid adalah pendidikan yang unik karena memakai sistem halaqah (lingkaran). Sang syekh biasanya duduk di dekat dinding atau pilar masjid, sementara siswanya duduk di depannya membentuk lingkaran dan lutut para siswa saling bersentuhan. Bila ditinjau lebiih lanjut, bahwa sistemhalaqah seperti demikian, adalah bentuk pendidikan yang tidak hanya menyentuh perkembangan dimensi intelektual, akan tetapi lebih menyentuh dimensi emosional dan spiritual peserta didik. Adalah merupakan kebiasaan dalam halaqah bahwa murid yang lebih tinggi pengetahuannya duduk di dekat Syekh, murid yang level pengetahuannya lebih rendah dengan sendirinya akan duduk lebih jauh, sementara berjuang belajar keras agar dapat mengubah posisinya dalam konfigurasi halaqahnya, sebab dengan sendirinya posisi dalam halaqah menjadi sangat signifikan. Meskipun tidak ada batasan resmi, sebuah halaqah biasanya teridiri dari 20 orang siswa atau murid.
Semenjak berdirinya di zaman Nabi Muhammad masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kehidupan kaum muslimin. Ia menjadi tempat bermusyawarah, tempat mengadili perkara, tempat menyampaikan penerangan agama dan informasi-informasi lainnya dan tempat menyelenggarakan pendidikan, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Kemudian pada masa Bani Umayyah, berkembang fungsinya sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, terutama yang bersifat keagamaan, para ulama mengajarkan ilmu di masjid, tetapi majlis khalifah berpindah ke masjid atau ke tempat tersendiri.
Pada masa Daulah Abbasyiyyah dan masa perkembangan kebudayaan islam, masjid yag didirikan oleh para pengusaha pada umumnya diperlengkapi dengan berbagai macam sarana dan fasilitas pendidikan. Tempat pendidikan anak-anak, tempat untuk pengajian dari ulama yang merupakan kelompok-kelompok (halaqoh); tempat untuk berdiskusi atau munadzarah dalam berbagai ilmu pengetahuan dan juga dilengkapi dengan ruang perpustakaan dengan buku-buku dari berbagai macam ilmu pengetahuan yang cukup banyak. Mesjid, biasanya dipakai untuk pendidikan tinggi dan tahassus.
Demikianlah masjid dalam dunia islam sepanjang berdirinya tetap memegang peranan yang pokok, disamping fungsinya sebagai tempat berkomunikasi dengan Tuhan, sebagai lembaga pendidikan dan pusat komunikasi sesama kaum muslimin.
Berikut tiga masjid besar yang memiliki banyak pengaruh dalam syiar Islam dan pendidikan yaitu:
1. Jami’ Al Manshur
Pada tahun 145 H, Al Manshur membangun kota Baghdad dengan Qsar Adz Dzahab (Istana Kencana) dan jami’ Al Manshur, dimana masjid ini menjadi perhatian guru dan pelajar.
2. Jami’ Damaskus
Al Walid ibnu Abdul Malik ialah seorang khalifah yang membangun masjid ini dan masjid ini sangat terkenal akan kebesaran pada amsanya. Kemudia masjid ini menjadi pusat dalam kegiatan pelajaran-pelajaran Islam seperti terdapat lingkaan-lingkaran pelajaan bagi murid, dan disediakan sebuah tempat belajar bagi beberapa mazhab Fiqh, kemudian bagi yang mengajar dapat hadiah atau upah. Salah satu yang mengajar adalah Al Chatib Al Baghdadi yang mengajar Hadits.
3. Jami’ Amr
Pada tahun 21 H, ‘Amr Ibnu ‘Ash membangun masjid ini kemudian masjid ini telah diperbaharui dan diperluas beberapa kali. Fungsi masjid ini ialah sebagai tempaat untuk memberi pelajaran dan juga sebagai mahkamah untuk pengadilan.
4. Jami’ Al-Azhar
Masjid Al-Azhar sepperti halnya masjid-masjid lain, Al-Azhar di samping sebagai tempat ibadah juga berfungsi sebagai tempat Ibadah juga berfungsi sebagai tempat menyelenggarakan pendidikan, masjid ini sebenarnya diperuntukkan Dinasti Fatimiah yangsedang bersaing dengan kekhalifahan di Baghdad.[24]
Masjid Al-Azhar dibangun oleh Khalifah Mauizudin li Dnillah, dari Dinasti Fatimiyah pada tanggal 24 Jumadil Ula 359 H/390 M dan selesai pembangunannya pada bulan ramadhan 361 H.[25]
Masjid Al-Azhara dalah sebagai pusat ilmu pengetahuan, tempat diskusi bahsa dan juga mendengarkan kisah dari orang yang ahli bercerita. Baru setelah pemerintahan di pegang oleh Al Azizi Billah mengubah funsi masjid Al Azhar menjadi universitas.[26]
14) Madrasah
Madrasah adalah isim masdar dari kata darsa yang berarti sekolah atau tempat untuk belajar. Madrasah sebagai lembaga pendidikan merupakan fenomena yang merata di seluruh Negara, baik pada Negara-negara Islam maupun negara lainnya yang di dalamnya terdapat komunitas masyarakat islam. Sebagian ahli Sejarah berpendapat bahwa madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang muncul daripenduduk nisapur, tetapi tersiarnya melalui perdana menteri Saljuk yang bernama Nidzam-Al muluk melalui madsrasah nidzamiyah yang didirikannya pada tahun 1065 M.
Perdana menteri Nidhomul Mulk adalah orang yang mula-mula mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada sampai sekarang ini, dengan nama Madrasah. Dalam menjelaskan tahap perkembangan madrasah sebagai salah satu tahap dalam perkembangan instusi pendidikan Islam.
Pedersen dan Makdisi menyebutkan bahwa madrasah adalah merupakan
kelanjutan proses dari perkembangan sebelumnya yaitu Masjid, masjid Khan complex, dan baru kemudian Madrasah.[27]
kelanjutan proses dari perkembangan sebelumnya yaitu Masjid, masjid Khan complex, dan baru kemudian Madrasah.[27]
Lahirnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk madrasah merupakan pengembangan dari sistem pengajaran dan pendidikan yang pada awalnya berlangsung di mesjid-mesjid.
Disisi lain, Syalabi mengemukakan bahwa perkembangan dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung, menurutnya madrasah sebagai konsekuensi logis dari semakin ramainya pengajian di masjid yang fungsi utamanya adalah ibadah. Agar tidak kegiatan ibadah, dibuatlah tempat khusus untuk belajar yang dikenal madrasah.
Meskipun madrasah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran di dunia islam baru timbul sekitara abad ke-14 H, ini bukan berarti bahwa sejak awal perkembangannya islam tidak mempunyai lembaga pendidikan dan pengajaran. Pada awal telah berdiri madrasah yang menjadi cikal bakal munculnya madrasah nizamiyah, madrasah tersebut berada diwilayah Persia, tepatnya di daerah Nisyapur, misalnya madrasah al-baihaqiyah, madrasah sa’idiyah dan madrasah yang terdapat di Khusan.
Madrasah Nizamiyah yang dibangun oleh Nizam Al-Muluk dibangun tidak semata-mata karena Nizam Al-Muluk seorang yang memiliki concern terhadap intelektualitas dan pendidikan tetapi di dalamnya telah terkandung muatan-muatan lain seperti untuk mempertahankan madhab dan mengembalikkan kemurnian ajaran sunni[28] dan kepentingan politis untuk memperkuat struktur birokrasi pemerintahannya.[29]
Madrasah nizhamiyah merupakan pertotipe awal bagi lembaga pendidikan tinggi, ia juga dianggap sebagai tonggak baru dalam penyelenggaraan pendidikan islam, dan merupakan karakteristik tradisi pendidikan islam sebagai suatu lembaga pendidikan resmi dengan sistem asrama. Pemerintah atau penguasa ikut terlibat didalam menentukan tujuan, kurikulum, tenaga pengajar, pendanaan, sarana fisik dan lain-lain.
Kendati madrasah nizhamiyah mampu melestarikan tradisi keilmuan dan menyebarkan ajaran islam dalam persi tertentu. Tetapi keterkaitan dengan standarisasi dan pelestarian ajaran kurang mampu menunjang pengembangan ilmu dan penelitian yang inofatif.
Adapun madrasah di Mekah dan Madinah yaitu Informasi tentang madrasah mendapat dukungan banyak dari berbagai leteratur. Namun sayang para sejarawan tidak cukup tertarik berbicara madrasan di Mekah dan Madinah. Hal ini mengakibatkan pelacakan informasi tentang permasalahan tersebut kurang lengkap.
Lebih lanjut secara kuantitatif madrasah di Mekah lebih banyak dibandingkan di Madinah. Diantara madrasah Abu Hanifah, Maliki, madrasah ursufiyah, madrasah muzhafariah, sedangkan madrasah megah yang dijumpai di Mekah adalah madrasah qoi’it bey, didirikan oleh Sultan Mamluk di Mesir.
15) Universitas / al-Jami’at
Pada tahun 859 masehi Fatimah al Fihri mendirikan Jami’ah al-Qarawiyyin atau Universitas Qarawiyyin di kota Fas, Maroko. Universitas ini merupakan universitas pertama dan tertua di dunia.[30] Di susul kemudian oleh Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir yang didirikan pada tahun 959 masehi.
Zamiyya atau Universitas Nizamiyyah Baghdad, Irak didirikan pada 1091 M, yang merupakan universitas terbesar dunia pada abad pertengahan. Disusul kemudian oleh Universitas Mustansiriya yang didirikan oleh khalifah Abbasiyah Al Mustansir pada 1233 M. Universitas-universitas ini selain mengajarkan bidang-bidang agama, juga menyediakan bidang studi filsafat, matematika dan ilmu sains. Al Hakam ibnu Abdul Rahman mendirikan universitas Kordoba di Spanyol yang kemudian menjadi salah satu universitas internasional terkemuka pada zamannya.
Banyak intelektual muslim berpengaruh adalah hasil didikan dari universitas-universitas ini. Seperti Al Khawarizmi (780-846 M) pakar matematika, Ibnu al Haytham (965-1040 M ahli astronomi dan matematika, Ibnu Sina (980-1037) filsuf, Jabir ibnu Hayyan (721M – 815 M) peletak dasar ilmu kimia modern, Al Razi (865-925 M) ahli pengobatan dan lainnya.
BAB III
III.1 KESIMPULAN
· Pola awal pendidikan Rasulullah dilaksanakan pada 2 fase :
a. Pendidikan pada fase Mekah
b. Pendidikan pade fase Madinah
· Pendidikan pada periode Mekah ditandai dengan turunnya wahyu pertama dan kedua yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5 dan Al-Mudatsir ayat 1-7 hal tersebut memotivasi Rasulullah untuk menyebar dakwah dan pendidikan Islam mulai muncul dengan ditandai mulainya Rasulullah mengajarkan tauhid kepada keluarga maupun kerabat dekatnya di rumah Arqom bin Arqom yang dikenal dengan Darul Arqom
· Pendidikan pada periode Madinah ditandai dengan mulai berkembangnya pendidikan Islam dan mulai bermunculan lembaga pendidikan Islam seperti mesjid yang pertama kali didirikan yaitu Masjid Quba yang manfaatnya tidak hanya untuk beribadah saja tetapi seklaigus tempat belajar dan mengajar.
· 10 metode pendidikan Rasulullah yaitu :
1. Metode Graduasi (Al-Tadarruj)
2. Metode Levelisasi
3. Metode Variasi (Al-Tanwi’ Wa Al-Taghyir)
4. Metode Keteladanan (Al-Uswah wa Al-Qudwah)
5. Metode Aplikatif ( At-Tatbiqi Wa Al-‘Amali)
6. Metode Pengulangan (Al-Taqrir Wa Al-Muraja’ah)
7. Metode Evaluasi (Al-Taqyim)
8. Metode Dialog (Al-Hiwar)
9. Metode Analogi (Al-Qiyas)
10. Metode Cerita
· Perbedaan metode pendidikan dahulu dengan sekaranga adalah pada periode sekarang ini metode pendidikan lebih berkembang seiring dengan kemajuan teknologi.
· Lembaga pendidikan Islam mengandung pengertian konkret berupa sarana prasarana dan juga pengertian yang abstrak, dengan adanya norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu, serta penanggung jawab pendidikan itu sendiri
· Macam-macam lembaga pendidikan Islam awal :
1. Kuttab : sebagai sistem juga sebagai sarana lain yang dalam pelaksanaannya bertempat di rumah-rumah gurunya.
2. Zawiyah : berperan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan bagi para calon guru tasawuf/tarekat, juga sebagai lembaga pendidikan agama.
3. Al-Ribath : lembaga pendidikan yang secara khusus dibangun untuk mendidik para calon sufi atau guru spiritual.
4. Khanaqah : suatu lembaga pengajaran berasrama bagi kaum sufi.
5. Majlis : sejumlah aktivitas pengajaran atau diskusi berlangsung
6. Pendidikan rendah Istana / Al-Qushur : Lembaga pendidikan dimana raja/khalifah memanggil guru-guru khusus untuk memberi pendidikan kepada anak-anak mereka.
7. Toko-Toko Kitab / Keda-kedai saudagar kitab / Hawanit al-waraqin : dimana tokko buku tidak hanya menjadi tempat jual-beli buku tetapi juga sekaligus tempat belajar dan mengajar.
8. Rumah-Rumah Para Ulama / al- Manazil al-Ulama : yaitu rumah-rumah para ulama’ dan para ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.
9. Salon Kesusastraan / al-Shalunat al-Adabiyah (sanggar sastra) : tempat untuk melakukan kegiatan pertunjukkan pembacaan dan pengkajian sastra atau sebagai sanggar / teater budaya.
10. Badiah (Padang pasir, Dusun Tempat Tinggal Baduwi) :
tempat mengajarkan bahasa Arab asli, yakni bahasa Arab yang belum tercampur oleh pengaruh berbagai dialek bahasa asing.
11. Rumah Sakit / Al-Maristan : lembaga ilmiah yang paling penting dan sebagai penyembuhan dan pengobatan pada zaman keemasan islam sekaligus lembaga pendidikan.
12. Perpustakaan / Al-Maktabat : Perpustakaan dimana tidak hanya menjadi tempat untuk membaca buku melainkan sebagai tempat belajar atau diskusi umum.
13. Masjid atau Suffah : sebagai sarana / tempat pelaksanaan pendidikan.
14. Madrasah : sekolah atau tempat untuk belajar.
15. Universitas/ Al-Jami’at : Perguruan tinggi
· Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat, yaitu:
1. Tingkat sekolah rendah, namanya Kuttab sebagai tempat belajar bagi anak-anak. Di samping Kuttab ada pula anak-anak belajar di rumah, di istana, di took-toko dan di pinggir-pinggir pasar. Adapun pelajaran yang diajarkan meliputi: membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, pokok-pokok ajaran islam, menulis, kisah orang-orang besar islam, membaca dan menghafal syair-syair atau prosa, berhitung, dan juga pokok-pokok nahwu shorof ala kadarnya.
2. Tingkat sekolah menengah, yaitu di masjid dan majelis sastra dan ilmu pengetahuan sebagai sambungan pelajaran di kuttab. Adapun pelajaran yang diajarkan melipuri: Al-Qur’an, bahasa Arab, Fiqih, Tafsir, Hadits, Nahwu, Shorof, Balaghoh, ilmu pasti, Mantiq, Falak, Sejarah, ilmu alam, kedokteran, dan juga music.
3. Tingkat perguruan tinggi, seperti Baitul Hikmah di Bagdad dan Darul Ilmu di Mesir (Kairo), di masjid dan lain-lain. Pada tingkatan ini umumnya perguruan tinggi terdiri dari dua jurusan.
DAFTAR PUSTAKA
· Al-Qur’an
· Prof. Dr.H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992.
· Dra. Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, cet.9, 2008.
· Dr. H. Murodi, MA, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Karya Toha, 2009.
· Mustafa Yaqub Ali, Sejarah dan metode Dakwah nabi, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997.
· Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002.
· Hasan Langgulung, Pendidikan islam mengahdapi Abad ke-21, Jakarta:Pustaka Al-Husna, 1988.
· A Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, Terj. Prof. H. Muchtar yahya, Drs Sanusi Latief Jakarta: Bulan bintang, 1973.
· Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, terjemahan Ali Audah, Jakarta: Tinta Mas, Jilid I 1972.
· Suwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, 2004
· Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT Rajawali Pers, Cet.I, 2004.
· Ajid Thohir, perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: PT Rajagrafindo persada, 2004.
· Kuntowijiyo, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Yogyakarta: Shalahuddin Press, 1985.
· A.A. Ateek, Al-Azhar,The Mosque and The University, dalam Konsep Universitas Islam, DR. Hamid hasan Al Bilgrami, Dr, Sayid Ali Asyraf, Yoyakarta: Tiara Wacana, 1989.
· Ali Djumbulati, Perbandingan Pendidikan Islam, Terj. H.M. Arifin, Jakarta:Rineka Cipta, 1987.
· Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam,Bandung: Mizan 1994.
[7] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002 hlm. 277
[8] Hasan Langgulung, Pendidikan islam mengahdapi Abad ke-21, Jakarta:Pustaka Al-Husna, 1988 hlm. 12- 13
[9] Ramayulis, ilmu pendidikan Islam, hlm.278
[10] Hasan Langgulung, Pendidikan Islam mengahdapi Abad ke-21, Jakarta: Pustaka Al-husna, 1988 hlm. 14
[11] A Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, Terj. Prof. H. Muchtar yahya, Drs Sanusi Latief Jakarta: Bulan bintang, 1973 hlm.36
[12] Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, terjemahan Ali Audah, Jakarta: Tinta Mas, 1972 Jilid I
[13] Suwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, 2004
[18] A. Syalabi, Sejarah pendidikan Islam (Terj. Muhatar Yahya), Jakarta: Bulan Bintang, 1973.Hlm.48
[21] Ajid Thohir, perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: PT Rajagrafindo persada, 2004, hlm. 50
[22] Kuntowijiyo, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Yogyakarta: Shalahuddin Press, 1985, hlm.125
[23] Prof. A. Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, Terjemahan oleh Prof. H. Muchtar Yahya dan Drs. M.Sanusi Latief, Bulan Bintang, Cet.I, 1973 hal. 201
[24] A.A. Ateek, Al-Azhar,The Mosque and The University, dalam Konsep Universitas Islam, DR. Hamid hasan Al Bilgrami, Dr, Sayid Ali Asyraf, Yoyakarta: Tiara Wacana, 1989, hlm. 40
[25] Dr. Ahmad, Muhammad Uf, Al Azhar fi alf Am, Cairo: Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah, 1982 hlm 67
[26] Ali Djumbulati, Perbandingan Pendidikan Islam, Terj. H.M. Arifin, Jakarta:Rineka Cipta, 1987, hlm. 27.
[27] J. Pedersen dan G. Makdisi, Madrasa, Tulisan dalam C.E. Bosworth dkk., The Encyclopedia of Islam, E.J. Brill, Leiden, 1986, hal. 1123-1125
[28] Syalabi, op.cit.hal.109
[29] Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Bandung: Mizan 1994 hal. 54
[30] The Guiness Book of records, 1998, p. 242

0 komentar:
Posting Komentar