MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
“Potensi-Potensi
Dasar Manusia dan Tugas Hidup Manusia dalam Islam”
Dosen : Fitriliza, M.A
Disusun
oleh :
Nurul
Alfiah
Rakhmi
Vegi Arizka
(Kelompok
1/ PAI 1B)
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
SELATAN
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami dalam menyusun dan
menyelesaikan makalah ini.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan Mata
Kuliah Pendidikan Agama Islam. Selain itu, isi makalah dapat dijadikan
sarana dalam memahami apa potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam
Islam.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terlibat
dalam pembuatan makalah. Terutama kepada dosen kami Ibu Fitriliza.
M.A yang telah memberi kami kesempatan untuk menyusun dan membahas makalah
ini.
Kami sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan
masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian
bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun
sangat kami harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita
semua. Amin
Jakarta, 1 Oktober 2013
Kelompok 1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……...………………………………………………………….
1
Daftar Isi ……………...………………………………………………………….
2
Bab I Pendahuluan
I.1. Latar Belakang .…………………………………………………………
3
I.2. Tujuan ………..…………………………………………………………
3
Bab II Pembahasan
II.1. Potensi-potensi dasar manusia dalam
Islam……………………………… 4-18
II.2. Tugas Hidup Manusia dalam Islam
…………………………………….. 18-21
Bab III Penutup
III.1. Kesimpulan ….………………………………………………………….
21
Daftar Pustaka
…………….………………………………………………………….. 22
BAB I
I.
PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Manusia
merupakan makhluk yang paling istimewa yang diciptakan oleh Allah Ta’ala
di muka bumi ini. Dalam sudut pandang Islam, manusia
mempunyai potensi-potensi
dasar yang sangat mendukung dalam kemajuan pendidikan terutama pendidikan Agama
Islam. Karena Allah
ta’ala telah menciptakan manusia sebagaimana mulianya, maka Allah mempunyai
tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri yang sudah terdapat dalilnya di
dalam Al-qur’an. Pada
zaman ini realita yang kita dapat adalah manusia banyak yang membuat kerusakan
di muka bumi ini. Sebagai contoh adanya bencana banjir, polusi udara dan
lain-lain. Semua kejadian tersebut ada kaitannya antara potensi dasar manusia,
tugas manusia dan pendidikan Islam. Oleh karena itu, materi ini butuh dibahas
secara tuntas.
I.2 Tujuan
Dalam
penulisan makalah ini, kami selaku penulis berniat untuk menambah wawasan dan
pengetahuan tentang potensi-potensi dasar manusia dan tugas hidup manusia dalam
Islam. Sehingga, rekan mahasiswa dapat memahami dengan baik hakekat manusia dalam islam.
BAB II
II.
PEMBAHASAN
II.1
Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam
Allah
menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak
diberikan kepada makhluk lainnya.
Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atasnya,
baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) dan potensi eksternal
(potensi yang disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal
utama bagi manusia untuk melaksanakn tugas dan memikul tanggung jawabnya. Oleh
karena itu, ia harus diolah dan didayagunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga
ia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna.
·
Potensi Internal
Ialah
potensi yang menyatu dalam diri manusia itu sendiri, terdiri dari :
A.
Potensi
Fitriyah
Ditinjau
dari beberapa kamus dan pendapat tokoh islam, fitrah mempunyai makna
sebagai berikut :
1.
Fitrah berasal dari
kata (fi’il) fathara yang berarti “menjadikan” secara etimologi fitrah berarti kejadian asli, agama, ciptaan,
sifat semula jadi, potensi dasar, dan kesucian[1]
2.
Dalam kamus B. Arab
Mahmud Yunus, fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli.[2]
3.
Dalam kamus Munjid
kata fitrah diartikan sebagai agama, sunnah, kejadian, tabi’at.
4.
Fitrah berarti
Tuhur yaitu kesucian[3]
5.
Menurut Ibn
Al-Qayyim dan Ibn Katsir, karena fatir artinya menciptakan, maka fitrah artinya
keadaan yang dihasilkan dari penciptaannya itu[4]
Apabila di
interpretasikan lebih lanjut, maka istilah fitrah sebagaimana dalam Ayat
Al-qur’an, hadits ataupun pendapat adalah sebagai berikut :
1.
Fitrah berarti
agama, kejadian. Maksudnya adalah agama Islam ini bersesuaian dengan kejadian
manusia. Karena manusia diciptakan untuk melaksanakan agama (beribadah). Hal
ini berlandaskan dalil Al-qur’an surat Adz-Dzariyat (51:56)[5]
2.
Fitrah Allah untuk
manusia merupakan potensi dan kreativitas yang dapat dibangun dan membangun,
yang memilliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya jauh
melampaui kemampuan fisiknya. Maka diperlukan suatu usaha-usaha yang baik yaitu
pendidikan yang dapat memelihara dan mengembangkan fitrah serta pendidikan yang
dapat membersihkan jiwa manusia dari syirik, kesesatan dan kegelapan menuju ke
arah hidup bahagia yang penuh optimis dan dinamis. Ini sesuai dengan Al-Qur’an
surat Ar-Rum ayat : 30 yaitu :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ
لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا
تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
وَلَكِنَّ
أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُون
Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
Pada ayat ini Allah telah menciptakan semua makhluknya
berdasarkan fitrahnya. Surat ini telah menginspirasikan untuk mengembangkan dan
mengaktualisasikan fitrah atau potensi itu dengan baik dan dan lurus.[6]
3.
Fitrah
berarti ikhlas. Maksudnya manusia lahir dengan berbagai sifat, salah satunya
adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Berkaitan
dengan makna ini ada hadits yaitu : “Tiga perkara yang menjadikannya selamat
adalah ikhlas, berupa fitrah Allah, di mana manusia diciptakan darinya, sholat
berupa agama, dan taat berupa benteng penjagaan” (HR. Abu Hamdi dari Mu’adz)
Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu)
satu potensi kebenaran (dinnullah). Kalau ia gunakan potensinya ini, ia akan
senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. Karena Allah telah membimbingnya
semenjak dalam alam ruh (dalam kandungan).
B.
Potensi
Ruhiyah
Ialah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk
membedakan dan memilih jalan yang hak dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan
dan jalan menuju kedurhakaan. Bentuk dari roh ini sendiri pada hakikatnya tidak
dapat dijelaskan. Potensi ini terdapat pada surat Asy-Syams ayat 7 yaitu :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
Artinya : dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)
kemudian Asy-Syams ayat 8 :
فَأَلْهَمَهَا
فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya : maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Di
dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan
jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Menurut Ibn ‘Asyur
kata ‘nafs’ pada surat Asy-Syams ayat ke-7 menunjukan nakiroh maka arti kata
tersebut menunjukan nama jenis, yaitu mencakup jati diri seluruh manusia
seperti arti kata ‘nafs’ pada surat Al-infithar ayat 5 yaitu :
عَلِمَتْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
Artinya : maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah
dikerjakan dan yang dilalaikannya.
Menurut Al-Qurthubi sebagian ulama mengartikan ‘nafs’ adalah
nabi Adam namun sebagian lain mengartikan secara umum yaitu jati diri manusia
itu sendiri.
Pada arti kata ‘nafs’ ini terdapat tiga unsur yaitu :
a. Qolbu : menurut
para ulama salaf adalah nafs yang terletak di jantung
b. Domir :
bagian yang samar, tersembunyi dan kasat mata
c. Fuad : mempunyai manfaat dan fungsi
Dengan
demikian, dalam potensi ruhaniyyah terdapat pertanggungjawaban atas diberinya
manusia kekuatan pemikir yang mampu untuk memilih dan mengarahkan
potensi-potensi fitrah yang dapat berkembang di ladang kebaikan dan ladang
keburukan ini. Karena itu, jiwa manusia bebas tetapi bertanggung jawab. Ia
adalah kekuatan yang dibebani tugas, dan ia adalah karunia yang dibebani
kewajiban.
Demikianlah
yang dikehendaki Allah secara garis besar terhadap manusia. Segala sesuatu yang
sempurna dalam menjalankan peranannya, maka itu adalah implementasi kehendak
Allah dan qadar-Nya yang umum.[7]
C. Potensi Aqliyah
Potensi Aqliyah terdiri dari panca indera dan akal pikiran (sam’a basar,
fu’ad). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya nalar dan
ilmiah tentang ‘kekuasaan’ Allah. Serta dengan potensi ini ia dapat mempelajari
dan memahami dengan benar seluruh hal yang dapat bermanfaat baginya dan tentu
harus diterima dan hal yang mudharat baginya tentu harus dihindarkan. Potensi
Aliyah juga merupakan potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia agar
manusia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil dan mapu berargumen
terhadap pemilihan yang dilakukan oleh potensi ruhiyah.
Allah
berfirman dalam Al-qur’an surat An-Nahl
ayat 78 :
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ
أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur.
Ayat ini
menurut Tafsir Al-maraghi mengandung penjelasan bahwa setelah Allah melahirkan
kamu dari perut ibumu, maka Dia menjadikan kamu dapat mengetahui segala sesuatu
yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Dia telah memberikan kepadamu beberapa
macam anugerah berikut ini :
1. Akal
sebagai alat untuk memahami sesuatu, terutama dengan akal itu kamu dapat
membedakan antara yang baik dan jelek, antara yang lurus dan yangs esat, antara
yang benar dan yang salah
2. Pendengaran
sebagai alat untuk mendengarkan suara, terutama dengan pendengaran itu kamu
dapat memahami percakapan diantara kamu
3. Penglihatan
sebagai alat untuk melihat segala sesuatu, terutama dengan penglihatan itu kamu
dapat mengenal diantara kamu.
4. Perangkat
hidup yang lain sehingga kamu dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan
materi lainnya yang kamu butuhkan, bahkan kamu dapat pula meilih mana yang
terbaik bagi kamu dan meninggalkan mana yang jelek.[8]
Menurut An-Nawawi menafsirkan ayat ini bahwa agar kamu (manusia)
menggunakan ni’mat Allah itu untuk kebaikan, maka kamu mendengar akan nasihat Allah,
dan melihat tanda-tanda Allah dan memikirkan kebesaran Allah.[9]
Selain ayat tersebut, surat Al-Israa ayat 36 juga menjelaskan tentang
potensi ini yang berbunyi :
وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚإِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ
أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya :
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Pada ayat
ini Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah janganlah kamu
mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya, atau kamu
katakana kamu mendengarnya padahal kamu tidak mendengrnya, atau kamu katakana
bahwa kamu mengetahuinya, padahal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya
Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal itu secara
keseluruhan, sehingga inti dari ayat ini adalah bagaimana kita mengolah potensi
yang terdapat dalam ayat ini dengan sebaik-baiknya karena ketika kita menggunakan
potensi ini, maka cara kita menggunakannya akan mendapat pertanggungjawaban
kelak di akhirat dan Allah melarang sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang
pula mengatakan sesuatu dengan dzan (dugaan) yang bersumber dari
sangkaan atau ilusi.
Termasuk
dalam surat Al-‘Araf tentang potensi Aqliyah ini pada ayat 179 yang berbunyi :
وَلَقَدْ
ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا
يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا
يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ
الْغَافِلُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah kami sediakan untuk mereka
jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak
mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mereka
gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mereka
gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka
lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Dalam
ayat ini, kekuatan dan kesuksesan bersumber dari-Nya, aktifitas akal dan juga
ruh berada di tangan-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat menyembunyikan
sesuatu apa pun dari-Nya, melainkan dalam setiap kesempatan dan keadaan
senantiasa memohon taufik dari-Nya dan menjadikan Allah sebagai penolong-Nya
dan tidak mencari penolong selain-Nya.[10]
Sehingga dapat kita ketahui bahwa akal merupakan potensi yang besar yang
iberikan oleh Allah sehingga kita bisa melaksanakan tugas sebagai ciptan-Nya
dengan baik dan benar.
D.
Potensi
Jasmaniyyah
Ialah kemampuan tubuh manusia yang telah Allah ciptakan
dengan sempurna, baik rupa, kekuatan dan kemampuan. Sebagaimana pada firman
Allah Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4 yaitu
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya : sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya
Kata insan dijumpai dalam Al-Qur’an sebanyak 65 kali.
Penekanan kata insan ini adalah lebih mengacu pada peningkatan manusia ke
derajat yang dapat memberinya potensi dan kemampuan untuk memangku jabatan
khalifah dan meikul tanggung jawab dan amanat manusia di muka bumi, karena
sebagai khalifah manusia dibekali dengan berbagai potensi seperti ilmu,
persepsi, akal dan nurani. Dengan potensi-potensi ini manusia siap dan mampu
menghadapi segala permasalahan sekaligus mengantisipasinya. Di samping itu,
manusia juga dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang mulia dan
memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk lain dengan berbekal
potensi-potensi tadi.[11]
Dan dalam surat ini manusia diberikan oleh Allah potensi jasmani.
Potensi ini juga terdapat disurat At-Taghabun ayat 3 yang
berbunyi :
خَلَقَ
السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَ صَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَ
إِلَيْهِ الْمَصيرُ
Artinya: Dia
menciptakan langit dan bumi dengan hak, Dia membentuk rupamu dan membaguskan
rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali(mu).
Oleh
karena itu, patutnya manusia sebagai ciptaan Allah yang sangat mulia dan banyak
keutamaan, agar mempergunakan potensi jasmaninya dengan baik sebagai modal
utama untuk menjalankan tugas sebagai ciptan-Nya.
·
Potensi Eksternal
Disamping potensi internal yang melekat erat pada diri
manusia, Allah juga sertakan potensi eksternal sebagai pengarah dan pembimbing
potensi-potensi internal itu agar berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tanpa
arahan potensi eksternal ini, maka potensi internal tidak akan membuahkan hasil
yang diharapkan. Potensi eksternal ini dibagi menjadi dua yaitu :
A. Potensi Huda
Ialah petunjuk Allah yang mempertegas nilai kebenaran yang
Allah turunkan kepada Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia ke jalan yang
lurus. Allah SWT berfirman pada surat Al-Insaan ayat 3 :
إِنَّا
هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
Artinya : Sesungguhnya Kami telah menunjukinnnya jalan yang
lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.
Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Allah, telah
menunjuki ke jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Maka dengan bimbingan wahyu-Nya yang
disampaikan lewat Nabi Muhammad SAW manusia telah ditunjuki jalan yang lurus
dan mana pula jalan yang sesat Allah. Dari
perkataan "Sabil" yang terdapat dalam ayat ini tergambar keinginan
Allah terhadap manusia yakni membimbing manusia kepada hidayah-Nya sebab Sabil
lebih tepat diartikan sebagai petunjuk" dari pada jalan. Hidayah itu
berupa dalil-dalil keesaan Allah dan kebangkitan Rasul yang disebutkan dalam
kitab suci.
Sabil (hidayah) itu dapat Sabil (hidayah) itu dapat ditangkap dengan pendengaran, penglihatan dan pikiran. Tuhan hendak menunjukkan kepada manusia bukti-bukti kewujudan Nya melalui penglihatan terhadap diri (ciptaan) manusia sendiri dan melalui penglihatan terhadap alam semesta, sehingga pikirannya merasa puas untuk mengimani-Nya.
Sabil (hidayah) itu dapat Sabil (hidayah) itu dapat ditangkap dengan pendengaran, penglihatan dan pikiran. Tuhan hendak menunjukkan kepada manusia bukti-bukti kewujudan Nya melalui penglihatan terhadap diri (ciptaan) manusia sendiri dan melalui penglihatan terhadap alam semesta, sehingga pikirannya merasa puas untuk mengimani-Nya.
Akan tetapi memang sudah merupakan kenyataan bahwa terhadap
pemberian Allah itu, sebagian manusia ada yang bersyukur tetapi ada pula yang
ingkar (kafir). Tegasnya ada yang menjadi mukmin yang berbahagia, ada pula yang
kafir. Dengan sabil itu pula manusia bebas menentukan pilihannya.[12]
Dan maksud dari ayat ini juga telah dijelaskan bahwasanya
kami (Allah) telah menjelaskan kepadanya (manusia) jalan hidayah dengan menutus
rasul-rasul kepada manusia (ada yang bersyukur) yaitu menjadi orang mukmin (dan
ada pula yang kafir) kedua lafal ini, yakni Syakiraan dan Kafuuran merupakan
haal dari maf’ul; yakni Kami telah menjelaskan jalan hidayah kepadanya, baik
sewaktu ia dalam keadaan bersyukur atau pun
sewaktu ia kafir sesuai dengan kepastian Kami.
Sehingga ketika manusia tidak menggunakan potensi eksternal
ini yaitu, hidayah dengan baik, maka ia tidak dapat menjalankan tugas sebagai
ciptan-Nya dengan baik. Potensi eksternal ini juga terdapat dalam firman Allah
surat Al-Baqarah ayat 38 :
قَالَ اللهُ تَعَالى: قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا
جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ
خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُون
Artinya : “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian
jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku,
niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih
hati”.
Pada ayat ini dijelaskan dalam konteks potensi eksternal
yaitu, ketika seseorang mengikuti dan menjalankan yaiu petunjuk Allah maka bagi orang tersebut
niscaya tidak ada kekhawatiran ataupun kesedihan hati.
A. Potensi Alam
Alam semesta adalah merupakan potensi eksternal kedua untuk
membimbing umat manusia melaksanakan fungsinya. Setiap sisi alam semesta ini
merupakan ayat-ayat Allah yang dengannya manusia dapat mencapai kebenaran.
Hal ini terdapat dalam firman Allah surat Al-Imraan ayat 190
dan 191 yang berbunyi :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
(190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ
فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا
سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)
Artinya
: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka.
Pada
ayat ini ditafsirkan bahwa memikirkan penciptaan Allah terhadap makhluk-Nya,
merenungkan kitab alam-alam semesta yang terbuka, dan merenungkan kekuasaan
Allah yang menciptakan dan menggerakan alam semesta ini, merupakan ibadah Allah
kepada diantara pokok-pokok ibadah, dan merupakan zikir kepada Allah diantara
dzikir-dzikir pokok. Seandainya ilmu-ilmu kealaman yang membicarakan desain
alam semesta, undangan-undangan dan sunnahnya, kekuatan dan kandungannya,
rahasia-rahasianya dan potensi-potensinya berhubungan dengan dzikir dan
mengingat Pencipta ala mini, dari merasakan keagungan-Nya dan karunia-Nya
niscaya seluruh aktifitas kelimuannya itu akan berubah menajdi ibadah kepada
Sang Pencipta alam semesta ini, akan luruslah kehidupan ini, dan akan terarah kepada
Allah Ta’ala[13]
Pada ayat
ini juga ditafsirkan bagaimana Allah
Ta’ala tidak menampakkan hakikat alam yang mengesankan keculai pada hati yang
selalu berdzikir dan beribadah. Mereka yang selalu ingat kepada Allah pada
waktu berdiri, duduk dan berbaring, sembari memikirkan penciptaan langit dan
bumi serta pergantian siang dan malam maka, mereka adalah yang terbuka
pandangannya terhadap penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan
siang. Dan yang seperti itulah, ketika mereka menggunakan potensi internal
(akal dan hati) yang seimbang dengan potensi eksternal yaitu potensi Alam.
Ayat lain yang mendukung potensi eksternal ini yaitu surat
Al-baqarah ayat 21-22 :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ وَ الَّذِيْنَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
اَلَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشاً وَ السَّمَاءَ
بِنَاءً وَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ
رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah
menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (21) Dialah
yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu
segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui(22)
Di dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana Allah
memerintahkan beribadah pada hambaNya, dengan menggambarkan latar belakang,
seputar penciptaan, fungsi bumi dan langit, kemakmuran akibat yang ditimbulkan
bumi dan langit, dan rizki dibalik penciptaan itu. Namun, manusia terhalangi
pandangannya sehingga merasa bahwa langit dan bumi seisinya itulah yang bisa
diandalkan sebagai tempat berpijak, tempat bergantung dan sumber rizki. Padahal
semua itu dari Allah swt. Artinya, Allah Ta'ala-lah yang mengerjakan semua itu,
menciptakan semua itu dan memanage semuanya. Berarti tidak benar beribadah,
kecuali hanya untukNya dan kepadaNya.
Allah-lah yang berhak disembah, sehingga manusia hanya
menyembah kepadaNya. Ibadah hanya sah bagi hamba, dan tertuju kepada Pencipta
hamba. Karena itu sang hamba harus mengenal Penciptanya, dimana, Allah
bertajalli melalui ciptaanNya. Tajallinya Allah bukan penyatuan WujudNya dengan
wujud makhlukNya yang disebut dengan pantheisme. Tetapi, Tajallinya Allah
adalah penampakan yang disaksikan oleh Jiwa Terdalam dari para hambaNya, dan
karena itu, seperti dalam hadits, "Siapa yang mengenal jiwanya maka ia
mengenal Tuhannya."
Secara
lebih jelas, keistimewaan dan kelebihan manusia, diantara-nya berbentuk daya
dan bakat sebagai potensi yang memiliki peluang begitu besar untuk
dikembangkan. Dalam kaitan dengan pertumbuhan fisiknya, manusia dilengkapi
dengan potensi berupa kekuatan fisik, fungsi organ tubuh dan panca indera.
Kemudian dari aspek mental, manusia dilengkapi dengan potensi akal, bakat,
fantasi maupun gagasan. Potensi ini dapat mengantarkan manusia memiliki peluang
untuk bisa menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan
sekaligus menempatkannya sebagai makhluk yang berbudaya.
Di luar
itu manusia juga dilengkapi unsur lain, yaitu kalbu. Dengan kalbunya ini
terbuka kemungkinan manusia untuk menjadi dirinya sebagai makhluk bermoral,
merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran ilahi secara spiritual.
Sebagai
makhluk ciptaan, manusia pada dasarnya telah dilengkapi dengan perangkat yang
dibutuhkan untuk menopang tugas tugas pengabdiannya. Sudah cukup persyaratan
yang ia miliki, sehingga manusia merupakan makhluk yang ‘layak mengabdi’
Perpaduan
daya daya tersebut membentuk potensi, yang menjadikan manusia mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta mampu meghadapi tantangan yang
mengancam kehidupannya. Dengan menggunakan akalnya, manusia dapat berkreasi
membuat berbagai peralatan guna mempertahankan diri dari gangguan musuh dan
alam lingkungannya. Selain itu manusia juga mampu berinovasi dan berkarya dalam
meningkatkan kualitas hiduppnya. Manusiapun dapat mempertahankan kelangsuangan
generasinya dari kepunahan, melalui kemampuan nalar dan kreatifitasnya
Dr.
Abdul Mujib, M.Ag menuturkan potensi-potensi dasar manusia adalah sebagai
berikut :
1.
Al-Fithrah
Fitrah
merupakan citra asli manusia yang berpotensi baik atau buruk di mana
aktualisasinya tergantung pilihannya. Fitrah baik merupakan citra asli primer
sedangkan yang buruk sekunder. Sekalipun potensi fitriyah manusia itu merupakan
gambaran asli yang suci, bersih, sehat dan baik namun dalam aktualisasi dapat
mengaktual dalam bentuk perbuatan buruk, sebab fitrah manusia itu dinamis yang
aktualisasinya sangat tergantung keinginan manusia dan lingkungan yang
memengaruhinya.
2.
Struktur
Manusia
Struktur
manusia terdiri dari enam yaitu jasmani, rohani, nafsani, kalbu, akal, hawa
nafsu.
I.
Ciri-ciri
jasmani yaitu :
a.
Bersifat materi
yang tercipta karena adanya proses (tahap)
b.
Adanya bentuk
berupa kadar dan bisa disifati
c.
Ekstetensinnya
menjadi wadah roh
d.
Terikat oleh ruang
dan waktu
e.
Hanya mampu
menangkap yang kongkret bukan yang abstrak
f.
Substansinya
temporer dan hancur setelah mati
II.
Ciri-ciri
rohani yaitu :
a.
Adanya di alam
arwah (immateri)
b.
Tidak meiliki
bentuk, kadar dan tidak bisa disifati
c.
Ada energy rohaniah
yang disebut al-amanah
d.
Ekstitensi energi
rohaniah tertuju pada ibadah
e.
Tidak terikat oleh
ruang dan waktu
f.
Dapat menangkap
beberapa bentuk konkret dan abstrak
g.
Substansinya abadi
tanpa kematian
h.
Tidak dapat dibagi
karena merupakan satu keutuhan
III.
Ciri-ciri
nafsani yaitu :
a.
Adanya di alam
jasad dan rohani terkadang tercipta dengan proses bisa juga tidak
b.
Antara berbentuk
atau tidak
c.
Memiliki energy
rohaniyah dan jismiyyah
d.
Ekstitensi energy
nafsani tergantung ibadah dan gizi (makanan)
e.
Ekstitensi
realisasi atau aktualisasi diri
f.
Antara terikat atau
tidak oleh ruang dan waktu
g.
Dapat menangkap
antara yang konkret dan abstrak
h.
Antara dapat
dibagi-bagi atau tidak
IV.
Ciri-ciri
kalbu yaitu :
a.
Secara jasmaniyyah
berkedudukan di jantung
b.
Daya yang dominan
adalah emosi (rasa) a
c.
Bersifat Dzawqiyyah
(cita rasa) dan hadsiyah (intuitif) sifatnya spiritual
d.
Mengikuti natur roh
yang ketuhanan atau ilahiyyah
e.
Berkedudukan pada
alam super sadar atau dasar manusia
f.
Intinya
religiositas, spiritualitas, dan transedensi
g.
Apabila mendominasi
jiwa manusia maka akan menimbulkan kepribadian yang tenang (Nafs Mutma’innah)
V.
Ciri-ciri
akal yaitu :
a.
Secara Jasmaniyyah
berkedudukan di otak (al-dimagh)
b.
Daya yang dominan
adalah kognisi (cipta) sehingga adanya intelektual
c.
Mengikuti antara
natur roh dan jasad
d.
Potensinya bersifat
istidhlaliyyah 9argumentatif) dan aqliyah (logis) yang bersifat rasional
e.
Berkedudukan pada
alam kesadaran manusia
f.
Intinya isme-isme
seperti : humanism, kapitalisme, dan lain-lain.
g.
Apabila mendominasi
jiwa maka akan terwujud jiwa yang labil (Nafs Al-lawwamah)
VI.
Ciri-ciri
hawa nafsu yaitu :
a.
Secara jasmaniyyah
terdapat di perut dan alat kelamin
b.
Daya yang dominan
adalah konarsi (karsa) atau psikomotorik
c.
Mengikuti natur
ajsad yang hayawaniyyah baik jinak maupun buas (bahimiyyah dan subu’iyyah)
d.
Bersifat hisiyyah
(indrawi) yang sifatnya empiris
e.
Kedudukannya
terdapat pada alam pra/ bawah sadar manusia
f.
Intinya adalah
produktivitas, kreativitas dan komsumtif
g.
Apabila mendominasi
jiwa maka akan terwujud nafs al-ammarah
3.
Al-Hayyah
(Vitality)
Yaitu
merupakan energi, daya, tenaga atau vitalitas manusia yang karenanya manusia
dapat bertahan hidup. Al-hayyah dibagi menjadi dua yaittu, nayawa (al-hayya)
dan fisik (at-thaqat atau al-jismiyyah) sehingga adanya fungsi organ.
4.
Al-Khuluq
Akhlaq
yaitu kondisi batiniah (dalam) bukan kondisi lahiriah (luar) individu yang
mencakup al-thab’u dan a-sajiyyah.
5.
Al-Thab’u
(Tabiat)
Citra
batin individu yang melekat (al-sukun). Menurut Ikhwan Al-Shafa tabiat adalah
daya dari daya nafs kuliyyah yang menggerakan jasad manusia.[14]
6.
Al-Sajiyyah
(bakat)
Yaitu
kebiasaan (‘aadah) individu yang berasal dari hasil integrasi antara karakter
individu (fardiyyah) dengan aktifitas-aktifitas yang diusahakan (Al-Muktasab).
Dalam terminology psikologi bakat yaitu
akapasitas kemampuan yang bersifat potensial. Bakat ini bersifat karakter
(tersembunyi dan bisa berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat
diaktualisasikan potensinya.
7.
Al-Sifat
(sifat-sifat)
Ciri
khas individu yang relative menetap secara terus-menerus dan konsekuen yang
diungkapkan dalam suatu deretan keadaan sifat-sifat totalitas yaitu
deferensiasi, regulasi dan integrasi
8.
Al-‘Amal
(perilaku)
Tingkah
laku lahiriah individu yang tergambar dalam bentuk perbuatan nyata.
·
Potensi Negatif
Manusia
Pada
realitanya, tidak semua potensi manusia hanya bernilai positif seperti yang
kami jealaskan
sebelumnya. Manusia pun
mempunyai potensi yang negatif. Hal ini sesuai dengan ayat al qur’an yaitu
seperti :
a.
Melampaui batas QS
(Yunus : 12)
b.
Zalim (bengis,
kejam, dll) QS (Ibrahim : 34)
c.
Tergesa-gesa QS
(Al-Isra’ : 11)
d.
Suka membantah QS
(Al-Kahfi : 54)
e.
Berkeluh kesah dan
kikir QS (Al-ma’arij : 19-21)
f.
Ingkar dan tidak
berterima kasih QS (Al-‘Adiyat :6)
II.2 Tugas Hidup
Manusia dalam Islam
Manusia
dalam pandangan agama Musa Asy’ari (Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam
Al-qur’an) menunjukkan dengan jelas tentang betapa agama telah memberikan
potret yang utuh, apik dan komprehensif tentang sosok manusia melalui tiga
istilah yang ada:
1.
Insan dari kata
‘anasa’ yang mempunyai arti melihat,mengetahui dan meminta izin, mengandung
pengertian adanya kaitan kemamampuan penalaran. Kata ‘insan’ menunjuk pada
suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap yang lahir dari adanya kesadaran
penalaran. Manusia pada dasarnya jinak, dapat menyesuaikan dengan realitas
hidup dan llingkungan yang ada.
Sejalan
dengan pengertian ini, tugas manusia yaitu :
a.
Untuk mengatakan
bahwa manusia menerima pelajaran dari tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya
QS (Al-Alaq 1-5)
b.
Manusia mempunyai
musuh nyata yang nyata yaitu setan QS (12:5)
c.
Manusia sebagai
makhluk yang memikul amanah dari tuhan QS (33:72)
d.
Makhluk yang harus
pandai menggunakan waktu untuk beriman dan beramal baik QS (1-3
e.
Sebagai makhluk
yang hanya akan mendapatkan bagian dari apa yang dia kerjakan (53:39)
f.
Punya keterikatan
dengan moral dan sopan santun
2.
Penggunaan kata
‘basyar’ yaitu manusia seperti apa yang tampak pada lahiriyyahnya, mempunyai
bangunan tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama, semakin
bertambah usianya, kondisi tubuhnya akan menurun, menjadi tua dan akhirnya ajal
pun menjemputnya, pada kata ‘basyar’ ini disebutkan 36 kali di Al-qur’an.
3.
An-nas yaitu untuk
menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai
kegiatan untuk mengembangkan kehidupannya yaitu :
a.
Melakukan kegiatan
peternakan QS (28:23)
b.
Kemampuan untuk
mengelola besi atau logam QS (52:25)
c.
Kemampuan untuk
pelayaran dan mengadakan perubahan social QS (2:164)
d.
Kepatuhan dalam
beribadah QS (2:21)[15]
Al-Ghazali
memandang manusia sebagai proses hidup yang bertugas dan bertujuan yaitu
bekerja, beramal shaleh, mengabdikan diri dalam mengelola bumi untuk memperoleh
kebahagiaanabadi sejak di dunia hingga di akhirat. Pada aspek keduniaan manusia
berperan sebagai khalifah di bumi dan aspek akhirat manusia sebagai ‘hamba’
atau ‘al-‘abdu’ Allah Ta’ala.
Seperti
yang beliau katakna tentang tugas manusia yaitu “Segala tujuan manusia itu
terkumpul dalam agama dan dunnia. Dan agama tidak terorganisasikan selain
dengan terorganisasinya dunia. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepaada
Allah bagi orang yang mau memperbuatnya menjadi tempat tetap dan tanah air
abadi.[16]
Sehingga
dapat kita ketahui bahwa manusia mempunyai dua peran sebagai tujuan diciptakan
oleh Allah Ta’ala yaitu :
a.
Manusia sebagai
‘Abd Allah (Hamba Allah)
Manusia dalam
kehidupannya di muka bumi ini tidak bisa terlepas dari kekuasaan yang
transdental (Alaah). Hal ini disebabkan, karena manusia adalah makhluk yang
memiliki potensi untuk beragama sesuai dengan fitrahnya. Allah Ta’ala
memperkenalkan dan menunjukkan kepada manusia bagaimana tata cara yang harus
dilakukannya dalam melakukan peribadatan, sebagai bukti kepatuhan kepada Allah
Ta’ala melalui perantara Al-qur’an. Pada aspek ini manusia diharapkan mampu
mengenal Khaliqnya lewat pengabdian yang ditunjukannya dalam semua spek kehidupan.
Dalil yang mendasari pada tugas manusia sebagai hamba Allah terdapat di QS
(51:56)
b.
Manusia sebagai
makhluk yang mulia, menempati posisi yang istimewa yang diberikan Allah di muka
bumi. Hal ini karena manusia diciptakan dalam “citra Allah”, sehingga selayaknya
manusia disebut sebagai “mahkota ciptaan-Nya” atau sebagai “khalifah Allah di
bumi” yang mewakili Pencipta dalam ciptan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman
Allah QS (2:30)
Bila kita
memperhatikan ayat tersebut, maka akan terlihat bahwa manusia bukan sekedar
hiasan, akan tetapi, jauh dari itu manusia diberi kekuasaan untuk memelihara
ciptaan-Nya sehingga dapat mengolah dan memakmurkan alam ini dalam rangka
beribadah kepada Allah, dengan begitu manusia terlihat berbeda dengan makhluk
lainnya dalam kedudukan dan tanggung jawab.
Secara umum, para
filosuf Islam sepakat dalam mengartikan kata khalifah dengan pengertian
mengganti. Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam mendefinisikan pengertian
pengganti tersebut.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
·
Potensi-Potensi
Dasar Manusia dalam Islam dibagi menjadi dua yaitu potensi internal yang
meliputi fitriyah, ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah dan potensi eksternal meliputi potensi huda
(petunjuk) dan potensi alam.
·
Potensi terbagi dua yaitu :
a.
Potensi positif yang meliputi :
1.
Bentuk manusia yang terdiri dari jasmaniyyah dan
jasadiyyah, kedua potensi ini terbentuk karena adanya proses
2.
Fithriyyah yang terdiri dari diniyyah (agama) dan
khairiyyah (kebaikan)
3.
‘Aqliyyah yang terdiri dari fuadiyyah dan qolbiyyah
4.
Ruhiyyah
b.
Potensi Negatif yang meliputi :
1.
Melampaui batas
2.
Zalim (bengis,
kejam, dll)
3.
Tergesa-gesa
4.
Dan lain-lain
·
Peran dan tugas
utama manusia di muka bumi dibagi menjadi dua :
1. Manusia
sebagai ‘aabid yaitu hamba Allah yang memiliki tugas mengabdi kepada Allah
dan bertanggung jawab di muka bumi
2. Manusia
sebagai khalifah yaitu pemimpin di muka bumi. Manusia dilahirkan sebagai
khalifah yang harus mampu mengubah dunia menjadi alam ‘Abdiyah yang terang
benderang
·
Urgensi Pendidikan Islam dalam
menangani potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam Islam adalah
dengan adanya pendidikan islam manusia dapat mengolah atau mempergunakan
potensi dasarnya dengan baik sehingga dapat menjalankan tugas atau fungsinya
sebagai hamba Allah dan Khalifah di bumi dengan baik. Ketika manusia
mempergunakkan potensi dasarnya tanpa pendidikan islam maka manusia tidak dapat
menjalankan tugas atau fungsinya dengan baik dan akan terpacu kepada perbuatan
negatif.
·
Agama islam menggambarkan bahwa
kehidupan manusia itu diartikan untuk mengembangkan potensinya terutama tiga
potensi yang dimilikinnya yaitu potensi fisik biologisnya, intelektual dan
rohaninya, sosiologisnya. Ketika potensi ini harus dikembangkan secara harmonis
dan seimbang.
DAFTAR PUSTAKA
·
Drs. Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran
Al-Ghazali tentang pendidikan
·
H. Abaddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam
·
Dr. Abdul Mujib, M.Ag dan Dr. Jusuf Mudzakir, M.Si, Ilmu
Pendidikan Islam
·
Dr. Abdul Mujib. Kepribadian dalam Psikologi islam (Jakarta:
Rajawali Press, 2006) h. 43-48
·
Prof.Dr. H.Jalaluddin, Teologi Pendidikan
·
Dr. Samsul Nizar, M.A, Dasar-Dasar Pemikiran
Pendidikan Islam
·
Al-Qur’an dan terjemahannya (Depag RI)
[2] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta:
Yayasan Penyelenggara Penerjemah Penafsir Al-Qur’an, 1973) h.319
[3] Al-Qurthubi, Ibn ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad Anshari,
Tafsir Al-Qurthuby (Kairo: Dar al Sa’ab) Juz VI h.5106
[6] Maimunah Hasan, Membangun Kreativitas Anak Secara
Islami (Yogyakarta: Bintang cemerlang, 2002) h.9
[11]
Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah
tentang Konsep manusia dan agama, h.13
[13] Sayyid Authub, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an,
(Jakarta, Gema Insani 2006) h. 633
[15] H. Abaddin Nata, Paradigma
Pendidikan Islam
[16] Drs. Abidin Ibnu Kusn, Pemikiran
Al-Ghazali Tentang pendidikan
