Minggu, 27 September 2015

Kado untuk Ayah


29 Sya’ban 1430 H, Madinatul Bu’uts, Kairo

Semilir angin malam menyapu lamunanku, malam langit Kairo tak bergitu berbintang namun cukup gemilang dengan pantulan cahaya lampu kota yang begitu benderang. Aku menatap langit dari jendela kamar asrama, siluet wajah teduh ayah kembali mulai menyapa lamunanku.

 “Nak, kalau kau gagal di dunia tak usahlah kau terlalu kecewa. Dan kalau kau sukses tak perlulah kau sombong. Karena dunia sebenarnya bukanlah tempat tinggal kita, tapi tempat meninggal.”

Teringat sosoknya, ada beberapa hal yang tak bisa lepas dari ingatanku. Ya, butir-butir nasihatnya yang selalu membasahi relung jiwaku.

Akupun menutup mata, menghela napas.

“Ayah, diriku ini merindu tak karuan, selalu teringat kau dalam setiap kesempatan. Akhir-akhir ini aku gelisah, resah dengan prasangka yang tak terarah. Ingin berjumpa, memelukmu dengan penuh pengabdian dan cinta. Ayah, apakah kau baik-baik saja?” Batinku.  

Hampir 5 tahun sudah aku mengukir cerita di Bumi Kinanah. Mendaki tangga kehidupan yang mudah dan sulit, aku menjejak diantara riuh riak klakson tremco yang membisingkan, berjalan dengan peluh keringat cahaya terik musim panas, duduk bersama debu bangku kuliah, bangkit melawan kantuk hawa musim dingin, tak jarang harus berhemat untuk jaminan keselamatan perutku beberapa bulan kelak.

            Aku yang terlatih bahkan sampai tertatih untuk menimba ilmu dari sumber pengetahuan Islam para ulama Azhar sampai saat ini belum merasa cukup. Dibanding prestasi akademis teman-temanku, mungkin aku berada di strata yang biasa-biasa saja. Tapi boleh jadi, untuk hapalan al-Qur’an, aku bisa melebihi mereka. Ya, cita-citaku adalah memberikan kado untuk ayah, sebuah rumah di surga. Tempat bernaung keluargaku kelak. Dan di Negri seribu menara ini, aku sedang menyicilnya dengan hapalan al-Qur’anku yang sedikit lagi selesai.

“Tinggal dua juz lagi”. Batinku.

Sebelum tidur, aku menorehkan pena, menulis rencana kegiatanku beberapa hari ke depan dalam secarik kertas. Seminggu kemarin, aku telah menyelesaikan ujian termin dua di tingkat akhir kuliahku. Terbesit di pikiranku untuk melanjutkan studi sampai doktoral. Aku tersenyum, memejamkan mata. Angan-anganku melayang membayangkan betapa nikmatnya bisa berada lebih lama belajar di sekitar para ulama. Dan seketika pula siluet ayah dan ibu ikut tersenyum melihatku.

“Ah benar, aku tidak bisa  memutuskan keinginanku sendiri. Nanti aku akan menghubungi mereka. Mereka pasti mengizinkanku.” Batinku penuh keyakinan. Aku memadamkan lampu, menarik selimut, membaca doa dan tertidur.

1 Ramadhan 1430 H, Kairo

            Bulan ini, kelima kalinya aku merasakan puasa di Negeri para Nabi. Selepas muroja’ah dan menyetor hapalan di salah satu markaz tahfidz, aku memang niat mengunjungi maktabah Darussalam. Suhu udara hari ini terik sekali, aku melangkahkan kaki tak peduli. Sesampainya di maktabah aku membeli beberapa buku.

Braaak ....

Tiba-tiba bukuku terjatuh di lantai, bersamaan dengan pandanganku yang jatuh pada bola mata lelaki yang menabrakku. Tanpa sadar pandangan kami bertemu. Tatapannya teduh, sempurna membuat degup jantungku berdetak tak menentu.

“Maaf, apakah mbak baik-baik saja?” Tanyanya dengan nada khawatir.

Aku berdehem. Memasang tampang muka kesal. Cepat aku berdiri merapihkan baju dan bukuku.

“Tidak apa-apa. Lain kali, kalau jalan liat-liat ya mas.” Jawabku ketus.

Aku memalingkan wajah, pergi begitu saja. Sempurna aku berpura-pura.

“Tatapan teduhnya, wajahnya yang tak asing. Sepertinya aku mengenalnya?” batinku.

Tak ambil pusing, aku segera mencari tremco, pulang menuju asrama. Tiba-tiba ponselku berdering. Mataku sigap membaca pesan masuk dari bibi.

“Assalamualaikum nay, kapan kamu pulang ke tanah air? Ibumu sudah semakin tua. Segeralah pulang nak, orang tuamu selalu mengharapkan kedatangan anaknya. Ibu dan ayahmu sudah tidak sanggup bekerja lagi. Saran bibi, kau lanjutkan saja s2-mu dan bekerja lah sambil merawat ayahmu yang saat ini sedang sakit. Wasalam.”

Belum sempat aku utarakan keinginan untuk melanjutkan doktoral di Mesir. Ternyata Allah berencana lain.

”Tidak apa-apa.” Aku berkata pelan, menelan ludah kecewa.

Aku merubah pikiranku untuk mencari tremco. Aku memutuskan berjalan kaki dari darasah menuju asrama. Ya tak apalah, aku membutuhkan suasananya, berjalan sendirian.

28 Dzul Qa’dah 1430 H, Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia

Aku menarik koperku menuju pintu keluar kedatangan. Aku tersenyum senang membayangkan wajah kedua orang tuaku ketika nanti kutunjukkan ijazah kelulusan tahfidz sekaligus kuliahku. Entah bagaimana perasaanku mencari-cari wajah orang tuaku di antara kerumunan orang yang menunggu. Hari ini, rinduku tak perlu lagi dipelihara dalam diam, atau ku luapkan pada langit malam. Akan ku tuntaskan, ku luapkan rindu yang sudah tak terbendung untuk disimpan.

Mataku seketika itu memanas melihat wajah ayah dari sebrang jalan. Ibu dan bibi berjalan di belakangnya. Ayahku tergopoh-gopoh menyebrang jalan tak sabar, bersamaan ketika air mataku mengalir tanpa diperintahkan. Aku terharu melihat wajah ibu dan ayah yang tersenyum begitu sumringah.

Ciiiiiittt,,, braaaak

Suara dentuman mobil tiba-tiba menghentikan air mataku. Ibu seketika diam terpaku. Aku dan bibi berlari menuju ayah yang sudah terbaring di jalan. Kerumunan orang yang menunggu sanak keluarganya, kini berpindah mengerumuni lokasi tabrakan. Petugas kesehatan bandara berlari menuju lokasi.

Aku duduk terdiam disamping tubuh ayah. Telingaku tak lagi mendengarkan pertanyaan dan seruan orang-orang yang sedari tadi semakin berkerumun mendekatiku. Mataku sibuk menatap lekat-lekat tubuh yang tergeletak lemas tak berdaya, seperti sudah tak bernyawa.

Salah satu petugas segera memberikan pertolongan pertama dan memeriksa urat nadinya. Dia pun duduk mendekatiku.

“Sudah tidak bisa diselamatkan, maaf mbak kita terlambat.” Katanya dengan nada penuh penyesalan.

Ibu tak mampu bicara, hanya  menepuk-nepuk dada dengan air mata di pipinya. Ritme napasku kini semakin tak beraturan, perasaanku sudah tak karuan. Kali ini, entah air mata apa yang turun semakin deras berjatuhan. Aku menggenggam erat tangan ayah, ada sepenggal senyum selamat tinggal terukir di bibirnya.

“Ayah, semoga kau suka dengan kadomu di surga.” Batinku perih.

 

 

       Ide cerita              : Iif Thoyibah

Dikarang oleh      : Rakhmi Vegi Arizka

 

 

 

 

 

Dilema yang ‘Beragama’


Disebelah sana, di Negeri “Paman Sam” bukan main, bukan main gegap gempitanya rakyat yang beseru bahwa LGBT (Lesbian, Gay Biseksual dan Transgender) telah disahkan di seluruh Amerika Serikat. Bisa jadi, semboyan “Hiduplah kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan!”, “hiduplah Liberté, égalité dan fraternité!” dalam bahasa Perancis ini, dikumandangan dengan keberanian seperti meriam yang lepas dari senapannya. Semboyan “Love Wins” bak gemerlap kembang api diluncurkan ke langit, pertanda riuh kemenangan telah bangkit.

Disebelah sini, di Negeri “Macan Asia yang Tertidur” gerakan eksklusif kaum puritan (kaum yang merasa paling suci) gempar sekali lagi! Gempar karena mendengar semboyan kaum yang menyuarakan “Islam Nusantara” yaitu, islam yang bersifat terbuka dan toleran terhadap ajaran agama lain dan budaya keindonesiaan. Dan mereka gempar, maha gempar tatkala menyimpulkan bahwa manuver kelompok yang menyusung semboyan ini tak lebih untuk menyajikan sekulerisme dalam kemasan baru dan juga menyingkirkan Arab sentris.

Sana mau kesana, sini mau kesini. Begitulah kurang lebih gambaran pertentangan antar suatu golongan. Ini bukan lagi siapa yang mendukung LGBT atau menolak ide Islam Nusantara. Tulisan ini bukan untuk memihak. Ya, rubrik kolom ini berisi tulisan bebas dengan tema bebas namun, sepaket dengan tanggung jawabnya. Kebebasan berbanding lurus dengan tanggung jawab bukan? Semakin besar kebebasan yang kita lakukan, semakin besar pula tanggung jawab yang diberikan.

Begitu pula seharusnya manusia. Terlebih, manusia-yang katanya-beragama. Namun realitanya, sebagian mereka yang beragama terkadang melantangkan kebebasan namun menafikan tanggung jawab yang dibebankan. Merasa bebas untuk bersuara, mengemukakan pendapat, selalu merasa dirinya paling tepat. Tak jarang apa yang dikatakan ternyata bisa menyakitkan bagi yang mendengarkan. Tak bertanggung jawab meminta maaf, mereka bersi keras bahwa yang tersakiti, yang seharusnya sadar diri.

Padahal, apa yang diyakini masing individu bisa jadi berbeda dengan yang lainnya. Maka lahirlah dua kubu yang berbeda, saling tolak-menolak. Sebelah sana menyuarakan kebenaran, sebelah sini menganggap yang disana punya banyak kesalahan. Tak cukup disitu. Sebagian dari mereka yang beragama terkadang selalu mengoreksi, tapi tak mau dikoreksi. Selalu mengawasi, tapi tak mau diawasi. Selalu mengatur, tapi tak mau diatur. Mungkin hal-hal seperti itulah yang bisa membuat agama mereka hancur, mungkin.

Perang media massa, elektronik bahkan sosial tidak dapat dihindarkan. Mau tidak mau terjadi ‘perang saudara’ dalam agama yang sama. Mungkin inilah sebab kelebihan penduduk atheis dari penduduk-yang katanya-beragama. Mereka merasa aman di tengah-tengah penduduk tanpa iman, sementara yang beragama merasa tidak nyaman berada di anatara mereka yang (mengaku) beriman.

Mengkrucut kepada mereka yang beragama, acap kali mereka berdakwah ataupun berdiskusi dengan memaparkan kesalahan golongan yang mereka anggap menyimpang dari kebenaran. Bagi sebagian mereka yang mencari kebenaran, forum disana diikuti, forum disini disimaki. Namun terkadang terjadi pergolakan hati tatkala kedua forum malah saling menghakimi dikarenakan berbeda sudut pandang. Keduanya beranggapan mengungkapkan kebenaran namun yang terdengar adalah saling merendahkan.

Teringat perkataan Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar yang kurang lebih mengungkapkan bahwa antara ghibah dan nasihat itu beda tipis. Wajib bagi kita untuk memaparkan kesalahan sebagai nasihat. Namun, apabila kita memberi nasihat dengan memaparkan kesalahan golongan yang berbeda dengan kita menggunakan redaksi yang merendahkan (mengolok), bisa jadi itu merupakan ghibah maka hukumnya menjadi haram.

Inilah dunia dengan anomalinya. Hal yang tidak sesuai dengan seharusnya terjadi. Seharusnya mereka yang mengimani Tuhan yang sama hidup saling rukun, damai tentram dan bahagia. Ternyata yang ada malah saling caci-maki membela kepentingan yang berbeda. Saling ingin mendapatkan prestise di mata dunia, mereka tidak mau di cela.

Kalau kata penulis Azhar Nurun Ala,“Dunia semakin pintar menggoda, kita semakin mudah dirayu.” Ya, kurang lebih begitulah tipu muslihat dunia yang membuat kita ingin menjadi jagoan, pahlawan kebenaran namun ternyata  kita sedang menapaki jalan kesesatan. Bukan begitu? Wallahu’alam.